Berita / Ceramah

YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera - MĀGHA PŪJĀ 2563 BE / 2020


MĀGHA PŪJĀ 2563 BE / 2020
Vihara Sasana Subhashita
Minggu, 9 February 2020
Dhammadesana: YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)

"Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā – nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātῑ – samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto

Sabbapāpassa akaraṇaṁ – kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapanaṁ – etam Buddhānasāsanaṁ

Anūpavādo anūpaghāto – pāṭimokkhe ca saṁvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṁ – pantañca sayanāsanaṁ
Adhicitte ca āyogo – etaṁ Buddhānasāsanaṁ


Hari ini bertepatan Māgha Pūjā dengan perayaan Cap Goh Meh. Ibu-ibu aktivis VSS sudah sibuk sejak pagi tadi mempersiapkan konsumsi untuk acara perayaan Cap Goh Meh siang ini.

Hari Māgha Pūjā mengingatkan kepada kita semua sekitar 2500 tahun silam dimana Guru Agung kita beserta 1250 Bhikkhu berkumpul di hutan bambu Veḷuvana Ārāma. Darimana 1250 Bhikkhu berasal?

Diawali dengan Guru Agung kita mentahbiskan 5 pertapa dengan “Ehi Bhikkhu”. Kemudian pemuda Yasa yang sudah bosan dengan kekayaan dan kemewahan yang dimilikinya. Ketika pagi hari Yasa meninggalkan rumahnya, memasuki hutan dengan perasaan cemas dan ketakutan mendatangi Sang Bhagava. Sang Buddha melihat batin Yasa yang sudah matang. Diawali dengan “Anupubbikatha” yaitu uraian mengenai pentingnya berdana, menjalankan sila, lahir di alam surga sebagai buah dari perbuatan baik, bahaya mengumbar nafsu indria dan manfaat dari melepaskan diri dari semua ikatan duniawi serta “Empat Kesunyataan Mulia” yang dapat membebaskan manusia dari nafsu keinginan. Yasa pun ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Teman-teman Yasa yang berjumlah 54 orang juga tertarik mengikuti jejak Yasa dan ditahbiskan pula oleh Sang Buddha; sehingga pada saat itu terdapat 60 orang Bhikkhu yang dalam waktu singkat mencapai tingkat kesucian Arahat.

60 Bhikkhu Arahat kemudian menyebar ke seluruh daratan India untuk membabarkan Dhamma. Mereka pergi satu persatu. Sang Buddha sendiri pergi mengunjungi hutan Uruvela. Di Uruvela tinggal 3 orang Kassapa bersaudara yang memuja api. Yang senior bernama Uruvela Kassapa mempunyai 500 orang murid. Yang kedua bernama Nadi Kassapa mempunyai 300 orang murid. Yang ketiga bernama Gaya Kassapa mempunyai 200 orang murid. Untuk meyakinkan 3 Kassapa ini, Sang Buddha perlu memperlihatkan kesaktiannya.

Ketika Sang Buddha bermaksud bermalam di pondok mereka, Uruvela Kassapa mempersilahkan Sang Buddha untuk menempati sebuah pondok yang berisi seekor ular kobra raksasa ganas yang menyemburkan api dan uap beracun. Namun Sang Buddha mengatasinya dengan meditasi cinta kasih dan berhasil menaklukan ular raksasa tersebut dan memasukkannya ke dalam mangkuk yang biasa dipakai untuk menerima dana makanan.

Pada kesempatan lain; sewaktu turun hujan lebat, Sang Buddha kembali memperlihatkan kesaktiannya dengan membelah membuka jalan sehingga kaki dan tubuh Sang Buddha tidak basah terkena banjir.

Akhirnya Uruvela Kassapa menyakini kehebatan Sang Buddha; sehingga ia bersama dengan ke-500 pengikutnya memohon untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Demikian halnya dengan Nadi Kassapa bersama ke-300 orang pengikutnya; disusul oleh Gaya Kassapa bersama 200 pengikutnya memohon untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu yang kelak semua mencapai tingkat kesucian Arahat. Total berjumlah 1003 Bhikkhu.

Selanjutnya Upatissa dan Kolita (kelak menjadi Sariputta dan Moggallana) yang berguru kepada pertapa Sanjaya yang memiliki 250 orang murid. Mereka berdua bersama dengan 250 pengikut Sanjaya pergi mendatangi Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu (kesemuanya kelak menjadi Arahat).

Dan ketika Sang Buddha berada di Rajagaha, tepat di bulan Magha; 1250 Bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat, yang kesemuanya adalah para Bhikkhu yang ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha dengan Ehi Bhikkhu Upasampada, dan mereka semua datang berkumpul tanpa diundang.

Pada pertemuan agung tersebut Sang Buddha membabarkan Ovadapatimokkha (Dhammapada 183:5)

“Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātῑ
samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto

Sabbapāpassa akaraṇaṁ
kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapanaṁ
etam Buddhānasāsanaṁ

Anūpavādo anūpaghāto
pāṭimokkhe ca saṁvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṁ
pantañca sayanāsanaṁ
Adhicitte ca āyogo
etaṁ Buddhānasāsanaṁ”

Yang artinya :

“Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik,
Sang Buddha bersabda : Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya,
Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain,
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.

Janganlah berbuat kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
Sucikan hati dan pikiranmu,
Itulah ajaran semua Buddha.

Tidak menghina, tidak melukai,
Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib,
Makanlah secukupnya,
Hidup dengan menyepi,
Dan senantiasa berpikir luhur,
Itulah ajaran semua Buddha.”

Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik.
Kita perlu melatih kesabaran tidak hanya menahan kemarahan tetapi juga kesabaran menahan kondisi yang tidak nyaman; misalnya mati listrik pada saat puja bakti; hendaknya kita dapat menahan diri, menahan ucapan buruk jangan sampai keluar akibat dari kondisi tidak nyaman. Inilah salah satu praktek melaksanakan sila. Tidak hanya menahan ucapan tetapi juga menahan ‘jari’ berkomentar negative di medsos. Melatih kesabaran adalah termasuk praktek Dhamma. Melatih kesabaran saat keinginan timbul, menahan perilaku buruk, dan tidak gampang mengeluarkan kata-kata negatif.

nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā
Sang Buddha bersabda : Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya.
Tidak ada tujuan lain bagi kita umat Buddha selain mencapai Nibbana.

Na hi pabbajito parūpaghātῑ – samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto
Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain, bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Kita sebagai manusia adalah tidak sepantasnya menyakiti, menghina, dan menyiksa makhluk lain.

Sabbapāpassa akaraṇaṁ
Janganlah berbuat kejahatan
Dengan selalu melaksanakan Sila (227 Sila untuk Pabbajjita; 5 Sila / Pancasila untuk umat awam). Sebagai umat awam, kita berkewajiban untuk mencari penghidupan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sedangkan untuk Pabbajjita tidak mempunyai mata pencaharian, hidupnya tergantung pada umat.

Tugas Bhikkhu antara lain:
1. Mencegah umat melakukan keburukan apapun juga.
2. Menganjurkan agar umat terus berbuat baik.
3. Selalu mempunyai pikiran positif terhadap umat.
4. Mengajarkan Dhamma sesuai kemampuan paling tidak melalui perilaku.
5. Menjelaskan kembali jika ada umat Buddha yang ragu-ragu terhadap Dhamma.
6. Menunjukkan jalan supaya lahir ke alam surga / alam bahagia.

Dalam Agama Buddha, mencapai surga tidaklah terlalu penting. Sebenarnya dengan berperilaku mempraktekkan Sila, berdana, adalah salah satu jalan menuju alam surga. Keistimewaan agama Buddha adalah memiliki banyak alam surga yaitu ada 26 tingkatan yang dapat dicapai tergantung kebajikan yang telah dilakukan. Kebajikan setiap manusia tidaklah sama, sehingga timbunan kebajikannya pun tidak sama pula. Oleh karena itulah terdapat 26 alam surga untuk menampung ketidak-samaan tingkat kebajikan yang telah dilakukan. Masuk akal bukan?

Sang Buddha tidak pernah mengiming-iming muridnya untuk mendapatkan surga; juga tidak menakuti-nakuti mereka yang tidak menjadi muridnya akan masuk neraka. Sang Buddha mengajarkan agar kita menjadi bijaksana, pandai dan pintar mengelola kehidupan, pintar berbuat baik dengan bijaksana dan memiliki kualitas batin yang baik.

Kusalassūpasampadā
Perbanyaklah perbuatan baik
Menambah perbuatan baik dengan mengembangkan kepedulian ‘caga / dana’ yang juga merupakan salah satu cara untuk terlahir di alam bahagia.

Perintang ada di dalam pikiran kita yang membuat gagal berbuat baik yaitu:
1. Keserakahan dan kemelekatan menyebabkan kita urung berbuat baik.
2. Ketidaksenangan, karena merasa tidak kenal.
3. Ketidaktahuan, tidak mengetahui manfaat berbuat baik.

Ketika kita susah untuk berbuat baik, maka sebenarnya kita belum menjadi orang baik.

Hidup menjadi bernilai jika kita memiliki kebajikan, memiliki kualitas. Mari kita buat kehidupan ini menjadi berharga untuk diri sendiri, keluarga, orangtua, dan untuk orang banyak.

Sacittapariyodapanaṁ
Sucikan hati dan pikiranmu.
Perintang / nivarana membuat kita sulit untuk berbuat baik dan sulit untuk menjadi orang baik. Cara untuk membersihkannya adalah dengan meditasi.

Meditasi berguna untuk mengurangi nivarana yaitu mengurangi keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan sehingga hidup menjadi tenang, tentram, dan bahagia.

Demikian Dhammadesana yang dapat dituliskan kembali.
Mohon maaf apabila ada kesalahan pendengaran maupun pemahaman.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.


-Jasa kebajikan ini saya dedikasikan kepada mendiang sanak keluarga, para leluhur, dan semua makhluk yang berhubungan kamma dengan saya; semoga kebajikan ini mengkondisikan mereka semua terlahir di alam bahagia.-


Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu




Related Postview all

Mengubah Nasib Buruk Menjadi Keberuntungan

access_time03 Februari 2020 - 23:56:53 WIB pageview 2540 views

  YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera yang saat ini menjabat sebagai Padesanayaka Banten juga sebagai Ketua Vihara Dhammaratana, mengenalkan kepada kita mengenai masyarakat Buddhist di ... [Selengkapnya]

YM. Bhikkhu Sombat Pavitto Mahathera - Dhammadesana

access_time28 Januari 2020 - 23:56:15 WIB pageview 2615 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā.Sacittapariyodapanaṁ,Etaṁ Buddhāna sāsanaṁ." Sebagai Umat Buddha ... [Selengkapnya]

4 Kebahagiaan Perumah-tangga

access_time24 Januari 2020 - 00:12:52 WIB pageview 4661 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Menjelang Tahun Baru Imlek tentunya para Ibu-Ibu sudah banyak yang membuat ataupun membeli kue-kue untuk persiapan menyambut sanak ... [Selengkapnya]

Dhamma Tak Lekang Oleh Waktu

access_time24 Januari 2020 - 00:08:47 WIB pageview 1781 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁ.mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah Berkah Utama. Gelombang kehidupan ... [Selengkapnya]

5 Keberuntungan

access_time10 Januari 2020 - 00:17:38 WIB pageview 2008 views

Semua orang tentunya ingin memiliki kehidupan yang baik, memiliki kehidupan yang enak, memiliki kehidupan yang beruntung. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang merasa hidupnya kurang ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu