Berita / Artikel

Makna Ceng Beng


MAKNA CENG BENG
-------------------------------------------
oleh: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera
Mengenang Alm. YM. Sudhammo Mahathera - Bhikkhu Kepala Vihara Ratanavarana Arama, Sendang Coyo, Lasem, Jawa Timur
Penulis & Editor: Lij Lij


Mengingat orang yang sudah meninggal itu sebenarnya secara tradisi ada 2 macam kesempatan. Dalam 1 tahun, kesempatan yang pertama adalah Ceng Beng yaitu di bulan April, bahkan kadang-kadang orang menetapkan tanggal 5 April. Tanggal 5 bulan 4. Sulit untuk diketahui sebabnya mengapa Ceng Beng yang tradisi Tiongkok ini koq bisa ditepatkan dengan bulan nasional. Tetapi OK lah yang kita ketahui adalah 5 bulan April.
Kemudian, tradisi lain untuk memperingati orang meninggal adalah Ulambana pada bulan 7. Kalau ini pakai bulan Imlek yaitu bulan 7 tanggal 15 Imlek. Ini nanti jatuhnya kira-kira bulan Agustus. Sekitar bulan Agustus atau September.

Apa bedanya antara 2 tradisi Ceng Beng yang pada bulan April dengan yang sering disebut Ulambana atau patidana bulan Agustus?

Kalau Ceng Beng ini cenderung pada orang yang kita kenal. Jadi kita berkunjung pada keluarga kita. Sedangkan yang bulan Agustus - patidana ini biasanya untuk mereka yang tidak kita kenal atau yang sudah ditinggal oleh keluarganya, sudah tidak mau mengunjungi makam lagi.

Jadi 2 kesempatan ini sebetulnya tujuannya berbeda. Oleh karena itu kalau pada kesempatan saat ini, menjelang bulan April maka rasanya tepat sekali bagi kita untuk membahas tentang Ceng Beng.
Berarti Ceng Beng adalah untuk memperingati mereka yang kita kenal. Mungkin diantara kita ingin tau riwayatnya. Bagaimana koq bisa ada Ceng Beng? Anda mungkin sudah sering ke kuburan untuk sembahyang tetapi masih tidak tau kenapa bisa begitu?
Ada beberapa riwayat tentang Ceng Beng dari berbagai sumber.
Salah satunya seperti berikut ini:

Ceng Beng ini sebenarnya pada suatu ketika ada seorang Raja yang ingin mencari makam orangtua-nya. Jadi sebetulnya, Ceng Beng ini dulunya tradisi 'orang bingung' šŸ˜; tapi pandai. Mengapa demikian? Karena pada jaman dulu, pada umumnya raja itu adalah berdasarkan turun-temurun. Namun ada kalanya dipilih dari menteri / perdana menteri yang hebat dan baik. Untuk menjadi menteri / perdana menteri yang bagus, biasanya harus melewati banyak tataran. Pada waktu itu, ada calon raja yang berasal dari sebuah desa yang ikut ujian negara untuk mencapai gelar kesarjanaan tingkat lokal. Kemudian dia lulus, lalu lanjut ketingkat yang lebih tinggi hingga ke tingkat ibukota dan lulus. Kemudian bekerja di ibukota mulai dari pangkat yang rendah, naik, naik, naik terus sampai tidak sempat menengok orangtua-nya yang di desa. Karena kesibukannya yang luar biasa, dan komunikasi yang tidak selancar hari ini; maka dia tidak sempat 'telpon, email' šŸ˜… karena memang belum ada. Lalu orang ini selalu aktif di dalam karirnya sampai dia menjabat sebagai Raja. Ketika menjadi Raja, orang ini ingin pulang menjemput orangtuanya. Ketika pulang, dia tidak dapat bertemu dengan orangtuanya karena mereka telah meninggal dan dikubur di kuburan desa. Tapi yang mana kuburannya??? Tidak tau.
Karena tidak ada yang merawat kuburannya sementara di kuburan desa terdapat banyak gundukan-gundukan tanpa nama. Tak ada 'bong-pai' nya. Raja yang tidak tau kuburan orangtuanya ini bingung. Bagaimana caranya mencari kuburan orangtuanya? Kemudian Raja yang bingung ini punya akal šŸ’”.
Dunia ini kalau ketemu orang yang punya akal - lancar semua; asal akalnya tidak untuk 'ngakali'. Pikir Raja, karena dirinya adalah Raja maka dia punya hak dan kekuasaan untuk memerintah. Bahwa pada tanggal sekian bulan ini, semua kuburan harus dibersihkan oleh anak turunannya. Dan kuburan yang sudah dibersihkan, dikunjungi dan sudah disembahyangi harus diberi tanda dengan kertas merang (kertas sembahyang). 2 hari setelah perintah tersebut dilakukan oleh masyarakat desa, Raja pun datang ke kuburan. Semua kuburan bersih dan sudah ditandai. Setelah dilihat sekeliling ternyata ada kuburan yang belum terurus, berarti itulah kuburan orangtua Raja. Dan Raja pun menemukan kuburan orangtuanya.
Sejak saat itu menjadi tradisi setiap Ceng Beng, datang ke kuburan, bersihkan kuburan, sembahyang disana.
Ceng Beng yang asal-muasalnya adalah 'mencari kuburan'; saat ini sebetulnya adalah 'reuni'. Semua orang datang berkumpul dari berbagai tempat, banyak sanak keluarga datang.
Jadi kalau sekarang kita melihat di dalam kebudayaan, Ceng Beng ini sudah menjadi ajang reuni. Yang dulunya untuk mencari kuburan, sekarang untuk bertemu setahun sekali kumpul bersama bersih-bersih kuburan. Ini adalah tentang tradisi.

Apa yang sebenarnya kita datangi waktu Ceng Beng di kuburan atau krematorium atau kumpul keluarga di rumah yang 'membawa abu'? Apa hubungan tradisi Ceng Beng ini dengan kesuksesan?

Pada saat seorang umat Buddha melakukan upacara Ceng Beng, sebetulnya dia bukan hanya sekedar mengikuti tradisi. Juga bukan hanya sekedar sembahyang. Tetapi dia harus melakukan perenungan.
Apa yang direnungkan? Adalah apa yang telah mereka (orang yang kita kenal: dalam hal ini mendiang orangtua kita, kakek-nenek kita, sanak keluarga, para leluhur kita) lakukan selama hidupnya. Pada umumnya Ceng Beng diawali dengan 'kisah-kasih di rumah'. Jadi biasanya diceritakan kisah turun-temurun ke anak cucu cicit nya.

Di dalam kisah kehidupan seseorang pasti ada kebaikan dan keburukan. Tetapi biasanya yang diceritakan kepada anak-cucu nya adalah hal-hal yang baik saja. Sebetulnya setiap manusia secara alamiah selalu mempunyai 2 sisi: negatif dan positif.
Pada saat kita merenungkan negatif dan positif nya 'nenek-moyang' kita, maka yang terpikir di dalam diri kita harusnya adalah 'apa nilai baik yang dimiliki mereka, yang harus diikuti karena kita adalah keturunannya; harus bisa lebih hebat'.
Kita harus dapat memberikan yang lebih hebat daripada leluhur kita.

Itu adalah sebetulnya melihat dari nilai positif orang karena di dalam Dhamma sebetulnya kelebihan orang adalah 'guru' kita.
Jangan hanya kita kagum dengan 'engkong' kita; sama dengan sebagian umat Buddha yang happy-nya kagum dengan agama Buddha; cuma kagum saja: wah, agama Buddha hebat, penuh kesabaran, cinta kasih, maaf; tetapi begitu ada orang yang menyakiti 'langsung pukul' tanpa ingat bahwa dirinya Buddhis. Ini namanya kita hanya meng-agung-kan agama Buddha tetapi tidak melaksanakan Dhamma.
Di dalam Dhamma itu dianggap seperti 'menghitung sapi-nya orang'. Jadi kita hanya kagum 'wah di tetangga sapinya 20; tapi tetangga punya; sedangkan aku gak punya apa-apa; disana ada 500 tapi punya orang, aku gak punya'.
Kadang kita sebagai umat Buddha juga sering begitu; BANGGA dengan agama Buddha tetapi tidak ada yang dilakukan. Kalau diskusi hebat sekali, bukunya hafal semua, paritta juga hafal, Bhikkhu nya kadang kalah hafal; tetapi kelakuannya belum mencerminkan Buddhis yang cinta kasih dan welas asih.
Sama dengan 'engkong' tadi; kita kadang hanya kagum 'engkong-ku dulu pahlawan, engkong-ku dulu berjasa' tapi apa yang telah kita lakukan atas nama engkong? Tidak ada.
Padahal di dalam Dhamma disampaikan bahwa salah satu tugas kita sebagai anak-keturunan adalah menjaga nama baik keluarga. Nama baik / nama buruk kita ada kaitannya dengan keluarga. Makanya kalau kita sudah bangga atas 'engkong' kita yang telah melakukan sesuatu maka kita harus menjadikan perilaku yang membanggakan tersebut menempel pada diri kita.

Sebelum kita bisa lebih hebat dari 'engkong' kita seharusnya malu; mengapa belum sehebat 'engkong'?
Di sisi lain, setiap orang ada kelebihan dan kekurangan. Kalau dalam management modern, kekurangan dianggap sebagai kelemahan. Banyak orang sekitar 97% melakukan kegiatan yang selalu sama setiap harinya. Lewat jalan yang sama setiap hari, duduk di kursi yang sama setiap hari; sehingga sangat mudah diketahui - digambar kebiasaannya. Inilah salah satu contoh kelemahan yaitu kurangnya kreatifitas sehingga sangat mudah 'terbaca' dan ini menjadi salah satu penyebab mengapa manusia mudah dijahati karena selalu 'posisinya sama'.
Kekurangan seseorang ini sering dijadikan kesempatan bagi orang lain yang tidak suka untuk menghancurkan.

Di dalam Dhamma, kalau kita melihat ada kekurangan (dalam hal ini ketika kita berkunjung ke makam keluarga / leluhur kita) maka kita seharusnya menjadikan kekurangan tersebut sebagai pembangkit semangat. Kekurangan dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh 'leluhur' kita hendaknya menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Melihat kekurangan orang lain bukanlah kesempatan untuk menjatuhkan tetapi adalah kesempatan untuk kita belajar.

Jadi pada saat kita 'berkunjung', kita melihat 2 hal yaitu: kelebihan dan kekurangan. Bahkan ketika kita berkunjung ke makam siapapun juga, bahkan mengenang makam siapapun juga, pahlawan-pahlawan sekalipun; kita boleh mengenang 2 hal ini.
Apa kelebihan dan kekurangan 'orang' yang kita kunjungi. Semua itu jadikan pelajaran. Makin sering kita pergi ke kuburan, sering berkunjung ke orang meninggal; maka kita akan semakin 'maju' karena bisa melihat kelebihan orang yang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya sehingga kita dapat banyak belajar. Kita juga bisa belajar dari kekurangan yang satu dengan yang lainnya yang berbeda juga; sehingga jika kita dapat terus belajar seperti ini maka kita akan maju. Disini kita melihat kelebihan dan kekurangan orang lain sebagai 'guru'.

Kita juga harus melihat diri kita sendiri. Kita semua juga punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan jangan dibanggakan.
Apalagi membanggakan kekurangan: 'memang watak ku sudah begini koq, tidak bisa diperbaiki lagi. Dari dulu memang sudah bodoh, ya sudah bodoh saja'.
Itu namanya membanggakan kekurangan. Kalau kita sudah 'mikir' begitu, lalu kapan pintarnya?
Ketika kita menyadari kekurangan diri sendiri mari kita dorong, kita perbaiki. Kalau dulu bodoh, sekarang minimal tidak terlalu bodoh. Belum pintar memang, tapi sudah tidak terlalu bodoh.

Kekurangan kita adalah kelemahan yang harus kita perbaiki.
Setiap saat kita harus tingkatkan untuk memperbaiki diri kita. Jangan sampai kita 'bangga' dengan kelemahan kita. Jika kita tau diri kita malas, maka kita harus memperbaiki diri sehingga kemalasan menjadi berkurang.
Sebaliknya kelebihan yang kita miliki harus kita tingkatkan sehingga akhirnya hidup ini isinya adalah belajar.

Kesuksesan itu bukan satu tahap yang berhenti pada suatu saat. Kesuksesan itu adalah berkesinambungan.
Kalau anda bisa hari ini sukses, besok sukses, lusa sukses, kapan-kapan sukses, disini sukses, disana sukses, dimana-mana sukses; maka kebahagiaan luar biasa.
Tetapi kalau disini sukses, disana tidak sukses maka itu belum sukses namanya; masih ada sudut kekurangan yang harus kita perbaiki lagi. Jadi di dalam kehidupan kita, sepanjang jaman sepanjang masa; tingkatkan apa yang menjadi kelebihan kita; dan perbaiki apa yang menjadi kekurangan kita supaya kualitas diri kita setiap saat menjadi meningkat.

Melihat kelebihan orang.. IKUT! Jangan iri. Jadikan sebagai guru agar kita bisa maju. Sebaliknya melihat kekurangan orang.. JANGAN DITIRU! Hindari hal negatif dan lakukan hal positif.

Selama kita dapat menjadikan orang-orang di sekitar kita baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal sebagai guru; kelebihan diikuti, kekurangan dihindari; meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan kita; maka kita akan dapat melihat bahwa kesuksesan itu adalah hasil perbuatan kita sendiri.

Oleh karena itu, Ceng Beng menjadi tradisi untuk kita berkunjung ke makam orang yang kita kenal.
Ceng Beng sebagai sarana untuk kita bisa sukses ketika kita menyadari kelebihan dan kekurangan orang itu untuk perbaikan kualitas diri kita sendiri sehingga setiap kali setelah acara Ceng Beng kita menjadi lebih baik, dan semakin baik yang pada akhirnya kesuksesan akan datang menghampiri kita terus menerus.

Semoga Bermanfaat.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Apakah Social Distancing Melemahkan Keyakinan Kita kepada Dhamma?

access_time31 Maret 2020 - 01:22:05 WIB pageview 581 views

Dengan keberadaan virus corona yang saat ini merebak di negara Indonesia; pemerintah Indonesia menghimbau kepada masyarakat, kepada warganya untuk melakukan Social Distancing untuk tidak ... [Selengkapnya]

Cara Berpikir Sesuai Buddha Dhamma

access_time31 Maret 2020 - 01:19:30 WIB pageview 800 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambhuddhasa (3x) Taį¹ kho panidaį¹ dukkhanirodhagāminÄ« patipadā ariyasaccaį¹ bhāvetabbanti Jauh sebelum Guru Agung kita dilahirkan, jauh sebelum ... [Selengkapnya]

Menanami Hati Dengan Bunga

access_time22 Maret 2020 - 23:52:28 WIB pageview 532 views

Hati kita ibarat taman. Seperti layaknya taman ditumbuhi bunga-bunga yang indah, rumput liar dan benalu. Bunga yang indah adalah kualitas hati kita yang baik (seperti: keyakinan kita ... [Selengkapnya]

I am Buddhist

access_time22 Maret 2020 - 19:00:19 WIB pageview 587 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sudah merasa diri sebagai Buddhis? Ya!I am Buddhist! Saya Buddhist!I am? Saya.Saya itu siapa? Saya itu adalah makhluk hidup yang ... [Selengkapnya]

Bijak Dalam Menghadapi Masalah & Cara Mencapai Kebahagiaan

access_time22 Maret 2020 - 18:52:54 WIB pageview 494 views

YM. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera membuka seminar ini dengan sebuah 'mantra' yaitu : "Menghadapi masalah adalah No Problem." Pertama kita harus tahu rahasia mendapatkan ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu