Berita / Artikel

Cara Berpikir Sesuai Buddha Dhamma


CARA BERPIKIR SESUAI BUDDHA DHAMMA
-YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera-


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambhuddhasa (3x)

Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodhagāminī patipadā ariyasaccaṁ bhāvetabbanti


Jauh sebelum Guru Agung kita dilahirkan, jauh sebelum Siddharta mencapai pencerahan – mencapai ke-Buddha-an; manusia pada umumnya berpikir kalau dia mendapatkan keuntungan, pekerjaan yang lebih baik, kehidupan yang maju, naik pangkat, makmur adalah hadiah / blessing / berkah dari ‘makhluk yang tidak tampak’ - Maha Kuasa / Maha Brahma dan lain-lain.
Tetapi ketika kita mengalami musibah: kehancuran, usaha menurun, kegagalan; maka kebanyakan orang berpikir bahwa ‘kita sedang dihukum – kita terkena hukuman’.

Manusia hanya berpikir berkah atau hukuman; hukuman atau berkah.
Kalau hidupnya berhasil maka itu berkah; kalau hidupnya menurun / mengalami kegagalan / kehancuran maka itu adalah hukuman atau mungkin kutukan.
Manusia sejak jaman Guru Agung kita bahkan sampai sekarang, cara pikirnya sederhana ‘kalau maju – berkah, kalau gagal – hukuman’. Antara hadiah dan hukuman; hukuman dan hadiah.
Justru pada saat Guru Agung kita mengajarkan Dhamma untuk pertama kali, Guru Agung kita membuang pikiran yang seperti itu.

Hidup kita ini bukan hadiah dan hukuman.
Jalan hidup kita ini bukanlah hukuman ataupun hadiah; tetapi adalah sebab akibat.

Kalau kita berhasil, maju dan terus maju, hidup sejahtera; itu karena akibat perbuatan-perbuatan baik kita, keuletan kita, usaha kita yang sungguh-sungguh. Tetapi jika kita mengalami kegagalan – kehancuran, itu juga akibat dari perbuatan kita yang sembrono; kejahatan, keburukan dan lain-lain.
Menurut Ajaran agama Buddha tidak ada hadiah – reward, tidak ada hukuman – punishment; TIDAK ADA.
Menurut Ajaran agama Buddha yang ada hanyalah Consequences – konsekuensi dari perilaku kita. Kalau lincah, rajin maka akan maju, banyak melakukan yang baik – maju; tapi kalau sembrono, malas, suka menipu dan berbuat jahat maka akan hancur. Itu adalah Hukum Alam, universal untuk semuanya bukan hanya untuk umat Buddha saja. Apakah bisa manusia menerima pandangan seperti ini? SULIT.
Sebagian orang mungkin masih gampang menerima hadiah dan hukuman. ‘Pokoknya kalau usaha saya ini maju, maka berarti saya mendapat hadiah, dapat berkah; kalau usaha ini mulai turun maka berarti kena hukuman’.
Banyak orang yang lebih senang memiliki pikiran / pandangan seperti itu. Sulit untuk diajak bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri; sulit sekali. Padahal Guru Agung kita mengatakan kalau kamu merosot maka itu adalah tanggung jawab kamu sendiri, jangan melemparkan kepada orang lain; kalau kamu berhasil - maju maka itu adalah hasilmu bukan hadiah. Bukan Reward – bukan Punishment; tetapi Konsekuensi dari perbuatan kita.
Ajaran Guru Agung kita amat berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada waktu itu sampai sekarang. Orang-orang menjadi kaget – terkejut sekali. Orang-orang selama ini berpikir kalau menjadi maju dan makmur adalah berkah; sedangkan kalau gagal, terkena penyakit, segala macam penderitaan adalah karena sedang dihukum. Tetapi Sang Buddha membuang itu semua; tidak ada itu hadiah, tidak ada hukuman, TIDAK ADA.
Yang anda alami adalah akibat perbuatan anda sendiri, bukan hukuman bukan hadiah.

Ketika Sang Buddha selesai memberikan khotbah pertama-Nya “Dhammacakkappavattana Sutta” ; dikatakan:

Dasasahassī lokadhātu saṅkampi sampakampi sampavedhi, appamāṇo ca oḷāro obhāso loke pāturahosi atikkammeva devānaṁ devānubhāvaṁ.

> artinya: sepuluh ribu tata surya / sepuluh ribu matahari bergoncang, dari bumi muncul sinar yang sangat terang melebihi cahaya para Dewa.

Yang dimaksudkan dengan sepuluh ribu matahari / tata surya bergoncang – bergetar adalah melambangkan tata surya pikiran manusia yang bergetar, terkejut karena yang selama ini mengharapkan berkah-berkah dihapus oleh Sang Buddha; tidak ada berkah. Jika anda berhasil dan maju itu akibat karma; jika anda gagal anda hancur itu juga akibat karma. Kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Ada Hukum Karma yang universal yang berlaku bagi semua orang, bukan hadiah bukan hukuman. Kita tidak perlu memohon berkah dan meminta pengampunan; TIDAK PERLU.
Karena kalau kita maju itu akibat karma baik kita, kalau kita hancur itu konsekuensi dari kesembronoan kita. Itulah yang mengejutkan sepuluh ribu tata surya pikiran manusia menjadi bergoncang.
Lalu apa artinya dari bumi muncul sinar yang sangat terang melebihi cahaya para Dewa? Itu adalah mereka yang dapat menerima, dapat membuang pengertian yang sebelumnya dan dapat menerima bahwa hidup ini bukan hadiah dan hukuman; bukan hukuman dan hadiah tetapi konsekuensi dari perbuatan kita. Pencerahan pikiran itulah yang dilambangkan dengan muncul sinar yang lebih terang dari sinar para Dewa; yang menerangi pikiran kita; bukan terang secara fisik tetapi terang yang menjernihkan pikiran kita dari pengertian sebelumnya yang tidak sesuai dengan ‘The Truth – Kesunyataan’.

Sang Buddha juga menjelaskan ada penderitaan dalam kehidupan ini, tetapi hidup ini bukan sepenuhnya penderitaan. Ada penderitaan tetapi tidak semuanya menderita; karena penderitaan itu dapat diatasi, bukan tidak dapat diatasi. Keinginan yang tidak tercapai membuat kita menderita, berkumpul dengan yang tidak disenangi itu penderitaan, berpisah dengan yang kita cintai itu penderitaan, demikian pula menjadi tua – terkena sakit – dan kematian. Hanya sedikit orang yang menunggu kematian. Sebagian besar takut akan kematian. Mengharapkan sesuatu tidak tercapai itu penderitaan.

Kemudian Sang Buddha menyimpulkan "saṅkhittena pañcupādānakkhandā dukkhā" - sebenarnya pañcakhanda ini yang membuat kita melekat inilah adalah penderitaan.

Singkatnya 5 kelompok yang membuat kita ketagihan inilah penderitaan.
5 kelompok itu apa?
1. Jasmani
2. Perasaan
3. Pencerapan / ingatan
4. Pikiran
5. Kesadaran

5 Kelompok ini membuat kemelekatan; dan melekat itu penderitaan.
Jasmani ini mempunyai kemelekatan. Kalau biasa tidur diatas kasur lalu diminta tidur di atas karpet, semalaman pasti tidak bisa tidur, sakit semua, karena jasmani ini melekat pada kasur yang empuk. Pakaian yang nyaman kalau diganti dengan bahan yang kasar, wah gatal-gatal semua karena biasa memakai yang sutra yang harganya mahal. Demikian pula dengan mata kita, telinga kita, hidung kita, mulut kita; semua mempunyai kelekatan – attachment.
Demikian juga dengan perasaan. Ada perasaan-perasaan tertentu yang kita senangi. Kalau usaha kita berhasil, kita mendapatkan pujian, disanjung-sanjung; wah hati akan berbunga-bunga, dan itu memanggil-manggil kita; sehingga ketika usaha kita berhasil dan tidak ada yang memuji – maka kita kecewa. Demikian juga membenci; jika kita membenci seseorang hingga kita melakukan sesuatu agar yang dibenci itu menderita maka senanglah kita. Kalau yang kita benci belum terpojok; kita belum puas. Ini penyakit: senang melihat orang susah; susah melihat orang senang.
Sama halnya dengan pikiran; dan biangnya itu adalah kesadaran – viññana. Kesadaran hidup – bukan kesadaran ‘awareness’. Pikiran itu punya banyak sekali kemelekatan. Kemelekatan dalam bahasa yang mudah dipahami disebut ketagihan. Kalau sudah ‘kepingin’ tapi tidak didapatkan rasanya ‘setengah mati’.

Oleh karena itu Guru Agung kita mengatakan pañcakhanda ini sumber kemelekatan: jasmani, perasaan, ingatan, pikiran, dan kesadaran; disebut Pañca-upadanakkhanda.

Apakah Sang Buddha, para Arahat tidak memiliki Pañcakhanda – karena dikatakan Pañcakhanda ini adalah penderitaan? Punya; Sang Buddha, Arahat mempunyai Pañcakhanda tetapi benar-benar Pañcakhanda bukan Pañca-upadanakkhanda, bukan 5 kelompok kemelekatan; tetapi benar-benar 5 kelompok dan bukan menjadi kemelekatan.

Mengapa kita bisa menderita? Kemudian menjadi sedemikian ‘lengket’ seperti itu? Kelengketan / ketagihan itu muncul karena keinginan yang diulang-ulang. Senang terus-menerus, maka kesenangan itu menjadi ‘candu’ yang jika tidak dipenuhi menimbulkan kegelisahan.
Contoh kecanduan jaman now adalah gadget; dulu ketika belum ada handphone saat menghadari rapat / konferensi; dikala waktu ‘break’ – jeda maka para peserta rapat biasanya akan saling berbicara saling menyapa sambil minum teh/kopi; tapi jaman now – saat waktu jeda maka semua ‘meditasi’ alias fokus memperhatikan handphone-nya masing-masing; disapa ditegur tidak perduli. Handphone menjadi kemelekatan baru.
Pakaian, handphone, keinginan makan, apa yang dilihat apa yang didengar; kalau kesenangan-kesenangan tersebut tidak hati-hati kita biarkan terus berulang-ulang maka akan menjadi kemelekatan.

Apakah tidak boleh menikmati hal-hal yang menyenangkan tersebut? Boleh, agama Buddha tidak melarang, tetapi jangan melekat. Kalau melekat maka akan mengikat kita sehingga menjadi ketagihan. Ketagihan pujian, ketagihan sanjungan, ketagihan suara-suara merdu, ketagihan bau wewangian, ketagihan keindahan yang dilihat, ketagihan makan, ketagihan sexual, ketagihan apa yang kita pakai, dan macam-macam lainnya. Mengapa ketagihan? Karena diulang, diulang, dan diulang terus. Kepingin – dituruti, kepingin – dituruti; lagi, lagi, dan lagi; menjadi candu; melengket. Dan itulah penderitaan.

Apa yang dijelaskan Sang Buddha sesungguhnya bukan metafisika. Sumber penderitaan bukan dari alam lain, bukan dari makhluk lain, bukan dari kekuatan lain. Sumber penderitaan kita itu karena kita melekat, membuat ikatan, membuat penjara untuk kita sendiri. Penjara itu adalah ketagihan pancaindra ini.
Keinginan yang diulang-ulang itu memperkuat kilesa – kotoran batin. Jadi kalau orang sudah kecanduan minuman keras karena dia menikmati itu berulang-ulang kemudian menjadi ketagihan. Begitu melihat minuman keras, muncullah kotoran batin ini; kepingin.
Demikian juga yang hobby gonti-ganti ‘pacar’ begitu melihat wanita cantik, muncullah kilesa itu; sama halnya dengan wanita yang suka berganti pria.
Oleh karena itu berhati-hatilah dengan pancaindra kita pada saat melihat, mendengar, merasakan sesuatu.

• Bagaimana caranya berhati-hati?
1. Kilesa yang kasar
Kilesa yang kasar sekali seperti berkata-kata tidak benar, menipu, mencuri, mengganggu orang lain. Pendeknya; ucapan dan perbuatan buruk adalah kotoran batin yang kasar.
Kotoran batin yang kasar ini diibaratkan pohon adalah ranting dan daun-daunnya.

• Bagaimana mengatasinya? Menjalankan Sīla; berprasetia – bukan bersumpah; berprasetia tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, menjaga ucapan, dan tidak mabuk.
Kalau ucapan dan perbuatan ini dikendalikan maka kotoran batin yang kasar akan lenyap; seperti pohon yang daunnya diguntingi, rantingnya dipotong.

• Tapi apakah kotoran batinnya masih? Masih. Kotoran batin yang kasar – lenyap; kotoran batin yang halus masih ada. Seperti apa kotoran batin yang halus?

2. Kilesa yang halus
Kotoran batin yang halus itu ada di dalam pikiran. Perilaku baik, ucapan baik, pikirannya belum tentu baik. Karena orang lain tidak dapat melihat pikiran kita.
Yang dapat mengerti pikiran kita hanyalah kita sendiri, orang lain tidak bisa. Perilaku kita baik, ucapan kita baik, tidak mengganggu orang lain belum tentu pikiran kita baik. Disana ada hawa nafsu, disana ada itikad jahat, disana ada kemalasan, disana ada kegelisahan, disana ada keragu-raguan, disana ada kotoran-kotoran batin yang lain; kāmacchanda – byāpāda – thina-middha – uddhacca-kukkucca – vicikicchā.
Siapa melihat pikiran yang keruh? Orang lain tidak bisa melihat. Kita sendiri yang dapat melihat pikiran kita ini sedang tentram atau sedang galau.

• Bagaimana cara membersihkannya? MEDITASI.
Hanya meditasi yang dapat membersihkan pikiran kita.
Tata susila, tata krama, kesusilaan tidak bisa membersihkan pikiran kita.
Tata susila, tata krama, kesusilaan, perilaku baik hanya dapat membuat tingkah laku dan ucapan menjadi baik; tetapi untuk membersihkan pikiran harus dengan meditasi.

Oleh karena itulah, mari kita mewaspadai kotoran batin dengan mengendalikan diri; menjaga ucapan, menjaga perbuatan, kemudian bermeditasilah! Apa saja meditasi Buddhis; apakah metta-bhavana, anapanasati, apa saja; kemudian berusaha untuk praktek vipassana karena kesadaran itu sangat penting. Tidak hanya memperhatikan hidung dan perut, apa gunanya memperhatikan hidung dan perut? Ini hanya permulaan. Jasmani kita ini: hidung dan perut ini tidak nakal, tidak membuat ulah, nafas hidung – nafas perut tidak membuat ulah. Yang memprovokasi, menghasut adalah pikiran dan perasaan kita. Pikiran dan perasaan itulah provokator yang menghasut kita.

• Bagaimana mengatasinya? Dengan kesadaran – awareness; dengan SATI. Meditasi Vipassana itu harus kita gunakan sehari-hari.
Jika anda tidak memiliki kesadaran – awareness maka anda tidak bisa mendeteksi pikiran dan perasaan anda.
Jika anda tidak punya awareness, tidak punya sati, tidak punya kesadaran; maka anda tidak bisa mengawasi pikiran dan perasaan anda sendiri.


Demikian yang dapat dituliskan kembali, semoga bermanfaat 🙏🏻.

Sebanyak kami telah mencapai dan mengumpulkan jasa Semoga semua Dewa, makhluk halus, makhluk hidup turut bergembira 🙏🏻.
Dengan jasa kebajikan ini Semoga mereka yang menderita terbebas dari penderitaan, Semoga mereka yang sakit terkondisi sembuh, Semoga semua makhluk senantiasa sehat dan selamat🙏🏻.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.

Penulis & Editor: Lij Lij




Related Postview all

Menanami Hati Dengan Bunga

access_time22 Maret 2020 - 23:52:28 WIB pageview 534 views

Hati kita ibarat taman. Seperti layaknya taman ditumbuhi bunga-bunga yang indah, rumput liar dan benalu. Bunga yang indah adalah kualitas hati kita yang baik (seperti: keyakinan kita ... [Selengkapnya]

I am Buddhist

access_time22 Maret 2020 - 19:00:19 WIB pageview 587 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sudah merasa diri sebagai Buddhis? Ya!I am Buddhist! Saya Buddhist!I am? Saya.Saya itu siapa? Saya itu adalah makhluk hidup yang ... [Selengkapnya]

Bijak Dalam Menghadapi Masalah & Cara Mencapai Kebahagiaan

access_time22 Maret 2020 - 18:52:54 WIB pageview 494 views

YM. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera membuka seminar ini dengan sebuah 'mantra' yaitu : "Menghadapi masalah adalah No Problem." Pertama kita harus tahu rahasia mendapatkan ... [Selengkapnya]

Mempraktikan Buddha Dhamma Demi Kebahagiaan dan Kesejahteraan Semua Makhluk

access_time03 Maret 2020 - 00:52:49 WIB pageview 790 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhāNibbānaṁ paramaṁ vadanti BuddhāNa hi pabbajito parūpaghātῑSamaṇo hoti paraṁ ... [Selengkapnya]

Keindahan Hati

access_time27 Februari 2020 - 01:04:14 WIB pageview 675 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Tema kali ini adalah Keindahan Hati yang dalam bahasa Inggris disebut Inner Beauty yang kebetulan bertepatan dengan hari kasih ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu