Berita / Ceramah

Berbagi Itu Indah dan Membuat Semua Bahagia


Puja Bakti Online
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 10 Mei 2020
Sharing Dhamma: Rmn. Lida Melani
Tema Dhamma: Berbagi Itu Indah dan Membuat Semua Bahagia
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Pagi ini kita bersama-sama menjalani Puja dengan cara yang istimewa, berbeda dari biasa karena kita semua tidak ada bersama di ruang Dhammasala tetapi masing-masing dari rumah; namun meskipun demikian makna Puja yang kita jalani tidaklah berkurang justru dengan kebersamaan Puja yang kita jalani lewat cara seperti ini; kita dapat menyatukan hati kita, pikiran kita pada Puja yang hening di rumah masing-masing. Bersyukurlah kita bahwa pada saat-saat dimana bangsa kita sedang berduka dan lara karena wabah dan bencana yang melanda saat ini, kita semua masih memiliki kesempatan baik untuk menyatukan hati kita, pikiran kita dalam Puja yang kita jalani bersama.

Tema sharing Dhamma kita pagi ini adalah Berbagi itu Indah dan Membuat Semua Bahagia. Mengapa tema ini dipilih? Karena Ketika kita melihat hal-hal yang tidak mudah, terjadi selama beberapa bulan ini, bukan hanya terjadi pada negeri dan bangsa kita tetapi juga terjadi pada banyak manusia di seluruh dunia. Dan khusus di negeri kita terlihat satu kenyataan bahwa saat-saat dimana semua orang berjuang untuk dapat bertahan menjalani kehidupan di kondisi yang tidak mudah ini justru ada satu hal luar biasa yang menyentuh hati. Mengapa? Karena di-seantero negeri begitu banyak tumbuh kebajikan-kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kasih dan rasa peduli terhadap sesamanya seperti cendawan yang tumbuh dan tumbuh subur di saat musim hujan tiba, memutih di setiap pelosok, memberikan keindahan yang mewarnai rumput yang hijau. Cendawan-cendawan ini tumbuh menjadi keindahan yang memunculkan rasa bahagia. Demikianlah kebajikan dari orang-orang yang mempunyai hati peduli, orang-orang yang mempunyai hati kasih; ketika melihat satu kenyataan tidak mudah bagi saudara-saudaranya yang lain, semua kebajikan ini tumbuh dan bangkit.
Luar biasa!!! Betapa tersentuhnya hati kita ketika melihat orang dengan hati kasih dan pedulinya bisa berbagi kepada orang lain yang membutuhkan, yang mengalami kesulitan, yang mengalami kesusahan.
Kita tahu banyak orang yang saat ini kehilangan pekerjaan, sulit mencari nafkah; namun kondisi seperti ini bukan menghalangi kita semua untuk dapat terus bersama dalam kebajikan untuk menguatkan satu sama lain dengan rasa kasih dan peduli.

Jika kita memperhatikan sejak awal Maret lalu hingga hari ini, setiap hari di pelosok-pelosok jalan, di tempat-tempat dimana orang membutuhkan belas kasih; ada orang-orang yang begitu tulus berbagi. Ada yang perorangan, ada yang berkelompok, ada yang dari rumah ke rumah. Ini membuktikan kepada kita bahwa negeri kita tercinta Indonesia tidak pernah kekurangan orang-orang baik. Begitu banyak orang-orang baik yang muncul dan terlihat justru pada saat-saat yang tidak mudah seperti ini.
Sebagai siswa Buddha, bagaimana kita menyikapi kondisi saat ini? Buddha mengajarkan kepada kita, ada satu kebajikan yang teramat sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap kita yaitu berbagi, memberi, berdana. Karena inilah kebajikan yang dapat dilakukan oleh siapapun juga tanpa kecuali.

Mungkin kita berpikir; jika kondisi kita saja pun sulit, jika kita pun bahkan kehilangan pekerjaan, kehilangan ladang untuk mencari nafkah, usaha kita terpuruk; bagaimana mungkin kita bisa berbagi – memberi – juga peduli??? Justru di saat-saat seperti inilah kita dapat menyadari bahwa kemuliaan berbagi dan memberi itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berpunya, oleh orang-orang yang berkelebihan tetapi kita semua dapat menjadi bagian dari kebajikan ini. Tapi kan kita tidak punya banyak untuk dibagikan? Tidak apa-apa! Sedikit saja yang kita punya. Ketika kita melihat orang-orang disekitar kita ada yang lebih sulit dari kita, ada yang lebih membutuhkan dari kita; kerahkan hati kasih kita, kerahkan kekuatan cinta kita untuk berbagi menguatkan mereka meskipun hanya sedikit. Tidak apa.
Sedikit itu berarti sekali bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Mari kita sama-sama satukan kasih kita, datang ke tempat mereka, bagikan apa yang kita bisa, meskipun hanya sedikit saja.
Hal-hal seperti ini, seperti kita melihat orang yang ada di padang tandus, di padang sahara, haus.. ditengah terik matahari; ketika kita memberikan sedikit saja air minum kepada mereka, itu adalah sesuatu yang sangat-sangat mereka syukuri, sesuatu yang bisa membuat mereka merasakan kelegaan dan rasa syukur yang besar. Jadi disinilah kita bagaimana kita sebagai sesama anak bangsa, sebagai sesama umat manusia, dapat menyatukan hati kasih kita, kekuatan tangan baik kita menjadi sebuah kekuatan besar. Mungkin kalau satu tangan – dua tangan tidak kentara kekuatannya, tetapi Ketika banyak tangan tersatukan, banyak kasih tersatukan; rasa peduli ini menjadi sebuah kekuatan besar untuk saling menguatkan, untuk saling meringankan. Dan kita melihat seperti cendawan di musim hujan, memutih di padang rumput yang hijau; alangkah indahnya!

Kita tahu bahwa Guru Agung kita juga mengajarkan banyak hal mulia untuk membawa kita kepada hal-hal luhur dalam kehidupan kita, seperti yang disampaikan dalam Dhammapada IV : 53 berikut ini:

“ Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini. ”

Pesan ini menyampaikan kepada kita bahwa dari tumpukan-tumpukan bunga yang mungkin terlihat biasa tetapi ketika semua tumpukan ini disatukan menjadi sebuah rangkaian besar akan menjadi karangan bunga yang indah seperti karangan-karangan bunga di altar Sang Buddha di Vihara kita ini terlihat begitu indah. Jika hanya setangkai, setangkai dengan warna-warna yang berbeda, mungkin hanya akan menjadi keindahan yang biasa. Tetapi lihatlah ketika tangkai-tangkai bunga yang berbeda warna, berbeda jenis ini, disatukan dalam sebuah rangkaian besar maka akan memperlihatkan keindahan yang luar biasa yang dapat membuat orang yang melihatnya merasa bahagia.
Demikian pula dengan kebajikan-kebajikan kecil yang masih dan mungkin dapat kita lakukan di rumah masing-masing. Lewat apa yang bisa kita lakukan, Lakukanlah! Jangan menunda, jangan menunggu sampai kita punya banyak untuk memberi dan berbagi; dengan apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah meskipun itu hanya kecil saja. Karena dari kebajikan-kebajikan kecil inilah, akan muncul sebuah kekuatan kebajikan yang besar. Kita percaya dan yakin bahwa bangsa kita – negeri kita akan dapat melewati semua ini jika semua anak bangsa – jika setiap kita dapat membuka hati kasih kita berbagi dan peduli dengan rasa kasih kita ini menjadi hal-hal yang dapat menguatkan saudara-saudara kita yang sangat terdampak karena kondisi ini. Tidak soal jika kita hanya dapat melakukan hal yang kecil, tetapi dari yang kecil itu jika digabungkan akan menjadi sesuatu yang besar.

Ketika kondisi sulit, justru kita harus benar-benar saling bersatu. Melihat orang lain sebagai saudara kita. Seperti dalam penggalan lirik lagu – Melody Kehidupan :

“ Mari teman dendangkan irama kasih, Bahagia hidup ini bila saling memberi. Semaikanlah kasih di dalam diri, Pasti hidup kita kan berarti. Peduli sesama tebarkanlah cinta, Sesungguhnya kita hidup bersaudara. ”

Indah sekali lagu ini. jika kita benar-benar merenungkan maknanya, bahwa sesungguhnya kita semua adalah saudara tanpa melihat siapa kita, apa suku kita, apa keyakinan kita, dan apa status sosial kita; kita semua adalah saudara. Saudara sebagai sesama anak bangsa, saudara sebagai sesama manusia. Dan lewat kebersamaan kita ketika hati baik ini muncul dan terus muncul menjadi kekuatan besar bagi bangsa dan negeri ini untuk melewati masa yang sulit, kita memiliki satu keyakinan bahwa kita bisa, Indonesia pasti bisa! Ya, kita bersama pasti bisa melewati semua masa-masa yang tidak mudah.

Jika kita mengingat bagaimana Buddha menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memberi dan berbagi, Beliau adalah contoh dan teladan yang begitu mulia dalam hidup kita. Ketika Beliau lahir sebagai seorang Pangeran dari sebuah kerajaan besar, pewaris tahta, putera mahkota; Beliau memiliki kelimpahan yang begitu luar biasa. Begitu banyak menggenggam apa yang diinginkan banyak orang, namun ketika pada akhirnya Beliau menyadari dan melihat bahwa tenyata sebagai seorang Pangeran – putra mahkota pewaris tahta, Ia tidak berbeda dengan rakyat jelata yang kelak akan Ia pimpin. Ia harus mengalami apa yang disebut usia tua, sakit dan kematian. Pada akhirnya kesadaran itu membuat Beliau mengambil sebuah keputusan besar. Dengan berfikir mendapatkan dan mencari sesuatu yang dapat membebaskan semua makhluk di alam semesta ini lepas dari penderitaan, lepas dari rasa sakit, lepas dari kesedihan; Beliau meninggalkan semua yang di miliki: harta, tahta, dan cinta. Hidup sebagai seorang Samana, berjuang selama 6 tahun di hutan Uruvela. Apa yang dilakukan Beliau adalah diawali oleh satu niatan luhur, niatan mulia berbagi dan memberi untuk membawa kebahagiaan bagi semesta dan semua makhluk di dunia dan juga di alam-alam lain. Sebuah niat yang begitu luhur. Sebuah niat yang menggetarkan hati kita. Dan perjuangan yang Beliau lakukan sungguh tidak mudah. 6 tahun berjuang dalam banyak rasa sakit, dalam banyak rasa sulit, dan juga banyak hal-hal lain yang tidak mudah: hinaan, cercaan, fitnah-an; Beliau lewati. Hingga akhirnya Beliau memupuk dan menempa dirinya berperang melawan ego-Nya sendiri, melawan diri-Nya sendiri mengalahkan Lobha, Dosa, dan Moha yang ada. Dan di saat-saat terakhir sebelum pencapaian Kesempurnaan, usai menerima dana makan dari Sujata, Beliau pergi ke tepi sungai Neranjara dan melemparkan patta (mangkuk) kemudian berkata “Jika waktu-Ku sampai, maka mangkuk ini akan berjalan melawan arus”. Apa yang terjadi? Mangkuk itu berputar 3 kali ke arah kanan dan berjalan melawan arus. Pertapa Siddharta paham bahwa telah tiba saat bagi-Nya untuk memenangkan pertarungan, berperang melawan diri-Nya sendiri mencapai kebebasan. Dan kemudian Beliau menuju ke bawah pohon Bodhi untuk melanjutkan Meditasi. Dan disitulah Beliau mengucapkan sebuah ikrar mulia, ikrar yang begitu luhur dengan kata-kata Nya yang menggetarkan semesta. “Sampai darah dan kulit-Ku mengering di tempat ini, Aku tidak akan bangkit sebelum kesempurnaan itu Aku capai”. Apa maknanya?
Jika dan untuk bisa membawa kebahagiaan bagi semua makhluk, membebaskan kita semua dari derita dan lara, darah dan kulit Nya mengering di tempat itu; Ia rela melakukannya untuk kita.

Masih dalam suasana Waisak, kita masih bisa mengingat keAgungan Buddha. Dengan kasih dan cinta Nya yang tanpa batas. Kemuliaan jiwa Nya yang tidak bertepi. Kebaikan Nya yang tidak pernah habis untuk kita. Berabad-abad Beliau telah parinibbana, namun damai kasihnya senantiasa menyertai kita lewat warisan Dhamma yang Beliau ajarkan. Jika seorang manusia yang kita sebut Buddha dan kita muliakan dalam keyakinan kita, sanggup dan mampu untuk menyatakan ‘sampai darah dan kulit Ku mengering ditempat ini, Aku tidak akan bangkit sebelum kesempurnaan itu Aku capai’ ; begitu Agung, begitu Mulia, begitu berlimpah kasih dan cinta yang Ia berikan untuk kita semua. Lantas, apa yang sudah kita lakukan untuk menyatakan rasa syukur dan terimakasih atas sebuah pemberian besar yang tidak terukur nilainya ini dalam hidup kita? Masih dalam suasana Waisak, ketika negeri dan bangsa kita sedang lara dan berduka karena wabah ini, Mari kita bersama-sama menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kita dengan menjalankan apa yang Guru Agung kita wariskan, melakukan apa yang Beliau pesankan. Jadikan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya menjadi keindahan bagi hidup kita semua. Munculkan rasa kasih, bangkitkan rasa peduli dan berbagi. Ulurkan tangan kasih kita kepada orang-orang yang membutuhkan di saat-saat yang tidak mudah ini. Jadikan diri kita – hidup kita dengan apa yang kita yakini menjadi kekuatan kebajikan bagi bangsa dan negeri ini. Lewat Puja kita hari ini, mari kita satukan hati kasih kita, mengenang Buddha yang kita Puja, mensyukuri apa yang telah Beliau berikan kepada kita sebagai anugrah terindah yang benar-benar patut kita syukuri. Mari satukan tangan kasih kita; seperti diawal sudah dikatakan bahwa jika satu atau dua tangan mungkin hanya akan menjadi kekuatan kecil; tetapi jika banyak tangan ini tersatukan maka akan menjadi kekuatan besar bagi kita, bagi negeri kita, dan bagi bangsa kita.
Semoga, jika pada saat ini di seantero negeri; hati hati baik terus bertumbuh, orang-orang baik terus bermunculan, maka kekuatan kasih yang besar ini akan membuat semua menjadi lebih mudah. Kita berdoa bersama; Semoga semua musibah, wabah dan bencana ini lekas usai adanya; Semoga saudara-saudara kita yang menderita, yang merasakan kesakitan dan kesulitan dapat terbantu dan mendapatkan pertolongan; Semoga para pemimpin kita senantiasa dapat berupaya yang terbaik untuk negeri. Dan Semoga kita semua senantiasa hidup dalam kasih dan juga rasa peduli karena sesungguhnya berbagi itu indah, berbagi itu membuat semua bahagia, dan berbagi adalah kekuatan terbaik yang dapat disatukan untuk bangsa dan negeri tercinta Indonesia.

Semoga hati kita semua selalu bahagia. Semoga hati dan pikiran kita selalu diliputi oleh rasa kasih dan juga kedamaian. Terimakasih.
Namo Buddhaya.




Related Postview all

Dhammadesana Waisak 2564 BE / 2020 YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera

access_time17 Mei 2020 - 00:15:15 WIB pageview 393 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Detik-detik Waisak tahun ini yaitu pada Kamis, 7 Mei 2020 tepatnya pukul 17:44:51 WIB kita sambut dengan sangat sederhana. Tidak ... [Selengkapnya]

Pohon Kekotoran Batin

access_time17 Mei 2020 - 00:11:05 WIB pageview 845 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) "Kiccho manussapatilābho, Kiccham maccana jîvitam. Kiccham saddhammasavanam, Kiccho Buddhānam uppādo" "Sungguh sulit untuk ... [Selengkapnya]

Kamma dan Tumimbal Lahir

access_time13 Mei 2020 - 00:16:08 WIB pageview 567 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) "Yâdisam labhate bîjam tâdisam labhate phalam. Kalyânakârî ca kalyânam ... [Selengkapnya]

Menanami Hati Dengan Bunga

access_time22 Maret 2020 - 23:52:28 WIB pageview 533 views

Hati kita ibarat taman. Seperti layaknya taman ditumbuhi bunga-bunga yang indah, rumput liar dan benalu. Bunga yang indah adalah kualitas hati kita yang baik (seperti: keyakinan kita ... [Selengkapnya]

I am Buddhist

access_time22 Maret 2020 - 19:00:19 WIB pageview 587 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sudah merasa diri sebagai Buddhis? Ya!I am Buddhist! Saya Buddhist!I am? Saya.Saya itu siapa? Saya itu adalah makhluk hidup yang ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu