Berita / Ceramah

6 Kualitas Yang Mengarah pada Ketidak-munduran


Puja Bakti New Normal

Vihara Sasana Subhasita

Minggu, 30 Agustus 2020

Dhammadesanā: YM. Bhikkhu Dhammiko Thera

Tema Dhamma:_*6 Kualitas Yang Mengarah pada Ketidak-munduran*_

(Aṅguttara Nikāya 6.69  Devatāvagga – Devatāsutta)

Penulis & Editor: Lij Lij

 

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

 

“Suvijāno bhavaṃ hoti,

suvijāno parābhavo;

Dhammakāmo bhavaṃ hoti,

dhammadessī parābhavo”.

 

Seorang bijaksana berkembang dengan baik,
Yang tidak bijaksana mengarah menuju bencana;
Pencinta Dharma berkembang dengan baik,
Pembenci Dharma menuju lingkaran bencana.

 

(petikan syair: Khuddaka Nikāya, Sutta Nipāta 1.6 Parābhava Sutta)

Sources: https://legacy.suttacentral.net/id 

 

Berbahagia pada kesempatan ini dapat berkumpul kembali di Dhammasala Vihara Sasana Subhasita maupun secara live streaming di kanal youtube; untuk melakukan kewajiban kita sebagai umat Buddha. Melakukan pujabakti, memberikan penghormatan kepada Tiratana: Buddha, Dhamma, Saṅgha; sekaligus menambah timbunan jasa kebajikan yang dapat menuntun kita pada kebahagiaan dan dapat menuntun kita pada pencapaian pembebasan dari penderitaan. Meskipun dalam keterbatasan namun tentunya hal ini tidak akan mengurangi nilai kebajikan yang kita lakukan.

Dalam kehidupan setiap orang pasti ingin mengalami kemajuan. Tiada seorang pun diantara kita yang ingin hidupnya mengalami kemunduran. Semua pasti ingin mengalami kemajuan misalnya peningkatan dalam karier pekerjaan, peningkatan dalam kehidupan rumah tangga, demikian hal nya juga Vihara menginginkan peningkatan kualitas pelayanan bagi umat. Semua pasti menginginkan peningkatan ke arah yang lebih baik.

Pertanyaannya adalah: bagaimana caranya agar kita sebagai umat Buddha dapat mengalami peningkatan, kemajuan, bukan kemunduran?

Di dalam Aṅguttara Nikāya kelompok 6; sesosok dewa datang menghadap Sang Buddha untuk bertanya apa hal-hal yang dapat membawa pada ketidakmunduran. Ketidakmunduran adalah sama dengan kemajuan.

Kalau kita melihat Riwayat hidup Sang Buddha, Beliau memiliki waktu untuk memberikan khotbah Dhamma kepada para dewata. Keseharian Sang Buddha sejak petang pukul 6 sore sampai dengan pukul 6 pagi (total 12 jam) terbagi menjadi 3 bagian yang masing-masing waktu terdiri dari 4 jam:

  1. Pathama-yāma – waktu jaga pertama sekitar pukul 18.00-22.00

Sang Buddha memberikan khotbah kepada manusia: para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka-upasika. Umat-umat di jaman Sang Buddha mendengarkan Ajaran Sang Buddha dengan sangat baik selama 4 jam setiap hari; sehingga tidak heran jika di jaman tersebut banyak perumahtangga yang mencapai tingkat kesucian karena minat dan ketertarikan yang kuat untuk belajar dan melaksanakan Dhamma.

  1. Dutiya-yāma – waktu jaga kedua sekitar pukul 22.00-02.00

Sang Buddha memberikan bimbingan Dhamma kepada para dewata.

Seperti yang sering kita baca dalam Maṅgalasutta disebutkan ketika hari menjelang pagi…

Perlu kita pahami bahwa pergantian hari secara umum itu berbeda dengan pergantian hari secara Dhamma. Pergantian hari secara umum dipahami yaitu ketika melewati jam 12 tengah malam; sedangkan pergantian hari secara Dhamma adalah ketika matahari terbit barulah terjadi pergantian hari (yaitu sekitar jam 5-6 pagi).

Banyak khotbah yang diberikan Sang Buddha kepada para Dewata diantaranya terekam dalam Dīgha Nikāya, Majjhima Nikāya, Saṃyutta Nikāya, Aṅguttara Nikāya; menjadi bukti bahwa Sang Buddha adalah Guru para dewata dan manusia (Satthā devamanussānaṁ).

  1. Tattiya-yāma – waktu jaga ketiga sekitar pukul 02.00-06.00

Waktu jaga terakhir ini, Sang Buddha menggunakan 1-2 jam untuk mengistirahatkan tubuh jasmani-Nya. Beliau berbaring miring seperti singa, mengambil sikap yang secara Dhamma disebut jagariyanuyoga – berbaring miring seperti singa digambarkan sebagai posisi meditasi berbaring (bukan Buddha tidur).

Sehubungan dengan hal ini, kita umat Buddha harus meralat bahwa tidak ada postur Buddha tidur; yang ada adalah postur Buddha Meditasi baring (seperti di Dhammadipa Arama) dan postur Buddha parinibbāna (seperti yang di Trowulan - Majapahit, juga di Vihara Dhammaphala-Tangerang). Kita harus meralat hal-hal yang keliru, meralat hal-hal yang salah apalagi oleh kita sendiri umat Buddha.

Ket:Perbedaan kedua postur adalah pada posisi tangan yang menyangga kepala.

Setelah menggunakan 1-2 jam untuk mengistirahatkan tubuh jasmani, kemudian Sang Buddha melakukan meditasi Mahakaruna Bhavana – meditasi melihat semesta; siapa yang pada hari itu memiliki potensi yang bilamana diberi bimbingan Dhamma dapat mencapai tingkat kesucian. Setelah itu, Sang Buddha melakukan aktivitas pribadi. Kemudian bersiap memakai jubah dan membawa mangkuk untuk ber-pindapatta mengarah menuju orang yang telah dilihat dalam meditasi Mahakaruna Bhavana-Nya.

Inilah 3 waktu jaga dimana ada waktu di jaga kedua - Dutiya yāma, Sang Buddha membabarkan khotbah kepada para dewa. Khotbah Sang Buddha ada yang bersifat langsung dalam arti kata monolog dan ada yang sifatnya dialog (istilah secara Dhamma yaitu puchitagatha dan apuchitagatha). Dalam hal Devatāsutta dari Aṅguttara Nikāya ini adalah khotbah yang disampaikan atas pertanyaan dewa; sama seperti Maṅgalasutta.

Apa yang menjadi sebab ketidakmunduran? Apa yang menjadi sebab seseorang dapat mengalami kemajuan?

Aṅguttara Nikāya adalah khotbah Sang Buddha yang berisi butir-butir Dhamma, point-point Dhamma. Aṅguttara Nikāya terdiri dari 11 kelompok mulai dari kelompok 1 sampai dengan kelompok 11; dimana setiap sutta didalamnya memuat butir-butir Dhamma sesuai dengan kelompoknya. Devatāsutta ini dari Aṅguttara Nikāya kelompok 6 yang berarti memiliki 6 butir Dhamma, dengan kata lain ada 6 hal yang bilamana dilakukan akan membawa ketidakmunduran, bilamana dilakukan akan membawa kemajuan. Apa saja 6 hal itu?

  1. SatthugāravatāPenghormatan kepada Sang Guru

Penghormatan kepada Sang Guru disini yang utama adalah penghormatan kepada Sang Buddha. Kita menaruh hormat kepada Sang Buddha karena Beliau memiliki 9 kualitas istimewa yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, yaitu:

  1. Arahaṁ - Yang Maha Suci 
  2. Sammāsambuddho – Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna dengan Usahanya Sendiri
  3. Vijjācaraṇa-sampanno – Sempurna dalam Pengetahuan dan Tindak-tanduknya
  4. Sugato – Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna
  5. Lokavidū – Pengetahu Segenap Alam
  6. Anuttaro purisadammasārathi – Pembimbing manusia yang tiada taranya
  7. Satthā devamanussānaṁ – Guru para dewa dan manusia
  8. Buddho – Yang Sadar
  9. Bhagavā – Yang Patut Dimuliakan

Dikatakan dalam sutta bahwa jika seandainya Sang Buddha berada sejauh 1000 yojana (1 yojana = sekitar 16 km), maka sepatutnya seseorang yang memiliki keyakinan dengan membawa tas tangan (perbekalan) hendaknya pergi menemui-Nya. Artinya bahwa jarak yang jauh tidak menjadi soal bagi mereka yang memiliki keyakinan. Lalu bagaimana dengan kita yang hidup di jaman sekarang dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang tersedia sudah sepatutnya kita datang ‘menjumpai Sang Buddha’ untuk memberikan penghormatan. 

Kadang umat Buddha memiliki konsepsi yang keliru dengan berpikir tidak perlu datang ke Vihara, yang penting berbuat baik. Ingat perjuangan susah payah mendirikan Vihara, ingat bahwa umat Buddha di jaman Sang Buddha di setiap sore hari datang mendengarkan Ajaran Sang Buddha selama 4 jam setiap hari; mengapa kita yang seminggu sekali saja susah sekali untuk datang ke Vihara?

Orang yang sering datang ke Vihara saja, berbuat baiknya masih banyak yang keliru; apalagi yang tidak pernah ke Vihara, berbuat baiknya pasti belum punya arah yang jelas. Yang sering ke Vihara saja masih banyak yang berbuat baiknya meskipun sudah di ceramahi berulang kali masih memiliki pamrih yang besar; apalagi yang tidak pernah ke Vihara – tidak pernah mendengarkan ceramah, pasti lebih besar lagi pamrihnya. Ini harus dirubah.

Anathapindika sehari sampai 3 kali ke Vihara. Pagi datang untuk dana makan pagi; siang datang untuk dana makan siang; sore datang untuk berdana minuman yang dapat dikonsumsi oleh Sang Buddha dan para bhikkhu; juga untuk mendengarkan khotbah. Bahkan kadang malam haripun Anathapindika datang lagi untuk memeriksa jika ada bhikkhu yang sakit yang memerlukan obat-obatan.

Kita harus menghormat Sang Buddha dengan dasar Beliau memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Penghormatan kepada Sang Buddha adalah penghormatan utama kita kepada Guru pada dewa dan manusia. Guru-guru yang kita temui dalam keseharian pun harus kita hormati. Guru Dhamma juga kita hormati. Mengapa? Karena dari-nya-lah kita mendapatkan bimbingan dan pengajaran Dhamma. Guru-guru di sekolah juga harus kita hormati karena mereka-lah yang memberi bimbingan pengetahuan kepada kita. Ulasan dalam kitab komentar terkait dengan Guru menyebutkan tingkatan penilaian sebagai Guru Dhamma, Guru Agama, Guru biasa. Misalnya Guru biasa nilainya 100; maka Guru Agama nilainya 1000 karena mengajarkan moralitas, perilaku, budi pekerti.

Jadi penghormatan pertama adalah penghormatan kepada Guru; utamanya kita sebagai umat Buddha adalah kepada Sang Buddha.

 

  1. Dhammagāravatā – Penghormatan kepada Dhamma

    Dhamma dalam pengertian yang luas (Sankhara-Dhamma) adalah bahwa segala sesuatu yang ada itu adalah Dhamma. Namun dalam konteks disini Asankhara-Dhamma yang merujuk kepada Dhammagāravatā adalah Dhamma sebagai Ajaran Sang Buddha. Sama seperti ketika kita menyatakan Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi – kita menyatakan diri berlindung kepada Dhamma; Dhamma sebagai Ajaran Sang Buddha. Di dalam Khuddakapāṭha – Paramathajotika lebih spesifik lagi menyebutkan bahwa Dhamma yang dimaksud adalah Jalan Mulia Berunsur 8 yang menuntun kepada akhir penderitaan.

    Mengapa kita harus menghormat Dhamma? Karena Dhamma memiliki 6 kualitas istimewa yaitu:

  1. Svākkhāto bhagavatā dhammo – Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā - Dhamma telah sempurna dibabarkan; tidak ada lagi yang disembunyikan, tidak ada lagi yang dirahasiakan, semuanya sudah dibabarkan dengan jelas oleh Sang Buddha. 

 

  1. Sandiṭṭhiko – Terlihat amat jelas - Sudah gamblang, benar-benar diterangkan dengan jelas. 

 

  1. Akāliko – Tidak bersela waktu - Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak sekali kita jumpai rekaman kaset – video – majalah Dhamma yang mungkin sudah lama; sepatutnya kita mengerti bahwa Dhamma yang sampaikan tidaklah lekang dimakan waktu, tidak bersela waktu, tidak lapuk oleh waktu.

 

  1. Ehipassiko – Mengundang untuk dibuktikan - Pembuktian disini adalah pembuktian Dhamma; bukan pembuktian sesuatu yang bersifat umum. Janganlah sembarangan mengunakan istilah Dhamma untuk hal-hal yang bersifat umum; dicontohkan ada umat yang mengunakan istilah Ehipassiko untuk menyaksikan film yang ratingnya bagus - menambah nafsu keinginan tetapi memakai istilah Ehipassiko.

    Menggunakan istilah Dhamma secara sembrono adalah tidak menghormati Dhamma. Ehipassiko ini untuk membuktikan Dhamma. Ehipassiko bahwa meditasi dapat memberikan ketenangan; Ehipassiko bahwa Aṭṭhasīlā dapat memberikan kedamaian batin. Jadi yang di-Ehipassiko-kan itu adalah Dhamma, bukan untuk nafsu-nafsu indriawi.

    Pergunakanlah istilah-istilah Dhamma pada tempatnya.

    Jangan melecehkan Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha apalagi kita sebagai umat Buddha.

    Dalam kitab komentar, Sang Buddha telah menyebutkan bahwa kemerosotan Dhamma terjadi sesungguhnya bukan dari luar, tetapi dari kita sendiri – umat Buddha.

    Air – Api – Angin – Tanah tidak dapat menghancurkan Dhamma.

    Air – Api – Angin – Tanah dapat menghancurkan orang bodoh.

    Orang bodoh dapat menghancurkan Dhamma.

    Artinya bahwa 4 unsur (Air – Api – Angin – Tanah) dapat menghancurkan kita, sedangkan Dhamma tidak akan hancur oleh keempat unsur ini. Tetapi perilaku jelek kita dapat menghancurkan Dhamma. Oleh karena itulah kita sebagai umat Buddha seharusnya menaruh hormat kepada Dhamma Ajaran Sang Buddha, diantaranya dengan cara menggunakan istilah-istilah Dhamma dalam konteks yang tepat, yang sesuai, yang mengarah kepada belajar dan praktek Dhamma yang sesungguhnya.

     

  1. Opanayiko – Patut diarahkan ke dalam batin

    Dhamma diarahkan ke dalam batin agar batin kita menjadi terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha. Dhamma diumpamakan seperti obat yang dapat mengatasi penyakit ‘penderitaan’.

 

  1. Paccattaṁ veditabbo viññūhī – Patut dihayati oleh para bijaksana dalam batin masing-masing

    Tujuan kita belajar Dhamma adalah agar muncul kebijaksanaan dalam diri. Meskipun tujuan tertinggi kita adalah mencapai kesucian; namun sebelum kita dapat mencapainya, setidaknya ada kebijaksanaan yang muncul di dalam diri kita. Kita menjadi lebih dapat menerima kenyataan hidup dari belajar dan praktek Dhamma yang kita jalani. Seperti pada keadaan pandemi saat ini; kita tidak banyak berkeluh kesah, tidak banyak menyalahkan orang lain, kita belajar untuk menerima kenyataan yang terjadi saat ini. Inilah kebijaksanaan dalam tahap yang sederhana, namun setidaknya jika kita sudah memilikinya maka sudah ‘lumayan’ daripada uring-uringan; setidaknya kita telah mengalami peningkatan (walaupun sedikit) dari belajar dan mempraktekkan Dhamma.

 

  1. Saṅghagāravatā – Penghormatan kepada Saṅgha

    Kita patut menaruh hormat kepada Saṅgha dalam konteks disini adalah para Ariya-Saṅgha yaitu Mereka yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat; termasuk disini bisa upasaka-upasika maupun perumahtangga yang telah mencapai tingkat kesucian; misalnya: Anathapindika meskipun upasaka namun sudah mencapai tingkat kesucian Sotapanna maka termasuk dalam Ariya-Saṅgha. Visaka meskipun upasika – perumahtangga telah mencapai Sotapanna juga termasuk dalam Ariya-Saṅgha.

    Jadi ketika kita bicara Saṅgha dalam Saṅghānussati adalah Ariya-Saṅgha.

    Ariya-Saṅgha memiliki 9 kualitas, yaitu:

    1.Supaṭipanno – Bertindak baik

    2. Ujupaṭipanno – Bertindak lurus

    3. Ñāyapaṭipanno – Bertindak benar

    4. Sāmīcipaṭipanno – Bertindak patut

    5. Āhuneyyo – Patut menerima pujaan

    6. Pāhuneyyo – Patut menerima suguhan

    7. Dakkhiṇeyyo – Patut menerima persembahan

    8. Añjalikaraṇīyo – Patut menerima penghormatan

    9. Anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā – Ladang menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta

Karena berperilaku yang baik (bertindak baik, lurus, benar, dan patut) maka Saṅgha sebagai Ariya-Saṅgha ini patut menerima pujaan, suguhan, persembahan, dan penghormatan; patut untuk kita jadikan sebagai Saṅghagāravatā. Inilah yang menjadi dasar untuk menghormati Saṅgha karena Saṅgha memiliki 9 kualitas; dan Saṅgha yang dirujuk dalam Saṅghagāravatā adalah Ariya-Saṅgha.

Para bhikkhu yang ada saat ini sebagai sebuah komunitas yang difungsikan untuk kepentingan banyak orang juga bermanfaat besar. Penghormatan yang diberikan kepada komunitas bhikkhu (bukan kepada pribadi) pun memberikan manfaat yang besar. Seperti contoh lainnya secara umum ketika berdana untuk membuat sekolah atau membuat jembatan yang difungsikan untuk banyak orang , sering disebut ‘dana yang awet’ – dana yang umurnya panjang karena difungsikan untuk waktu yang lama.

Penghormatan juga diberikan kepada bhikkhu-bhikkhu yang ada saat ini karena mereka pun sedang berjuang untuk berlatih, belajar, menuju pada tujuan akhir. 

  1. Sikkhāgāravatā – Penghormatan kepada Latihan

    Ketika ada orang yang sedang melatih Aṭṭhasīlā, kita dapat memberikan penghormatan dalam bentuk support kepada mereka, minimal kita sebagai upasaka-upasika menjalankan Pancasīlā.

    Di dalam Sīlāsutta - Aṅguttara Nikāya kelompok 5 disebutkan lima manfaat melatih Sīlā:

    1.Memperoleh kekayaan batin dan duniawi (Sīlena bhogasampadā)

    2.Punya reputasi / nama baik

    3.Punya rasa percaya diri (karena merasa tidak melakukan kesalahan)

    4. Tidak bingung (tidak gelisah ketika menghadapi akhir hidup)

    5. Terlahir kembali di alam bahagia

    Kita menaruh hormat kepada Latihan karena kita menyadari manfaat-manfaat dari Latihan; dapat mendatangkan banyak manfaat, berkah, pahala (buah), dan yang tertinggi tentunya adalah Sīlena nibbutiṁ yanti – memadamkan Lobha, Dosa, Moha.

 

  1. Sovacassatā – Mudah dikoreksi

    Jika kita ingin mencapai kemajuan, maka kita harus menjadi orang yang mudah di koreksi, mudah dinasehati, jangan keras kepala. Di dalam Dhammapada disebutkan jika ada orang yang dapat memberitahukan kesalahanmu, maka orang itu seperti memberikan sebuah harta karun; berterimakasihlah kepada orang itu. Berterimakasih dan perbaikilah kesalahan.

    Dalam Maṅgalasutta dikatakan “Khantī ca sovacassatā” – sabar, rendah hati bila diperingati; itulah berkah utama. Jadilah seseorang yang rendah hati. Jika ada sesuatu yang keliru, ada sesuatu yang salah, ada yang memberitahukan kesalahan kita dan memberikan masukan kepada kita, maka berterimakasihlah – bersyukur masih ada yang peduli.

    Di jaman Sang Buddha, ada Bhante Rahula yang sejak menjadi Samanera, setiap pagi ketika bangun tidur langsung menggenggam pasir dan bertekad 'semoga saya bisa menerima nasihat sebanyak pasir yang ada di dalam genggaman tangan saya ini'. Bayangkan berapa banyak pasir yang berada dalam genggamannya tersebut. Kita hendaknya dapat mencontohnya. Jika saja ada nasihat baik yang kita terima setiap hari dari kekurangan yang ada maka alangkah baik dan bersyukurnya kita menerima nasihat-nasihat tersebut agar diri dan hidup kita dapat berkembang maju. 

 

  1. Kalyāṇamittatā – Pertemanan yang baik

    Agar tidak mengalami kemunduran, maka kita harus memiliki teman yang baik. Banyak kasus dimana seseorang menjadi terpuruk yang salah satu penyebabnya adalah karena pergaulan. Di jaman Sang Buddha, ada raja Ajātasattu yang bergaul dengan Bhante Devadatta sehingga melakukan pelanggaran berat yaitu membunuh ayahnya. Maka carilah teman-teman yang baik.

    Di dalam Aṅguttara Nikāya kelompok 6.67– Mittasutta; Sang Buddha memberikan kriteria teman-teman yang baik yaitu:

    1. Memenuhi tugas perilaku yang selayaknya; tahu tugasnya yang memang menjadi bagiannya. Contohnya kalau di Vihara ada pembagian seksi yang bertanggung jawab untuk pujabakti, seksi konsumsi, seksi among Bhikkhu; teman yang baik itu memahami tugas yang menjadi tanggung jawabnya tanpa mencampuri tugas-tugas seksi lainnya. Boleh memberi masukan dan bantuan jika memang dibutuhkan dengan seijin seksi yang bersangkutan (tidak main serobot) tanpa melalaikan tugas utama.

    2. Memenuhi tugas dari seorang yang masih berlatih; menempatkan diri sebagai orang biasa yang masih sama-sama berlatih dan belajar Dhamma. Tidak pakai sistem 'nge-boss' main tunjuk, main suruh, main perintah; haruslah sama rata.

    3. Memenuhi perilaku bermoral; satu sama lain saling menjaga minimal Pancasīlā.

    4. Berlatih meninggalkan nafsu indria; mengendalikan nafsu indria ketika ada kegiatan-kegiatan di Vihara.

    5. Meninggalkan nafsu pada bentuk; teman yang baik akan mengarahkan kita tidak hanya menginginkan kelahiran sebagai dewa-dewi saja tetapi menuju pada tujuan tertinggi.

    6. Meninggalkan nafsu pada tanpa bentuk; teman yang baik juga akan mengarahkan kita tidak hanya terlahir sebagai Brahma Arupa, tetapi juga menuju pada tujuan tertinggi.

    Jadi arah tujuan kita sebagai umat Buddha bukan cuma kebahagiaan biasa, bukan cuma kebahagiaan menengah, bukan cuma kebahagiaan yang lebih tinggi; tetapi adalah kebahagiaan yang tertinggi yaitu padamnya penderitaan. Maka sebagai Kalyāṇamitta satu sama lain harus saling mendukung untuk mengarah menuju kepada padamnya penderitaan, meskipun sebagai perumahtangga memiliki tujuan masing-masing namun tujuan utama umat Buddha adalah sama merujuk kepada sabda Sang Buddha yaitu menuju kepada padamnya penderitaan - akhir dari dukkha.

Inilah 6 ciri sahabat yang baik. Hendaknya kita mengikuti, mendatangi, melayani, dan meneladani teman-teman yang memiliki perilaku seperti yang telah disebutkan.

Jadi kesimpulannya jika kita ingin maju, ada 6 cara yang dapat membuat kita mengalami kemajuan: hormat kepada Guru, hormat kepada Dhamma, hormat kepada Saṅgha, hormat kepada latihan, mudah dinasihati, dan memiliki sahabat-sahabat yang baik.

Maka di dalam Parābhava Sutta disebutkan “Suvijāno bhavaṃ hoti, suvijāno parābhavo; Dhammakāmo bhavaṃ hoti, dhammadessī parābhavo” Kemajuan adalah sebuah kewajaran, kemunduran adalah juga sebuah kewajaran; orang yang mencintai Dhamma akan mengalami kemajuan, orang yang jauh dari Dhamma akan mengalami kemunduran.

 

Jadi kalau kita ingin maju maka dekatlah dengan Dhamma. Dhamma akan menuntun kita pada kemajuan baik secara lahir maupun secara batin. 

 

Semoga uraian ini menambah wawasan pengetahuan Dhamma.

 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Sādhu, sādhu, sādhu.

 



Related Postview all

Membangun Kedamaian Batin dan Kesehatan

access_time31 Agustus 2020 - 01:16:25 WIB pageview 225 views

Antara pikiran dengan jasmani adalah saling berhubungan. Secara medis juga dikatakan demikian; bahwasanya ketika pikiran kita berisi dengan pikiran-pikiran negatif maka ... [Selengkapnya]

PATTIDĀNA 2020 - Vihara Sasana Subhasita

access_time25 Agustus 2020 - 00:02:55 WIB pageview 247 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (3x) Idaṁ vo ñātinaṁ hotuSukhitā hontu ... [Selengkapnya]

Persiapan Meditasi Duduk

access_time24 Agustus 2020 - 00:11:30 WIB pageview 231 views

Seperti kita ketahui bahwa meditasi dalam Ajaran Sang Buddha dapat menggunakan berbagai macam posisi yang secara garis besar ada 4 macam posisi yaitu: 1. Duduk 2. Berdiri 3. ... [Selengkapnya]

Mengapa Kita Harus Bermeditasi ?

access_time19 Agustus 2020 - 00:42:59 WIB pageview 260 views

Ada banyak alasan mengapa kita harus bermeditasi. Seperti hal nya jasmani kita yang butuh untuk dimandikan setiap hari. Misalkan dalam 1 minggu, 2 minggu, jasmani kita tidak dibersihkan, ... [Selengkapnya]

Petunjuk Jalan Hidup Sebagai Manusia

access_time06 Juli 2020 - 00:26:45 WIB pageview 336 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sebagaimana kita semua ketahui adalah sungguh beruntung kita terlahir sebagai manusia, jadi manusia yang baik, sering ke vihara, sering ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu