Berita / Ceramah

Perayaan Sangha Dana di Bulan Kathina 2564 BE / 2020


PERAYAAN SAṄGHA DĀNA DI BULAN KAṬHINA 2564 BE / 2020
Vihāra Sasana Subhasita
Minggu, 4 Oktober 2020
Dhammadesana: YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera
Penulis & Editor: Lij Lij
Sumber: Youtube Channel Vihara Sasana Subhasita


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Dānañca dhammacariyā ca etammaṅgalamuttamaṁti.

Perayaan Saṅgha dāna di tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya mengingat kondisi yang tidak memungkinkan bagi kita untuk mengadakan Saṅgha dāna seperti waktu-waktu sebelumnya menyebabkan pelaksanaan yang sangat-sangat dibatasi. Oleh karena itu, sesuai anjuran Padesanāyaka Saṅgha Theravāda Indonesia propinsi Banten kepada umat untuk tidak ikut hadir di Vihāra mengikuti perayaan Kaṭhina. Tentu tujuan Padesanāyaka adalah untuk menjaga kesehatan para Bhikkhu dan juga kesehatan para umat Buddha. Acara ini dapat diikuti dirumah; para umat Buddha dapat menyaksikan di layar kaca ataupun melalui gadget masing-masing.

Para Bhikkhu sejak tanggal 6 Juli 2020 yang lalu mulai memasuki masa vassa sampai dengan tanggal 2 Oktober 2020; kurang lebih selama 3 bulan. Vassa artinya menetap di suatu tempat selama musim hujan. Selama masa vassa, para Bhikkhu dianjurkan untuk tidak bepergian kemana-mana. Di masa Sang Buddha, vassa ini sebetulnya adalah musim hujan sehingga untuk bepergian tidaklah mudah, jalan-jalan sulit untuk dilalui. Demikian pula para pedagang maupun peternak pada saat musim hujan tiba, maka mereka berhenti untuk melakukan perjalanan dan mencari tempat untuk menetap.

Pada saat Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, tradisi ini belum ada karena pada saat itu jumlah Bhikkhu masih sedikit. Hanya ketika musim hujan tiba, para Bhikkhu secara otomatis mencari tempat untuk berdiam. Dengan berjalannya waktu, ketika jumlah para Bhikkhu semakin banyak, maka anjuran untuk ber-vassa mulai diadakan karena masa vassa ini memberikan nilai positif dimana seorang Bhikkhu dapat “lebih intensif untuk ke dalam diri” mengingat pada umumnya diluar masa vassa kebanyakan para Bhikkhu mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada waktu masa vassa itulah, kesempatan bagi para Bhikkhu untuk melatih samaṇadhamma yaitu memperdalam praktek meditasi dan belajar Dhamma. Sehingga selama masa vassa ini para Bhikkhu tidak boleh bepergian. Jika memang harus bepergian karena ada hal yang penting maka Bhikkhu yang bersangkutan harus ‘pulang hari’ – artinya sebelum fajar sudah harus sudah kembali ke vihāra.

Ada beberapa hal penting yang membuat seorang Bhikkhu diijinkan untuk bepergian pada masa vassa yaitu:
1. Jika Bhikkhu yang bersangkutan mengetahui bahwa orangtuanya sakit, maka Bhikkhu tersebut diijinkan untuk meninggalkan tempat vassa-nya untuk merawat orangtuanya yang sakit.
2. Jika ada Bhikkhu atau Sāmaṇera yang bosan dengan kehidupannya sebagai seorang samaṇa maka seorang Bhikkhu yang sedang ber-vassa diijinkan untuk pergi menemuinya guna menghibur / menasehati / memadamkan keinginan untuk melepas jubah.
3. Jika ada tugas dari Saṅgha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihāra maka seorang Bhikkhu dapat pergi untuk memperbaiki vihāra tersebut.
4. Jika seorang Bhikkhu ditugaskan untuk mengajar Sāmaṇera maupun Bhikkhu baru atau saddhivihārika maka Bhikkhu tersebut diijinkan untuk bepergian.

Tentunya selain mendapatkan ijin untuk bepergian atas hal-hal penting tersebut juga ditentukan bahwa Bhikkhu yang bersangkutan harus kembali dalam waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) hari. Namun jika tidak ada keperluan penting maka para Bhikkhu akan ber-vassa selama 3 (tiga) bulan lamanya.

Tahun ini terasa berbeda, Bhante Cittanando ber-vassa kurang lebih selama 7 bulan; lebih lama dari waktu-waktu sebelumnya dampak pandemic covid-19 sejak awal Maret 2020.

Masa vassa selama kurang lebih 3 bulan diakhiri dengan pavarana (hari penutup masa vassa berakhir). Biasanya para Bhikkhu berkumpul minimal 5 Bhikkhu baik senior maupun junior untuk memperoleh nasehat terutama dari para Bhikkhu Senior. Pavarana merupakan kesempatan bagi para Bhikkhu untuk mengingatkan satu sama lain bahwa kehidupan para Bhikkhu adalah berbeda dengan kehidupan perumahtangga; bahwa kehidupan para Bhikkhu diikat oleh dhammavinaya yaitu vinaya ke-bhikkhu-an khususnya dimana harus diingat sepanjang hidup sebagai brahmacariyā. Selain mendapatkan nasehat-nasehat, para Bhikkhu juga memberikan teguran dan permohonan maaf.

Jika dalam vihāra tersebut ber-vassa minimal 5 Bhikkhu atau lebih maka dapat mengadakan Kaṭhina Dussaṃ. Apa itu Kaṭhina Dussaṃ?

Kaṭhina sebenarnya adalah kerangka kayu yang digunakan oleh para Bhikkhu untuk menjahit jubah. Pada masa itu, jubah sulit untuk didapat. Para Bhikkhu mendapatkan jubah dari kain-kain yang sudah dibuang ataupun kain-kain pembungkus mayat. Kain-kain yang dikumpulkan tersebut kemudian dijahit di kerangka kayu. Saat itu jahitannya jubah tidak beraturan; kemudian Bhante Ananda bertanya kepada Sang Buddha bahwa dimasa mendatang ketika jumlah Bhikkhu semakin bertambah, bagaimana cara menjahit jubah agar semua Bhikkhu mengenakan jubah yang seragam. Sang Buddha memberi petunjuk agar mengikuti seperti petak-petak sawah di Magadha (pada saat itu). Ketetapan tersebut kemudian dipergunakan hingga saat ini.
Setelah jubah selesai dijahit, kemudian di celup di pewarna tertentu yang diperoleh dari getah kulit kayu. Jubah yang telah selesai di celup kemudian dikeringkan dan siap untuk dipakai. Jubah yang telah siap pakai tersebut kemudian diberikan kepada salah seorang Bhikkhu sesuai kesepakatan dari para Bhikkhu yang hadir.

Seiring perjalanan waktu, peradaban manusia berubah dan semakin maju. Kain Jubah dapat dengan mudah diperoleh saat ini, apalagi para umat Buddha sudah mengerti kebutuhan Bhikkhu. Kain Jubah juga harus dipotong agar tidak ada nilai ekonomisnya (bagi umat awam). Namun bagi para Bhikkhu, jubah sangatlah bernilai. Oleh karena itu, seorang Bhikkhu tentunya mengerti bahwa jubah tidak boleh dipakai sembarangan, apalagi di injak-injak. Di dalam vinaya diajarkan bahwa seorang Bhikkhu atau Sāmaṇera harus mengenakan jubah-nya secara rapih; sebagai salah satu bentuk penghormatan.

Usia ke-bhikkhu-an para Bhikkhu ditentukan oleh lamanya Bhikkhu yang bersangkutan menjadi seorang Bhikkhu bukan ditentukan oleh usia / umur maupun penampilan fisiknya (umur tua, beruban, dsb). Jadi usia ke-bhikkhu-an ditentukan oleh lamanya menjadi Bhikkhu yang dapat diketahui dari masa vassa yang sudah dijalankan oleh Bhikkhu yang bersangkutan.

Adapun tahapan-tahapan dalam ke-bhikkhu-an berdasarkan masa vassa-nya sebagai berikut :
1. Navaka Bhikkhu
Adalah Bhikkhu yang masih baru atau masih muda yang masa ke-bhikkhu-an kurang dari 5 vassa.
2. Majjhīma Bhikkhu
Adalah Bhikkhu yang menjalani 5 vassa sampai kurang dari 10 vassa.
3. Thera
Thera berarti yang patut dicontoh atau sepuh; adalah Bhikkhu yang menjalani 10 vassa sampai dengan 19 vassa.
4. Mahāthera
Adalah Bhikkhu yang sudah menjalani 20 vassa atau lebih.

Para Bhikkhu biasanya menyapa Bhikkhu lain dengan sapaan “Bhante” atau “Āvuso” atau juga “Āyasmant”; namun Āyasmant ini jarang dipakai. Sapaan “Bhante” biasanya digunakan oleh sesama Bhikkhu yang vassanya setara atau kepada Bhikkhu senior. Sedangkan Bhikkhu senior biasanya memanggil “Āvuso” kepada Bhikkhu junior. Sapaan ini adalah khusus untuk para Bhikkhu; oleh karena itu tidak seyogianya digunakan oleh romo paṇḍita ataupun umat awam.

Tahun ini anggota Saṅgha Theravāda Indonesia setelah melewati masa vassa ini adalah berjumlah 100 Bhikkhu.

Yang mencapai 10 vassa ada 2 Bhikkhu yaitu:
- YM. Bhikkhu Dhammamitto, Thera
- YM. Bhikkhu Jayamedho, Thera

Yang mencapai 20 vassa ada 1 Bhikkhu yaitu: YM. Bhikkhu Abhayanando, Mahāthera

Yang mencapai 30 vassa ada 3 Bhikkhu yaitu:
- YM. Bhikkhu Atimedho, Mahāthera
- YM. Bhikkhu Saddhaviro, Mahāthera
- YM. Bhikkhu Subhapañño, Mahāthera

Yang mencapai 45 vassa ada 1 Bhikkhu yaitu: YM. Bhikkhu Sukhemo, Mahāthera

Usia Saṅgha Theravāda Indonesia sejak 23 Oktober 1976 adalah 44 Tahun (kira-kira seumuran dengan Magabudhi). Selama 44 tahun STI berdiri hanya ada 100 Bhikkhu, tentunya tidak mudah; oleh karena itu harus dijaga baik-baik. Menjadi Bhikkhu itu ‘langka’, tidak banyak umat awam yang berkeinginan untuk menjadi Bhikkhu. Tentu menjadi Bhikkhu yang baik sangatlah sulit. Banyak contoh yang dapat kita lihat ada yang sudah menjadi Bhikkhu kemudian keluar dan tidak mau masuk lagi. Meskipun terkadang ada yang berkomentar bahwa menjadi Bhikkhu itu enak.

Tidak mudah, tidak semua bisa melakukan; sebab untuk dapat menjadi Bhikkhu diperlukan pāramī yang cukup seperti yang pernah dikatakan oleh YM. Bhikkhu Sukhemo, Mahāthera “Harus ada pāramī”. Jadi kalau ada Bhikkhu yang keluar sebetulnya adalah hal yang wajar karena pāramī-nya sudah habis.

Lalu bagaimana cara menjaga Saṅgha? Untuk menjaga Saṅgha, para umat Buddha perlu untuk menyokong kehidupan para Bhikkhu yaitu mencakup 4 kebutuhan pokok:
1. Jubah Bhikkhu
2. Makanan
Meskipun makanan yang didanakan oleh umat cukup melimpah khususnya di Tangerang ini, tetapi para Bhante diajarkan untuk makan secukupnya. Para Bhikkhu dianjurkan makan sehari dua kali tidak melebihi tengah hari. Pada prakteknya ada diantara para Bhikkhu yang hanya makan sekali sehari; bahkan ada pula yang makan hanya lima kali seminggu (senin dan kamis tidak makan sama sekali); namun demikian para Bhikkhu masih dapat melakukan tugas ke-bhikkhu-an nya mengajar Dhamma kemana-mana.
Hal ini sebetulnya bagus diikuti oleh para umat yaitu makan secukupnya; karena jika makan tidak terkendali (makan sekenyang-kenyangnya sampai muntah) maka akan mengganggu kesehatan, juga pernafasan, dan keleluasaan dalam beraktivitas. Para umat awam dapat mengikuti langkah para Bhikkhu misalnya dengan melatih Aṭṭhasīla pada hari Uposatha yang salah satu sīla nya adalah tidak makan setelah tengah hari.
3. Tempat tinggal – dapat berupa vihāra atau kuti
4. Kesehatan – berupa obat-obatan ataupun perawatan

Setelah para Bhikkhu menyelesaikan masa vassa, tentunya para umat juga merasa bahagia dan bergembira sehingga dengan penuh keyakinan mempersembahkan 4 kebutuhan pokok para Bhikkhu. Tentunya para Bhikkhu juga harus menjalankan Dhammavinaya dengan baik sehingga terjalin hubungan yang saling menyokong. Para Bhikkhu membimbing dan menjadi contoh teladan bagi para umat. Meskipun misal ada Bhikkhu yang tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkan Dhamma kepada umat, tidak mengapa; namun hendaknya Bhikkhu memiliki perilaku yang baik, Dhammavinaya nya bagus, dan menjadi contoh teladan yang baik. Inilah yang sebetulnya ditekankan oleh Sang Buddha. Kualitas seorang Bhikkhu sebenarnya bukan karena pintar bicara, pintar ceramah, atau membangun vihara di sana-sini; melainkan adalah bagaimana Bhikkhu tersebut dapat melaksanakan Dhammavinaya dengan baik. Itulah kualitas seorang Bhikkhu. Bhikkhu yang demikian dapat menjadi contoh teladan bagi masyarakat pada umumnya dan umat Buddha pada khususnya. Hal ini juga akan menumbuhkan keyakinan pada masyarakat dimana mereka dapat melihat dengan kebahagiaan penuh muditacita ketika berakhirnya masa vassa.

Hubungan yang saling menyokong inilah yang dapat menjaga keberlangsungan Saṅgha. Ketika Saṅgha dapat bertahan maka agama Buddha juga akan semakin berkembang. Dan semua ini dapat terjadi juga berkat dukungan para umat Buddha juga. Mari kita jaga Saṅgha yang jumlahnya sedikit ini (di Indonesia) agar dapat melaksanakan kewajibannya baik untuk dirinya sendiri maupun bermanfaat bagi orang banyak.

Berdāna kepada Saṅgha banyak disebutkan di dalam Sutta; salah satunya dalam Nindhikaṇda Sutta yang telah dibacakan dengan sangat indah oleh tim Vihāra Sasana Subhasita. Dalam Sutta tersebut disebutkan dengan jelas manfaat dari berdāna kepada Saṅgha antara lain : paras yang indah, suara yang merdu, perawakan yang menawan, rupa yang elok, kekuasaan dan pengikut, menjadi raja di alam para dewa, kedudukan yang tinggi, kekayaan di alam manusia, kesenangan di alam dewa, tercapainya cita-cita luhur (Nibbāna). Di dalam Maṅgala Sutta, jika kita berdāna sebetulnya adalah awal keberkahan. Berbuat baik inilah yang mendatangkan keberkahan yang sesungguhnya. Jadi berkah bukanlah ‘datang dari atas’ bukan pemberian dari para dewa, bukan!
Apabila kita berdāna, memberi; apalagi jika penerima-nya tepat sasaran maka nilai pemberian kita tidak kecil buahnya. Oleh karena itu, mereka yang memiliki pengertian dan keyakinan akan hal ini terutama di negara Buddhist tidak heran jika umat Buddha ‘berebut’ untuk memberi daripada meminta. Itulah tradisi Buddhist yang sebenarnya “rebutan memberi” karena mereka menyadari sebenarnya dengan memberi mereka telah menanam benih karma baik. Marilah kita budaya “Gemar Memberi” sebagai praktek Dhamma yang paling awal dan paling mudah dilakukan.

Berdāna adalah kebajikan yang paling mudah untuk dilakukan, namun bagi sebagian orang yang masih memiliki kotoran batin yang tebal tentunya menjadi sangat sulit. Tebalnya keserakahan, kuatnya keterikatan, kebencian dan ketidaktahuan merintangi sehingga sulit untuk berbuat baik.

Akhir kata, Selamat kepada seluruh umat Buddha khususnya umat Buddha di Vihāra Sasana Subhasita baik yang hadir di vihāra maupun yang sedang menyaksikan di layar kaca masing-masing. Semoga berkah Saṅgha dāna di masa Kathina ini mendatangkan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Semoga cita-cita luhur tercapai, semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu




Related Postview all

Lima Kekuatan Dalam Kebajikan di Masa Covid-19

access_time07 September 2020 - 01:12:26 WIB pageview 177 views

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah hari libur nasional di Indonesia untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setiap tahun pada ... [Selengkapnya]

6 Kualitas Yang Mengarah pada Ketidak-munduran

access_time03 September 2020 - 00:16:28 WIB pageview 181 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)   “Suvijāno bhavaṃ hoti, suvijāno parābhavo; Dhammakāmo bhavaṃ hoti, dhammadessī ... [Selengkapnya]

PATTIDĀNA 2020 - Vihara Sasana Subhasita

access_time25 Agustus 2020 - 00:02:55 WIB pageview 247 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (3x) Idaṁ vo ñātinaṁ hotuSukhitā hontu ... [Selengkapnya]

Mengapa Kita Harus Bermeditasi ?

access_time19 Agustus 2020 - 00:42:59 WIB pageview 260 views

Ada banyak alasan mengapa kita harus bermeditasi. Seperti hal nya jasmani kita yang butuh untuk dimandikan setiap hari. Misalkan dalam 1 minggu, 2 minggu, jasmani kita tidak dibersihkan, ... [Selengkapnya]

Petunjuk Jalan Hidup Sebagai Manusia

access_time06 Juli 2020 - 00:26:45 WIB pageview 337 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sebagaimana kita semua ketahui adalah sungguh beruntung kita terlahir sebagai manusia, jadi manusia yang baik, sering ke vihara, sering ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu