Berita / Ceramah

Jadilah Pulau Bagi Dirimu Sendiri


Puja Bakti Sasana Vimana
Minggu, 13 Januari 2019
Vihara Sasana Subhasita
Dhammadesana Oleh : YM. Bhikkhu Virasilo
Tema Dhamma : Jadilah Pulau Bagi Dirimu Sendiri


Kebijaksanaan & pendewasaan diri dapat diraih lewat pelatihan diri di tempat yang sunyi, bukan di tempat yang hiruk-pikuk dunia gemerlap. Namun anak muda pada masa sekarang ini lebih banyak yang suka pada dunia gemerlap, termasuk saat puja bakti menginginkan yang ramai dan gemerlap daripada yang tenang & sunyi. Padahal hal tersebut bila berlebihan bisa membawa mereka pada kegalauan dan ketidak seimbangan batin.

Saat berada pada tempat yang sunyi seperti di Vihara, kita akan bisa melatih kebijaksanaan kita dengan banyak merenung tentang cinta kasih serta belajar pengendalian diri misalnya lewat meditasi, sehingga saat kita masuk ke masyarakat kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih diterima oleh masyarakat.

 

Selain itu di Vihara kita bisa membaca Paritta yang merupakan anjuran-anjuran Guru Agung Sang Buddha. Jika kita membaca Paritta dengan baik & tahu artinya maka kita akan lebih sadar dan mendapatkan arah dalam menjalani kehidupan ini.

 

Dalam salah satu Sutta yang dibabarkan oleh sang Buddha, dikisahkan bahwa ada seorang Raja Bijaksana yang memerintah saat usia manusia rata-rata 80.000 tahun. Ia memiliki sebuah Cakkhavatti (Roda Kebijaksanaan) yang terus beruputar secara seimbang. Suatu hari roda tersebut menjadi tidak seimbang, bergeser dari posisinya, yang menandakan ia harus lengser dan digantikan oleh putranya. Kemudian ia mengajarkan Puteranya untuk menggunakan Dhamma saat memerintah. Puteranya pun memerintah dengan baik hingga keturunan ke-7. Namun selanjutnya mulai terjadi kekacauan. Raja memerintah dengan sedikit kekejaman. Suatu ketika ada masyarakatnya yang lapar kemudian ia mencuri. Ia ditangkap oleh masyarakat dan dibawa ke hadapan Raja. Raja yang melihat pencuri itu merasa iba dan bertanya mengapa ia mencuri. Pencuri tersebut menjawab karena ia lapar. Kemudian Raja memberikannya harta kekayaan agar ia tidak lapar lagi. Masyarakat lain yang melihatnya iri dengan pencuri itu. Akhirnya orang-orang yang iri melakukan pencurian dan raja pun memberikan harta kekayaan kepada mereka. Lama kelamaan Raja menyadari hal ini dan melihat banyak terjadi pencurian di Masyarakat. Akhirnya Raja memberlaklukan hukum memenggal kepada orang yang melakukan pencurian.

 

Hal ini memicu perlawanan dari masyarakat sehingga mereka melawan dengan tombak, pedang dan senjata tajam lainnya. Semakin lama keadaan semakin kacau. Banyak orang yang melakukan kebohongan, pencurian, pembunuhan, penyelewengan dengan pasangan hidup orang lain serta bermabuk-mabukan.

Mulai dari itu banyak moralitas yang dilanggar oleh masyarakat sehingga rata-rata umur manusia turun dari 80.000 tahun hingga menjadi 10 tahun. Hidup manusia menjadi begitu singkat karena banyaknya pelanggaran moralitas, bahkan manusia sudah menikah pada umur 5 tahun.

Di tengah kekacauan itu akan muncul orang bijaksana dalam jumlah yang sedikit dan mereka mulai menghindar untuk tinggal di hutan menjalankan Dhamma, terutama yang paling dasar yaitu Pancasila Buddhis. Menjadi orang yang bijaksana. Orang Bijaksana tersebut lantas menyadarkan masyarakat yang kacau. Ia memiliki banyak pengikut sehingga meningkatkan moralitas masyarakat sehingga umur manusia secara bertahap akan kembali hingga 80.000 tahun.

Sang Buddha selalu mengatakan: "Para Bhikkhu, jadilah Pulau & Pelindung bagi diri kalian sendiri". Dhamma sesungguhnya adalah sesuatu yang universal dan bisa dipraktekkan oleh setiap orang meskipun ia bukan Buddhis. Dengan melaksanakan Dhamma, tiap-tiap orang bisa menjadi pelindung bagi dirinya sendiri, apalagi jika didukung oleh kebijakan-kebijakan lain seperti cinta kasih, moralitas, dana, bhavana dan lainnya.

 

Dalam bermasyarakat, kita akan bertemu dengan orang lain yang berbeda-beda. Ada yang berkecukupan dan ada yang kekurangan. Saat bertemu orang yang kekurangan kita memiliki kesempatan untuk membantu orang tersebut dengan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka misalnya makanan, pakaian ataupun kebutuhan lainnya yang sesuai, semua itu adalah bentuk dari dana. Dengan memberikan dana kita bisa mengembangkan kemurahan hati.

 

Kita mempraktekan Sila dengan tujuan untuk pengendalian diri. Terkadang ada manusia yang memiliki sifat buruk yang dominan, misalnya saat kita disakiti kita akan cenderung ingin membalas untuk menyakiti. Dengan melaksanakan sīla kita akan menjadi lebih sadar, kita akan tahu akibat dari setiap perbuatan yang kita lakukan, itu adalah pengendalian diri. Pengendalian diri muncul karena kebijaksanaan. Saat kita memiliki kebijaksanaan, kita akan memiliki tahapan-tahapan berpikir akan akibat dari perbuatan yang hendak dilakukan. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita akan cenderung menghindari pelanggaran sīla, karena menyadari akibat yang akan ditanggung.

 

Manfaat dari Merawat Sila:

Bebas dari penyesalan, menghadiri pertemuan dengan penuh percaya diri, tercapainya kekayaan lahiriah dan batiniah, kelahiran ulang di surga, serta lenyapnya pengotor-pengotor batin.

 

Sila bisa dijalankan oleh semua orang tanpa harus menjadi Buddhis. Jika menjalankan Sila hidup kita akan damai, jika sebaliknya maka akan kacau.

Ketika menjalankan Sila, seseorang seperti menggunakan perhiasan terindah. Perhiasan yang asli cenderung berbahaya untuk dipakai. Saat memakai perhiasan asli kita memiliki risiko untuk dicopet atau dirampok sehingga bisa kehilangan nyawa. Namun indahnya perhiasan dalam bentuk moralitas/sīla tidaklah demikian. Indahnya perhiasan dalam bentuk sīla bisa dipakai siapapun, cocok dipakai di manapun & kapanpun.

Ketika kita memiliki sīla, kita akan menjadi istimewa, orang-orang yang berniat jahat akan segan karena mereka tahu bahwa kita adalah orang yang bermoral.

 

Kita harus menjadikan Dhamma sebagai perlindungan. Ketika Dhamma dijadikan sebagai perlindungan dengan cara mempraktikkannya,maka kita akan terlindungi oleh diri sendiri.

 

Akibat jika tidak merawat Sila

Jika tidak merawat/melaksanakan sīla, Sang Buddha mengumpamakan seperti layaknya tanah pemakaman, yang memiliki ciri, yaitu:

-       Tanahnya tidak murni. Demikian juga orang yang melanggar sīla, perbuatannya tidak murni karena pelanggaran sīla-sīla tersebut.

-       Berbau busuk. Demikian juga orang tersebut akan dikenal sebagai orang yang bereputasi buruk.

-       Berbahaya. Sama halnya orang yang jahat, ia menjadi ancaman bagi orang baik di sekitarnya.

-       Menjadi tempat berkumpulnya makhluk-makhluk jahat. Seperti halnya orang jahat tidak bisa berkumpul dengan orang baik, sebab kejahatannya dapat diketahui. Sebaliknya saat orang baik berkumpul dengan orang jahat maka akan terkena dampak dari kejahatan itu.

-       Menjadi tempat pecahnya tangisan. Karena disana adalah tempat manusia berpisah dengan orang yang dicintai. Begitu juga si pelanggar sīla akan menjadi sumber kesedihan keluarganya karena keburukan yang lakukan.

 

Dengan menjalankan sīla & Dhamma dengan baik, kita akan membuat pulau/perlindungan bagi diri kita sendiri. Berusahalah sebaik mungkin dalam menjalankan Dhamma & Sīla.

 

Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan: Bhante, jika ada orang dalam kesulitan lantas meminta petunjuk di depan altar apakah itu perbuatan yang salah?

Jawaban: Tidak ada yang salah dengan perbuatan itu, karena ada dewa yang bisa membantu kita. Memberi solusi dari permasalahan hidup atau kesulitan kita.

Bisa saja dewa itu adalah leluhur kita yang memiliki kebajikan yang tinggi sehingga lahir sebagai dewa dan peduli terhadap manusia. Selain itu  tetap harus didukung oleh kebajikan.

 

Jika pernah mengalami suatu peristiwa buruk berupa kesulitan dan akhirnya bisa mendapat solusi maka ke depannya kita bisa menjadi penolong untuk orang lain misalnya dengan berbagi pengalaman hidup. Sejatinya, kebijaksanaan muncul dari pengalaman hidup kita sendiri, ketika kita menjadi bijaksana maka kita bisa membantu orang lain dengan membagikan pengalaman hidup kita. Sebagai contoh orang orangtua, sahabat baik, para bhikkhu dan juga motivator yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

 

Demikian pengulangan Dhammadesana yang disampaikan.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sādhu, Sādhu, Sādhu

 

Dirangkum oleh: Andrew Prasetyo.

Artikel sudah diperiksa & diizinkan untuk dipost di Website ini oleh YM. Bhikkhu Virasilo.




Related Postview all

Mengenali Diri Sendiri Untuk Hidup Bahagia

access_time14 Januari 2019 - 15:59:40 WIB pageview 2775 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Apa yang dicari oleh manusia??KEBAHAGIAAN Mengapa manusia tidak bahagia??1. Ada "sesuatu" yang membuat tidak bahagiaDiantaranya: ... [Selengkapnya]

Ibuku Pejuangku

access_time18 Desember 2018 - 13:35:59 WIB pageview 2038 views

Ibuku Pejuangku; semua dari kita pasti setuju bukan? Karena memang Ibu kitalah yang berjuang dengan hidupnya ketika melahirkan kita. Peranan keluarga dalam pertumbuhan anak diantaranya ... [Selengkapnya]

Dimanakah Kemelekatan itu Berada?

access_time10 Desember 2018 - 14:16:30 WIB pageview 7526 views

Ketika seorang pemburu pergi berburu kera dengan membuat jebakan kera berupa tongkat yang ditancapkan ke tanah kemudian diikatkan batok dengan lubang sebesar tangan kera. Batok kelapa ... [Selengkapnya]

Penyebab Keruntuhan dan Kehancuran

access_time05 Desember 2018 - 16:58:16 WIB pageview 2397 views

Ketika Raja Pasenadi dari Kosala bertanya kepada Sang Buddha mengenai apa arti kehidupan; untuk apa hidup dan apa yang harus kita perbuat dalam hidup?Sang Buddha menjawab Raja Pasenadi ... [Selengkapnya]

Hingga Akhir Waktu

access_time05 Desember 2018 - 16:52:27 WIB pageview 2216 views

Sharing narasumber dalam poses mencari jati diri menemukan 'agama' yang sesuai dengan keyakinan.Sejak kecil karena lingkungan sekolah mengarahkan untuk beragama 'K'.Bagi seorang anak kecil ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu