Berita / Artikel

Apakah Social Distancing Melemahkan Keyakinan Kita kepada Dhamma?


Apakah keyakinan kita terhadap agama dianggap lemah karena melakukan SOCIAL DISTANCING dan MENGHINDARI PUJABAKTI BERSAMA?
-by: YM. Bhikkhu Santacitto Ph.D.-
Penulis & Editor: Lij Lij


Dengan keberadaan virus corona yang saat ini merebak di negara Indonesia; pemerintah Indonesia menghimbau kepada masyarakat, kepada warganya untuk melakukan Social Distancing untuk tidak berkerumun; bahkan even-even yang besar yang biasa dilakukan di tempat ibadah termasuk melakukan pujabakti bersama sekarang dihimbau untuk tidak dilakukan.

Mungkin beberapa orang disini termasuk beberapa umat Buddha berpikir kalau hanya dengan virus corona kita takut untuk melakukan pujabakti bersama berarti keyakinan, berarti Saddha kita terhadap Sang Buddha, terhadap Dhamma tidak kuat.
Malahan ada yang mengatakan; tidak usah takut untuk pujabakti bersama, kalau itu bukan bagian dari karmamu maka tidak akan ada bahaya yang datang menimpamu.

Apakah demikian? Apakah dengan melakukan Social Distancing yang saat ini dibutuhkan oleh kita warga masyarakat Indonesia, berarti keyakinan kita tidak kuat terhadap Dhamma, terhadap Sang Buddha?

Bukankah Sang Buddha mengajarkan kita untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga orang lain?
Bukankah Beliau mengajarkan kita untuk melakukan hal yang tidak merugikan diri sendiri dan juga orang lain?
Mengajarkan kita untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain?
Bukankah di dalam Dhamma kita diajarkan untuk mencintai semua makhluk?
Bukankah Sang Buddha juga mengatakan kepada kita bahwa siapapun yang melindungi diri sendiri, sesungguhnya dia melindungi orang lain. Dan siapapun yang melindungi orang lain sesungguhnya dia melindungi diri sendiri.

"Yo attānaṁ rakkhanto paraṁ rakkhati; yo paraṁ rakkhanto attānaṁ rakkhati."

Justru dengan kondisi yang saat ini kita membutuhkan untuk melakukan social distancing; ini adalah bentuk keyakinan kita terhadap Dhamma, ini adalah keyakinan kita terhadap Sang Buddha; karena inilah praktek yang diajarkan oleh Sang Buddha, praktek Dhamma yang meminta kita untuk melakukan yang terbaik tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Jika kita tidak bisa pergi keluar maka saat ini kita bisa pergi ke dalam, kita melihat ke dalam diri, kita mengenal ke dalam diri dan itulah sesungguhnya hal yang jauh lebih bermanfaat ketimbang kalau kita hanya melihat ke luar.


Bagaimana pandangan agama Buddha ketika kita harus menghadapi seperti yang sekarang kita hadapi; penyakit Virus Corona yang merebak dimana-mana?

Tentu kita sebagai manusia, sebagai makhluk, apalagi kita yang memahami Ajaran Sang Buddha; kita harus menerima bahwa penyakit adalah sesuatu yang wajar, penyakit adalah sesuatu yang pasti akan kita terima tidak hanya virus corona yang bisa saja datang pada kita tetapi juga banyak penyakit fisik yang akan datang pada kita.

Tetapi walaupun penyakit adalah sesuatu yang wajar, wajar bagi tubuh; siapapun, setiap makhluk, tentu kita harus menjaga tubuh kita karena kita tau bahwa kehidupan sebagai manusia adalah kehidupan yang sangat berharga dan ketika kita sehat secara fisik, kitapun dengan mudah dapat mempraktekkan Ajaran yang baik, kita dapat dengan mudah mempraktekkan kebajikan, melakukan kebajikan.

Oleh sebab itu, tetap kita harus menjaga tubuh kita semaksimal mungkin. Tetapi lebih dari itu adalah tidak hanya kita menjaga fisik kita, kita pun harus menjaga batin kita. Jangan karena keberadaan penyakit / virus corona yang sekarang sedang merebak dimana-mana membuat kita menjadi cemas, menjadi gelisah, menjadi panik.

Kita tetap harus menjaga batin kita sehingga disini dengan keberadaan penyakit yang ada tentu kita harus mencari obat; seperti Sang Buddha, walaupun Beliau seorang Buddha, ketika sakit Beliau juga menggunakan obat.

Tetapi seandainya suatu saat penyakit datang pada kita, apapun penyakitnya; nasehat Sang Buddha adalah kita harus merenungkan. Kalau memang penyakit sudah ada, dan kita tidak dapat disembuhkan dari penyakit tersebut walaupun kita sudah menggunakan berbagai macam cara untuk menyembuhkannya; maka kita harus merenung; Biarlah fisik sakit, yang terpenting batin saya tidak sakit. Itulah renungan dan itulah latihan yang harus kita lakukan pada saat seandainya penyakit datang pada kita.

Semoga Bermanfaat.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Cara Berpikir Sesuai Buddha Dhamma

access_time31 Maret 2020 - 01:19:30 WIB pageview 801 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambhuddhasa (3x) Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodhagāminī patipadā ariyasaccaṁ bhāvetabbanti Jauh sebelum Guru Agung kita dilahirkan, jauh sebelum ... [Selengkapnya]

Menanami Hati Dengan Bunga

access_time22 Maret 2020 - 23:52:28 WIB pageview 534 views

Hati kita ibarat taman. Seperti layaknya taman ditumbuhi bunga-bunga yang indah, rumput liar dan benalu. Bunga yang indah adalah kualitas hati kita yang baik (seperti: keyakinan kita ... [Selengkapnya]

I am Buddhist

access_time22 Maret 2020 - 19:00:19 WIB pageview 587 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sudah merasa diri sebagai Buddhis? Ya!I am Buddhist! Saya Buddhist!I am? Saya.Saya itu siapa? Saya itu adalah makhluk hidup yang ... [Selengkapnya]

Bijak Dalam Menghadapi Masalah & Cara Mencapai Kebahagiaan

access_time22 Maret 2020 - 18:52:54 WIB pageview 494 views

YM. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera membuka seminar ini dengan sebuah 'mantra' yaitu : "Menghadapi masalah adalah No Problem." Pertama kita harus tahu rahasia mendapatkan ... [Selengkapnya]

Mempraktikan Buddha Dhamma Demi Kebahagiaan dan Kesejahteraan Semua Makhluk

access_time03 Maret 2020 - 00:52:49 WIB pageview 790 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhāNibbānaṁ paramaṁ vadanti BuddhāNa hi pabbajito parūpaghātῑSamaṇo hoti paraṁ ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu