Berita / Ceramah

Mengelola Kehidupan dengan Lebih Baik


Puja Bakti Umum
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 27 September 2026
Dhammadesanā: YM. Bhikkhu Jāgaro Mahāthera
Tema Dhamma: Mengelola Kehidupan dengan Lebih Baik
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)
Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x)

Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁti.
Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai, Itulah Berkah Utama.


Adalah kebahagiaan yang teramat sangat meluangkan waktu untuk berkumpul, mendengar, dan mengulang kembali Dhamma Ajaran Sang Buddha Guru Agung kita.

Semua yang berkumpul di sini ‘tidak sama’. Apa yang membuat kita beda? Dulu dengan sekarang beda tidak? Dulu baik sekarang jelek ataukah dulu jelek sekarang menjadi baik? Yang manakah kita?

Guru Agung Buddha mengajarkan kepada kita untuk dapat memahami fenomena yang sesungguhnya, bukan yang semu, bukan gambaran ataupun intuisi belaka. Hidup ini adalah realita yang harus kita jalani secara realistis. Ketika lahir ibarat kertas putih yang seiring perjalanan kehidupan menjadi penuh dengan warna warni dan corat coret tak menentu. Lahir baik apakah menjadi jaminan untuk tetap menjadi baik atau justru sebaliknya malah berubah menjadi buruk? Yang membuat kita sekarang menjadi berbeda, menjadi berubah adalah kebiasaan.

Jika memiliki kebiasaan yang baik maka akan berubah menjadi lebih baik; sebaliknya jika mengisi kehidupan dengan kebiasaan-kebiasaan yang buruk maka tentu saja akan menjadi buruk. Kita semua berubah karena kebiasaan-kebiasaan yang secara sadar maupun tidak sadar kita lakukan secara terus menerus. Kita tidak bisa menjamin bahwa kita adalah orang yang baik secara murni. Jadi kita adalah orang jelek? Tidak perlu marah jika kita dikatakan jelek karena pada kenyataannya memang lebih banyak kebiasaan-kebiasaan jelek yang membentuk kita menjadi seperti sekarang ini. Untuk itulah maka kita harus membiasakan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi orang baik. Seperti kisah Aṅgulimāla pembunuh kejam berkalung jari manusia pada zaman Buddha yang akhirnya bertobat dan mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat).

Apakah jika sudah tua tidak bisa menjadi orang baik? Tentu saja bisa, karena untuk menjadi orang baik itu tidak ada kata terlambat. Kalau begitu, apakah kita menunggu tua untuk menjadi orang baik? Tentu tidak, karena tidak semua orang bisa mencapai usia tua. Kematian bisa datang kapanpun tanpa menunggu usia tua. Ukuran menjadi orang baik tidak dilihat dari usia, tidak dilihat dari jabatan, tidak dilihat dari gelar, tidak dilihat dari status sosial, bahkan yang ‘berjubah’ sekalipun. Siapapun bisa berubah menjadi baik. Anak-anak yang membiasakan diri dengan kebaikan-kebaikan sejak dini, demikian pula dengan orang-orang yang sudah tua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang baik.

Guna menjadi manusia yang lebih baik ada tiga sudut pandang Buddha Dhamma untuk memahami sifat asli segala fenomena kehidupan kita sebagai manusia yang terikat dengan kesenangan duniawi dan cara mencapai pembebasan.

1. Assāda (Kesenangan / Kenikmatan)
adalah kepuasan, kenikmatan atau rasa suka yang muncul dari pengalaman indriawi terhadap objek tertentu. Kesenangan buatan pikiran (atau kepuasan indriawi) yang muncul dari persepsi keliru. Manusia cenderung mengejar objek indriawi karena menganggapnya membawa kebahagiaan sejati. Rasa kehidupan baik secara materi (manis, pahit, getir, kasar, lembut) maupun batin (senang, sedih, kecewa, marah) muncul karena kewajaran yang menjadi sifat mendasar dari kehidupan. Ketika muncul rasa senang maka pahami sebagai rasa senang, cukup sebagai kewajaran. Rasa senang muncul tentu karena ada sebabnya (misal; karena mendapatkan sesuatu yang diinginkan). Sama halnya dengan rasa senang; tentunya rasa sedih, kecewa, menyesal pun dapat muncul (misal: karena berpisah dengan yang disenangi) hendaknya juga dipahami sebagai suatu kewajaran.

2. Ādīnava (Bahaya / Konsekuensi Buruk)
adalah bahaya, cacat, penderitaan bawaan, atau akibat tidak baik yang timbul karena ketidakkekalan dari hal-hal yang memberikan kepuasan tersebut. Dampak negatif, bahaya, atau ketidakpuasan yang melekat pada kesenangan tersebut. Karena segala hal bersifat tidak kekal (anicca), mengejar assāda akan memicu perbuatan buruk (akusala kamma) dan berujung pada buah perbuatan (vipāka) yaitu penderitaan.
Rasa yang muncul akan menjadi bahaya jika tidak dikelola dengan baik. Apapun rasa yang muncul hendaknya kita melihat sesungguhnya kehidupan, menyadarinya sebagai kewajaran. Hendaknya kita pandai mengelola rasa dengan baik; memperhatikan dan tidak mengumbar rasa yang muncul. Ketika rasa dapat dikelola dengan baik maka kita tidak akan terjerumus, terhanyut, terbawa oleh rasa tersebut. Tidak terhanyut oleh kesedihan berkepanjangan maupun kebahagiaan yang tak terkendali. Hati-hati dengan bahaya dari rasa. Rasa senang maupun tidak senang pada dasarnya membawa dukkha – menimbulkan penderitaan.

3. Nissaraṇa (Pembebasan / Jalan Keluar)
adalah rasa tidak terikat untuk lepas dari penderitaan dan kemelekatan. Lepas atau bebas dari jeratan kenikmatan duniawi dan bahayanya. Ini dicapai dengan melatih kedisiplinan pikiran, kerelaan melepas (caga), serta memahami realitas tanpa kemelekatan untuk mengakhiri samsara. Ketika kita bebas tanpa ketergantungan tanpa kemelekatan tanpa keterikatan dengan perasaan-perasaan tersebut maka itulah sesungguhnya tujuan utama hidup kita. Bebas tanpa keterikatan dengan apa yang disenangi maupun yang tidak disenangi; netral tak bergeming diantara ketidak-sesuaian.
Seperti dalam Dhammapada (Sukha Vagga / kategori Kebahagiaan) pada syair 197 dan 199:
• Syair 197 – Tanpa Kebencian: "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci."
Mengajarkan kita untuk tidak membalas amarah dengan amarah agar batin tetap tenang.
• Syair 199 – Tanpa Keserakahan: "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan."
Mengajarkan kita untuk melepaskan diri dari ikatan nafsu keinginan yang berlebihan.

Konsep Assāda (kenikmatan), Ādīnava (bahaya), dan Nissaraṇa (jalan keluar/pembebasan) dibahas secara eksplisit di beberapa sutta penting.
1. Aṅguttara Nikāya (Koleksi Numerik) - Sambhōdhi Vagga (Kelompok tentang Pencerahan), pada Pubbeva Sambodha Sutta (AN 3.101 / AN 3.103): dan Loka Assada Sutta (AN 3.102)
2. Majjhima Nikāya (Koleksi Khotbah Menengah) - Mahādukkhakkhandha Sutta (MN 13 - Khotbah Besar tentang Setumpuk Penderitaan)
3. Saṃyutta Nikāya (Koleksi Khotbah Berkelompok) - Assāda Sutta (SN 22.26 - SN 22.28)

Sang Buddha telah mengajarkan bagaimana mengelola kehidupan kita sendiri. Mengetahui rasa yang timbul. menyadari dan memahami bahaya dari melekat pada rasa baik bahaya bagi diri sendiri maupun bagi orang lain sehingga berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan duniawi tanpa kemelekatan.


Demikian yang dapat dituliskan kembali. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pendengaran dan pemahaman. Semoga kita semua mendapatkan manfaat tertinggi dari pengulangan Dhamma ini.

Semoga jasa Kebajikan ini mengalir ke arah kehancuran noda-noda batin,
Semoga jasa Kebajikan ini menjadi kondisi untuk realisasi Nibbāna,
Saya mendedikasikan jasa Kebajikan ini kepada mendiang mama tercinta Ng Kim Suan.
Saya membagikan jasa Kebajikan ini kepada semua makhluk,
Semoga mereka semua mendapatkan bagian Kebajikan yang sama dengan saya.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻




Related Postview all

5 Hal Penting Dalam Kehidupan Saat Ini

access_time16 Desember 2025 - 13:34:46 WIB pageview 2279 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Kiccho manussa ... [Selengkapnya]

Atasi Stres Dengan STRESS

access_time21 November 2025 - 22:45:03 WIB pageview 1822 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Ārogyaparamā ... [Selengkapnya]

Memberi Tepat, Menambah Banyak

access_time04 November 2025 - 19:40:36 WIB pageview 2366 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Kālena ... [Selengkapnya]

Harapan Orangtua Merupakan Kewajiban Anak

access_time29 Oktober 2025 - 20:08:12 WIB pageview 2382 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Kālena ... [Selengkapnya]

Berkah Dari Melepas

access_time16 Oktober 2025 - 10:42:15 WIB pageview 2448 views

PendahuluanHidup adalah rangkaian peristiwa datang dan pergi. Sama seperti tubuh memerlukan makanan dan minuman untuk bertahan hidup, batin kita juga menerima “asupan” dari apa ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu