UPACARA PERKAWINAN
Kategori Paritta / Group Paritta / Sub Group Paritta / Paritta

No
Paritta
Hal
UPACARA PERKAWINAN
1
UPACARA PERKAWINAN

UPACARA PERKAWINAN1

1.  MEMASUKI TEMPAT UPACARA
Kedua mempelai memasuki tempat upacara (keduanya membawa bunga) menuju kehadapan altar YMS Buddha Gotama dengan  diiringi oleh orangtua atau wali masing-masing, para saksi, sanak keluarga, dan handai taulan.  Pandita dan petugas telah siap di tempat masing-masing.
 
2.  PERSEMBAHAN BUNGA DAN BUAH
Kedua mempelai mempersembahkan  bunga, kemudian mempersembahkan buah, yang diletakkan di atas meja altar secara bersama-sama.
 
3.  TANYA JAWAB
Semua yang hadir duduk di tempat yang telah disediakan: kedua mempelai duduk di baris pertama (pria di sebelah  kanan wanita), baris kedua duduk para orangtua atau wali, baris ketiga adalah para saksi, baris keempat dan  seterusnya adalah sanak keluarga dan handai taulan.
a.  Kepada kedua mempelai ditanyakan apakah ada ancaman atau paksaan yang mengharuskan mereka melakukan upacara secara agama Buddha, apabila tidak ada dan tidak ada pihak-pihak yang keberatan maka acara dapat dilanjutkan.
b.  Pandita bertanya kepada mempelai pria: ʺApakah saudara (X) bersedia menerima saudari (Y) sebagai isteri yang sah?ʺ Apabila dijawab  dengan ʺYaʺ oleh mempelai pria, acara dapat dilanjutkan dengan bertanya kepada mempelai wanita: ʺApakah saudari (Y) bersedia menerima saudara (X) sebagai suami yang sah?ʺ Apabila dijawab dengan ʺYaʺ oleh  mempelai wanita maka acara dapat dilanjutkan.
 
4.  PENYALAAN LILIN
Kedua orangtua atau wali mempelai pria menyalakan lilin biru dan kuning, kedua orangtua atau wali mempelai wanita menyalakan lilin putih dan jingga; sedangkan lilin merah dan lilin utama dinyalakan oleh pandita.
 
5.  PEMBUKAAN UPACARA PERKAWINAN
Setelah lilin dinyalakan, pandita menyalakan dan memasang dupa wangi 3 batang, selanjutnya memulai upacara dengan memimpin seluruh hadirin untuk bernamaskara.
 
6.  PEMBACAAN IKRAR PERKAWINAN
Kedua mempelai masing-masing memegang 3 batang dupa wangi dan membacakan Ikrar Perkawinan  dengan dipandu oleh pandita:
 
Mempelai pria:
ʺNamo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassaʺ (tiga kali)
 
ʺSaya mohon kepada semua yang hadir di sini untuk bersedia menjadi saksi bahwa pada hari ini (sebutkan  hari, tanggal, bulan, dan tahun) saya (X) mengikat tali perkawinan dengan (Y) dihadapan altar Yang Maha Suci Buddha Gotama, dan saya berikrar untuk:

  1. Selalu menghormati isteri saya
  2. Selalu bersikap lemah lembut kepada isteri saya
  3. Selalu setia kepada isteri saya
  4. Memberikan kewenangan tertentu kepada isteri saya
  5. Memberikan perhiasan kepada isteri saya
  6. Rajin dan bersemangat mencari nafkah untuk keluarga.

Mempelai wanita:
ʺNamo  tassa  bhagavato  arahato  sammāsambuddhassaʺ (tiga kali)
 
ʺSaya mohon  kepada semua yang  hadir disini untuk bersedia menjadi saksi bahwa pada hari ini (sebutkan  hari, tanggal, bulan, dan tahun) saya (Y) mengikat tali perkawinan dengan (X) di hadapan altar Yang Maha Suci Buddha Gotama, dan saya berikrar untuk:

  1. Selalu memperhatikan kepentingan seluruh anggota keluarga
  2. Selalu bersikap ramah kepada sanak keluarga dari kedua belah pihak
  3. Selalu setia kepada suami saya
  4. Menjaga dengan baik apa yang diperoleh oleh suami saya
  5. Selalu belajar agar pandai dan tidak malas dalam bekerja
  6. Mernatuhi semua petunjuk suami saya yang baik

Setelah selesai membaca ikrar kedua mempelai masing-masing menancapkan dupa di altar dan kemudian bernamaskara secara bersama-sama tiga kali.
 
7.  PEMASANGAN CINCIN KAWIN
Kedua mempelai duduk saling berhadapan, dimulai dengan pemasangan cincin oleh mempelai pria dan  diikuti oleh mempelai wanita.
 
8.  PENGIKATAN PITA KUNING DAN SELUBUNG KAIN KUNING
Kedua mempelai menghadap ke altar dan bersikap anjali, lalu pandita menghubungkan tangan kedua mempelai dengan pita kuning.
Pandita lalu meminta orang tua atau wali mempelai pria untuk  memasang  selubung  kain  kuning  kepada kedua mempelai.
 
9.  PEMERCIKAN AIR PEMBERKAHAN
Pemercikan dimulai oleh orangtua atau wali mempelai pria, diikuti dengan orangtua atau wali dari mempelai wanita; lalu terakhir pandita memercikkan air sambil membacakan gatha pemberkahan.
 
10. DHAMMADESANA
Pandita memberikan wejangan kepada kedua mempelai khususnya dan kepada para hadirin umumnya tentang tuntunan hidup berkeluarga menurut agama Buddha.
 
11. PENGLEPASAN KAIN KUNING DAN PITA KUNING
Orangtua atau wali mempelai wanita melepaskan selubung kain kuning dan pandita melepaskan pita kuning.
 
12. PENANDATANGANAN IKRAR PERKAWINAN2
Penandatanganan Ikrar Perkawinan oleh kedua mempelai, diikuti dengan penandatanganan oleh orangtua atau wali dari kedua belah pihak dan para saksi. Terakhir pandita membubuhkan tanda tangannya.
 
13. PENUTUPAN UPACARA PERKAWINAN
Pandita memimpin seluruh hadirin untuk bernamaskara menutup upacara perkawinan.
_________________________
1   Dikutip dari Upacara Perkawinan Menurut Tata Cara Agama Buddha, P.P. Magabudhi.
2   Formulir Ikrar Perkawinan akan diberikan oleh pandita pelaksana upacara.

10

Hal: << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
menu SASANA SUBHASITA
menu