Berita / Ceramah

5 Hal Penting Dalam Kehidupan Saat Ini


Puja Bakti Umum
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 23 November 2025
Dhammadesanā: Samanera Hirirato
Tema Dhamma: 5 Hal Penting Dalam Kehidupan Saat Ini
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)
Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x)

Kiccho manussa patilābho
kiccham maccāna jivitam
kiccham saddhamma savanam
kiccho buddhānam uppādo
(Dhammapada XIV : 182)
Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia
sungguh sulit kehidupan sebagai manusia
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.


Apakah kita menyadari berapa banyak hal baik yang telah kita lakukan sejak pagi hari ini sebelum datang menghadiri puja bakti di vihara? Mulai dari niat baik pergi ke vihara sudah merupakan satu hal baik yang dilakukan melalui pikiran. Kemudian sampai di vihara; melakukan puja bakti – kebaikan ke-2; meditasi – kebaikan ke-3; memperbaharui sīla – kebaikan ke-4; mendengarkan dhammadesanā – kebaikan ke-5. Dalam 1 rangkaian saja, sudah 5 jenis kebajikan yang sudah kita lakukan. Tentunya kita merasa senang dapat berbuat baik.

Terlahir sebagai manusia merupakan suatu karma baik, suatu keberuntungan, suatu kebahagiaan. Mengapa dikatakan demikian? Alam Manusia (Manussa loka) adalah terbaik di antara 31 alam kehidupan sebab hanya di alam manusia inilah kita mendapat kesempatan terbesar untuk mengembangkan kebijaksanaan dan mencapai Pencerahan. Manusia mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan dalam bagian yang sama. Hanya manusia saja yang dapat melakukan 2 hal yaitu kusala-kamma (karma baik) dan akusala-kamma (karma buruk).
Sedangkan makhluk yang terlahir di 4 alam menderita (alam: asura/raksasa, setan, binatang, dan neraka) di bawah alam manusia hanya dapat ‘memanen’ karma buruk yang telah dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Makhluk di alam rendah mengalami demikian banyak penderitaan sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa; sangat tidak mungkin bagi mereka untuk dapat berbuat baik; mereka hanya dapat berharap mendapatkan limpahan jasa kebajikan dari sanak keluarga yang masih hidup.
Sementara 26 alam bahagia (alam: Deva dan Brahma) di atas alam manusia menikmati kebahagiaan yang demikian tinggi, sedemikian rupa sehingga mereka tidak terdorong untuk mengembangkan batinnya; hanya memetik buah karma baik dari masa lampau sehingga sangat kecil kemungkinan bagi makhluk-makhluk di alam Deva dan Brahma untuk berbuat baik karena mereka semua sudah tentu berbahagia dan tidak memerlukan ‘bantuan’ satu sama lain. Ketika para makhluk di alam Deva dan Brahma ingin berbuat baik maka mereka harus turun ke alam manusia untuk dapat melakukan kebajikan.

Bahkan Deva dan Brahma harus datang ke alam manusia terlebih dahulu untuk dapat berbuat baik; apakah kita yang saat ini sudah berada di alam manusia akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik??? Atau bahkan malah menambah perbuatan buruk??? Kembali kepada diri kita sendiri. Jika ingin memetik kebahagiaan maka lakukanlah kebajikan, dan jauhi perbuatan buruk agar terhindar dari penderitaan. Sangat banyak kesempatan bagi kita untuk melakukan perbuatan baik. Jangan lewatkan kesempatan begitu saja. Kalaupun setelahnya masih ada kesempatan lain untuk berbuat baik, kemungkinan porsinya akan berbeda. Jadi kalau ada kesempatan berbuat baik dalam waktu dekat dan kita mampu untuk melakukannya maka lakukanlah, karena kesempatan tersebut belum tentu datang dua kali.

Dibalik kenyataan bahwa alam manusia adalah yang terbaik dari segala alam, namun terlahir sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat jarang, oleh karena kita seharusnya menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.

Dialog Sang Buddha dengan para Bhikkhu:
“Yang mana lebih banyak – pasir diujung kuku saya, atau pasir seluruh bumi?”

“Guru, jauh lebih banyak pasir di bumi ini. Sangat sedikit pasir di ujung kuku Guru. Satu sama lain tidak dapat dibandingkan.”

“Demikian pula, makhluk yang dilahirkan sebagai manusia adalah sangat sedikit. Jauh lebih banyak yang terlahir dalam alam-alam lainnya. Oleh karenanya engkau hendaknya melatih dirimu, dengan senantiasa berpikir: “Kita akan hidup sebaik mungkin”.

Kutipan Dhammapada XIV : 182 bahwa sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia. Merupakan karma baik yang luar biasa karena saat ini kita dapat terlahir sebagai manusia sehingga kita dapat dengan mudah untuk melakukan perbuatan baik. Kita juga dapat mendengarkan Dhamma Ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidup sehingga berpotensi untuk mengembangkan kebijaksanaan dan mencapai Pencerahan.

Inti dari Ajaran Sang Buddha adalah hindari perbuatan buruk, tambahkan kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Mengapa perlu menghindari perbuatan buruk? Agar tidak hidup menderita. Mengapa perlu menambah kebajikan? Supaya semakin dekat dengan kebahagiaan. Kemudian sucikan hati dan pikiran dengan cara bermeditasi.

Alam manusia ini menjadi tempat kita untuk ‘menabung’ kebajikan, tempat bagi kita untuk mengikis kilesa, mengikis keserakahan, mengikis noda-noda batin. Caranya adalah dengan banyak berbuat baik. Bagi sebagian orang adalah sangat mudah untuk berbuat baik tetapi sebagian orang lainnya justru lebih mudah berbuat jahat. Perlu ‘latihan’ berkelanjutan untuk menjadi mahir melakukan kebajikan. Sebanyak apapun halangan untuk berbuat baik; kita tetap mengusahakan untuk melakukannya karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan pasti akan membuahkan kebahagiaan, begitu pula sebaliknya keburukan sekecil apapun akan membuahkan penderitaan. Jadi lakukanlah perbuatan baik meskipun kita berada di dalam kesulitan. Berbuat baik tidak akan merugikan kita, tidak akan merugikan orang lain; tetapi akan membawa kebahagiaan bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Di dalam kehidupan saat ini, ada 5 hal penting yang harus selalu kita ingat dan waspadai yaitu:
1. Kebutuhan hidup
Sebagai manusia tentunya kita memiliki kebutuhan untuk menjalankan kehidupan; karena kebutuhan hidup merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan sebagai hal yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan yang sebenarnya tidak harus. Terkadang orang lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan hanya karena gengsi / gaya hidup dengan mengesampingkan fungsi dan manfaat yang dibutuhkan serta kemampuan pribadi. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang dibutuhkan dan harus dipenuhi guna menunjang kelangsungan hidup. Sedangkan keinginan hanyalah suatu harapan semata yang jika tidak dipenuhi pun tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup.

2. Tujuan hidup
Tujuan hidup kita tentunya adalah bahagia. Semua orang ingin bahagia. Kita sebagai umat Buddha ingin bahagia di kehidupan saat ini maupun di kehidupan-kehidupan berikutnya. Bagaimana cara menggapai tujuan itu? Adalah dengan menjalankan 5 pelatihan moral (Pañcasīla): menghindari pembunuhan makhluk hidup; menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan; menghindari perbuatan asusila; menghindari ucapan: bohong, kasar, memfitnah, omong kosong; menghindari makanan & minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Dengan menjalankan Pañcasīla dalam kehidupan sehari-hari maka pastinya hidup kita akan tenang, bahagia, penuh senyuman karena telah mengendalikan dan mengatur tindakan kita, mengetahui dan melakukan mana yang perlu dikerjakan dan mana yang tidak perlu dikerjakan. Sebagai upasaka-upasika selain menjalankan Pañcasīla, kita juga dapat menjalankan Uposathasīla atau Aṭṭasīla pada hari-hari Uposatha.

3. Kematian
Kehidupan adalah aniccā / tidak kekal. Segala sesuatu yang mengalami kelahiran pasti akan mengalami kematian. Segala sesuatu yang terbentuk pasti akan mengalami kehancuran. Kematian adalah pasti; bisa datang kapan saja; tidak harus menunggu tua, tidak harus menunggu sakit. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan timbunan kebaikan sebagai bekal untuk kehidupan berikutnya.

4. Orangtua dan sanak keluarga yang masih hidup
Kita perlu mengingat sanak keluarga dan kerabat yang masih hidup; mengapa? Karena mereka adalah orang-orang terdekat bagi kita untuk berbuat baik. Orangtua kita, istri / suami, anak, saudara, sahabat, orang-orang yang kita kenal; kepada mereka dan dengan dukungan mereka maka kita dapat melakukan perbuatan baik. Orangtua adalah ‘Brahmana’ di rumah; orangtua adalah dewa di rumah.
Jasa orangtua sangat besar “Bila seorang anak menggendong ayahnya dipundak kiri dan ibunya di pundak kanan selama seratus tahun, maka anak tersebut belum cukup membalas jasa kebaikan yang mendalam dari orangtuanya.”
Kita harus berusaha membalas budi baik dan membahagiakan orangtua juga mengajak mereka untuk berbuat baik.

5. Para leluhur
Cara kita berbakti kepada leluhur dengan cara melakukan pelimpahan jasa (Pattidāna). Dengan Pattidāna kita dapat berbagi, menyalurkan jasa kebajikan yang telah kita lakukan kepada para leluhur kita baik itu kepada orangtua, kakek, nenek, kerabat yang telah meninggal terutama kepada mereka yang telah berjasa untuk kita. Untuk dapat melakukan Pattidāna, kita perlu melakukan kebajikan terlebih dahulu, karena jika tidak ada kebajikan yang dilakukan maka tidak ada jasa kebajikan yang dapat dilimpahkan. Ketika kita melakukan perbuatan baik sekecil apapun itu alangkah baiknya kita limpahkan jasanya kepada para leluhur dengan harapan yang cukup sederhana semoga para leluhur turut berbahagia. Jangan takut kalau dengan membagikan jasa kebajikan kepada leluhur maka kebajikan untuk kita menjadi hilang / habis; Jangan takut sekalipun; karena Sang Buddha mengatakan bahwa kebajikan diibaratkan sebagai bayang-bayang yang tidak akan pernah meninggalkan bendanya. Jadi kebajikan yang telah kita lakukan baik di waktu lampau maupun yang baru saja dilakukan akan selalu mengikuti kemanapun kita pergi bahkan terbawa sampai kehidupan-kehidupan selanjutnya. Kebajikan adalah harta karun sejati.

Demikian yang dapat dituliskan kembali. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pendengaran dan pemahaman. Semoga kita semua mendapatkan manfaat tertinggi dari pengulangan Dhammadesanā ini.

Semoga jasa Kebajikan ini mengalir ke arah kehancuran noda-noda batin,
Semoga jasa Kebajikan ini menjadi kondisi untuk realisasi Nibbāna,
Saya mendedikasikan jasa Kebajikan ini kepada mendiang mama tercinta Ng Kim Suan
Saya membagikan jasa Kebajikan ini kepada semua makhluk,
Semoga mereka semua mendapatkan bagian Kebajikan yang sama dengan saya.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻




Related Postview all

Atasi Stres Dengan STRESS

access_time21 November 2025 - 22:45:03 WIB pageview 360 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Ārogyaparamā ... [Selengkapnya]

PERAYAAN SAṄGHADĀNA DI BULAN KAṬHINA 2569 BE / 2025

access_time21 November 2025 - 22:32:50 WIB pageview 614 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Dānañca dhammacariyā ca etammaṅgalamuttamaṁti. Suasana Kaṭhina di Vihara Sasana Subhasita dipenuhi dengan umat Buddha ... [Selengkapnya]

Memberi Tepat, Menambah Banyak

access_time04 November 2025 - 19:40:36 WIB pageview 649 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Kālena ... [Selengkapnya]

Harapan Orangtua Merupakan Kewajiban Anak

access_time29 Oktober 2025 - 20:08:12 WIB pageview 714 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Persujudan kepada Beliau, Yang Beberkah, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna oleh Diri Sendiri (3x) Kālena ... [Selengkapnya]

Berkah Dari Melepas

access_time16 Oktober 2025 - 10:42:15 WIB pageview 954 views

PendahuluanHidup adalah rangkaian peristiwa datang dan pergi. Sama seperti tubuh memerlukan makanan dan minuman untuk bertahan hidup, batin kita juga menerima “asupan” dari apa ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu