Berita / Ceramah

Mengubah Nasib Buruk Menjadi Keberuntungan


Damma Talk
Minggu, 2 Februari 2020
The Palms Ballroom, Jakarta
Keynote Speaker: YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera
Pembicara: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera
Penulis & Editor: Lij Lij


 

YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera yang saat ini menjabat sebagai Padesanayaka Banten juga sebagai Ketua Vihara Dhammaratana, mengenalkan kepada kita mengenai masyarakat Buddhist di desa Kapul, kecamatan Halong, kabupaten Balangan propinsi Kalimantan Selatan yaitu sekitar 5-6 jam dari kota Banjarmasin. Masyarakat Buddhist Halong sejak lama telah menjaga budaya dan tradisi lokal sebagai umat Buddha. Namun kondisi waktu itu tidak ada tempat ibadah dan tidak ada guru yang mengajar, tidak dapat mengadakan pujabakti. Hingga suatu saat, Kepala Suku mengadakan ‘rembug’ untuk mencari tahu Agama Buddha yang sesungguhnya. Ketika itu, agama Buddha di Banjarmasin sudah berkembang dan ada Bhikkhu di sana. Kepala Suku pun berangkat ke Banjarmasin untuk mewujudkan tekad masyarakat Buddhist Halong. Maka pada tahun 1986 Bhikkhu Cittasanto bersama beberapa umat Buddha Banjarmasin datang berkunjung ke Halong. Kedatangan mereka disambut dengan antusias oleh masyarakat Buddhist Halong. Walau dalam sebuah rumah tua reyot, umat halong mulai melakukan kegiatan keagamaan. Melihat antusiasme umat Halong maka Bhikkhu Cittasanto memutuskan untuk ber-vassa di halong. Walaupun tinggal di rumah reyot, tidak ada yang berdana makan; setiap hari hanya makan mie; namun setelah 3 bulan masyarakat halong mulai mengerti mengenai Ajaran Buddha. Banyak umat muda yang kemudian datang belajar ke Nalanda; ada juga yang menjadi Bhikkhu, Samanera, maupun Atthasilani.

YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera adalah salah seorang putra Halong yang menjadi Bhikkhu (generasi ke-3). Setelah 4 tahun mulai berdiri Vihara di desa Tabuan; kemudian berdiri Vihara Dhammaratana di Halong sekitar tahun 90-an. Sekarang umur Vihara Dhammaratana sudah mencapai 30 tahun dan kondisinya sudah mulai hancur, lantainya sudah rapuh dimakan rayap. Umat Buddhist Halong sudah sering bertanya kepada Bhikkhu Cittanando kapan akan membangun Vihara tersebut.

Vihara Dhammaratana ini memberikan sumbangan yang amat besar bagi perkembangan Agama Buddha khususnya di Halong, Kalimantan Selatan. Sebagian masyarakat halong sudah berpindah keyakinan. Walaupun demikian umat Buddha di Halong, kabupaten Balangan ini menjadi basis Agama Buddha terbesar di Kalimantan Selatan. Sekolah-sekolah disana juga mayoritas muridnya adalah beragama Buddha; namun sayang guru-guru agama Buddha nya tidak ada. Mungkin dapat diusulkan ke pemerintah pusat untuk pengangkatan guru agama Buddha di Halong. Saat ini para murid sekolah diwajibkan untuk datang ke Vihara setiap minggu untuk melakukan pujabakti dan belajar Dhamma.

Vihara Dhammaratana ini rencananya akan dibangun 2 lantai. Lantai bawah akan digunakan sebagai ruang serbaguna; dan lantai atas akan digunakan sebagai Dhammasala untuk kegiatan pujabakti dan pembabaran Buddha Dhamma. Juga pembangunan kuti untuk para Bhikkhu. Saat ini juga sudah tersedia bangunan untuk tamu dari luar Halong yang berkunjung dan dapat menginap. Kita semua dipersilahkan untuk datang dan menginap.

Pada kesempatan ini YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera mengucap terimakasih dan anumodana kepada Yayasan Paramita Sukha yang telah membantu perkembangan Agama Buddha di tanah air khususnya di Kalimantan Selatan.
Juga Kepada YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera yang telah berkenan hadir pada Dhammatalk hari ini. Serta kepada semua donatur, kalyanamitta yang telah memberi dukungan yang sangat berarti bagi perkembangan Buddha Dhamma. Semoga apa yang telah dilakukan akan mendukung kemajuan lahir dan batin serta perkembangan Buddha Dhamma.
Sādhu, sādhu, sādhu.

Mengawali Dhammatalk “Mengubah Nasib Buruk menjadi Keberuntungan” ini; YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera mengatakan bahwa kita telah dikenalkan dengan salah satu pusat Agama Buddha di Indonesia yaitu di Halong, Kalimantan Selatan. Disana menjadi salah satu pusat Pendidikan Agama Buddha. Pada kesempatan ini telah hadir 5 Bhikkhu dan 3 Bhikkhu di antara yang hadir ini adalah ‘produk’ Halong yaitu YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera, YM. Bhikkhu Santamano, dan YM. Bhikkhu Medhaviro.

Vihara Dhammaratana seharusnya menjadi dekat dengan kita karena ‘produk’-nya (dalam hal ini para Bhikkhu putra Halong) sudah sampai disini dan sudah sangat ‘bermanfaat’ (sebagai pembabar Buddha Dhamma).

Di ilustrasikan jika kita pergi ke sebuah restoran kemudian kita makan katakanlah nasi goreng atau mie goreng atau baso. Setelah selesai makan, kemudian kita harus membayar tagihan sebesar 300ribu atau bahkan 3juta rupiah; kita harus bayar toh berapapun tagihannya karena kita sudah memakannya. Tidak mungkin karena merasa mahal kemudian kita tidak mau bayar dan mengembalikan dengan memuntahkan kembali apa yang sudah kita makan.

Tidak hanya 3 Bhikkhu yang hadir adalah ‘produk’ Halong tetapi masih banyak Bhikkhu-Bhikkhu lain, Samanera, Athasilani, dan Guru-Guru yang berasal dari Halong.

Banyak diantara kita yang sudah pernah menerima manfaat dari para Bhikkhu-Bhikkhu ini yang telah membina umat Buddha. Kita sebagai ‘penikmat’; makanan fisik memberi manfaat hanya pada saat makanan itu dimakan. Tetapi ‘makanan’ dari para pembina agama adalah ‘makanan batin’ yang tidak hanya memberikan manfaat di kehidupan ini tetapi juga memberikan manfaat di kehidupan mendatang. Kita yang telah merasakan Dhamma dari pembina Dhamma yang berasal dari Halong ini; apa yang bisa kita berikan? Bukan berarti kita memberi support hanya kepada Bhikkhu Halong saja. Tetapi pada saat ini kita berkesempatan untuk membantu pembangunan tempat pembinaan dan pendidikan Agama Buddha di Halong, berarti kita bersama membangun tempat persemaian menyuburkan bibit-bibit kebaikan yang menjadi balas jasa kita kepada mereka.

Adalah sulit untuk membalas jasa?
Balas jasa anak terhadap orang tua yang telah membesarkannya. Apakah anak meminta untuk dilahirkan? Memang tidak. Tetapi seorang anak terlahir menjadi manusia adalah berkat jasa kebajikan orangtua. Oleh karena itu sudah sepantasnya seorang anak membalas jasa orangtuanya dengan cara membantu orang tua, membuat orang tuanya bahagia.

Setiap tahun terdapat begitu banyak waktu untuk membalas jasa. Diantaranya; ada tradisi (terutama orang hokian) sembahyang Pai Thi Kong yaitu pada tanggal 9 bulan 1 imlek adalah sembahyang untuk berterimakasih kepada Dewa. Selanjutnya, beberapa hari kemudian datang tanggal 14 Februari yaitu hari ‘makan coklat’. Maju lagi ketemu 5 April adalah sembahyang Cengbeng untuk menghormati mereka (leluhur) yang telah berjasa untuk keluarga. Selanjutnya 17 Agustus adalah momen untuk menghormati jasa para pahlawan. Sampai pada 22 Desember sebagai hari Ibu untuk menghormati jasa Ibu yang telah melahirkan dan merawat kita. Dan masih banyak lagi. Kalau kita mau melihat, banyak sekali hari raya sepanjang tahun untuk mengajarkan kita mengenal jasa orang lain, membalas dan mengenang jasa-jasanya.

Apakah anda termasuk orang yang langka?
Ada 2 jenis manusia yang sangat sulit ditemui di dunia ini:
1. Mereka yang tahu jasa dan tahu membalas jasa
Burung akan bernyanyi merdu ketika orang yang memeliharanya datang menghampiri. Kucing akan bersikap manja kepada orang yang memeliharanya. Hewan-hewan saja mengenal budi, apalagi kita manusia. Kita sebagai manusia mau mendapatkan hendaknya juga mau untuk memberi sehingga kita menjadi manusia yang tahu untuk membalas jasa terutama kepada mereka yang telah membantu kita.

2. Mereka yang melakukan kebajikan terlebih dahulu sebelum orang lain melakukan kebajikan kepadanya.
Jenis manusia yang tahu membalas jasa mungkin lebih banyak jumlahnya daripada mereka yang melakukan kebaikan terlebih dahulu sebelum menerima kebaikan orang lain. Kesulitan di dalam Dhamma adalah bukan menemukan orang yang mau membalas budi; melainkan orang yang mempunyai inisiatif untuk berbuat baik. Lebih mudah bagi kita untuk membalas setelah menerima kebaikan karena membalas budi adalah normal. Apakah ada orang yang mau menanam jasa ketika belum ada orang lain yang memberikan jasa? Ada, yaitu orangtua kita.

Ibu kita, sejak dalam kandungan sudah memberikan kasih sayang yang demikian besar. Ketika lahir, sampai masa pertumbuhan hingga saat ini bahkan sampai nanti; orangtua kita selalu memberikan kasih sayang nya yang tulus. Orangtua telah menanam jasanya bagi anak-anaknya tanpa mengharapkan balas jasa dari anaknya.

Ilustrasi sederhana; ketika kita datang ke rumah makan, apakah ada kebiasaan anda untuk me-lap (membersihkan) meja makan sebelum makanan datang? Jika ya, maka anda berpotensi untuk melakukan kebajikan. Anda mungkin belum mengetahui rasa masakan yang anda pesan, namun anda telah membersihkan meja makannya terlebih dahulu; dan anda tidak mungkin kembali mengotori meja makan yang telah anda bersihkan tersebut ketika tenyata makanan yang anda pesan rasanya tidak karuan. Maka dapat dikatakan bahwa anda berpotensi melakukan kebajikan ketika anda belum mendapatkan apa-apa.

Mungkin anda belum mengenal ‘produk’ dari Vihara Dhammaratana Halong, tetapi anda mau melancarkan perbuatan baik dengan menyokong pembangunan Vihara. Dari semua kebajikan, berdana Dhamma adalah kebajikan tertinggi maka ketika anda membantu tokoh-tokoh pembabar Dhamma artinya anda telah membantu dalam pembinaan Dhamma; dan buah dari kebajikan yang anda lakukan ini tidak hanya untuk kebahagiaan saat ini tetapi juga untuk kehidupan mendatang.
‘Menanam’ tempat pembabaran Dhamma sehingga memungkinkan banyak orang yang dapat berkumpul mendengarkan / membahas Dhamma maka akan membuahkan ‘tempat’ (alam kehidupan) yang membahagiakan; juga membuahkan banyak teman baik di kehidupan ini maupun di kehidupan mendatang. Anda juga telah berdana tempat belajar untuk para Bhikkhu dan Samanera berarti berdana pengetahuan yang mengkondisikan intelektual di kehidupan saat ini maupun mendatang. Dan masih banyak lagi perbuatan baik lainnya.

Jika ingin mengubah nasib buruk menjadi keberuntungan, salah satunya adalah dengan cara berdana untuk pembangunan Vihara karena akan sangat bermanfaat bagi perkembangan Agama Buddha di masa sekarang maupun di masa depan. Maka berdanalah. Bagi mereka yang belum beruntung akan menjadi beruntung; bagi mereka yang sudah beruntung maka keberuntungan akan menjadi berlipat-lipat.

Inilah bagaimana menjadi orang yang sesuai Buddha Dhamma yaitu dengan membalas jasa, terlebih lagi menjadi orang yang mau menanam jasa.
Lakukanlah kebajikan sebanyak-banyaknya maka akan mengubah nasib buruk menjadi keberuntungan. Teruslah memupuk kebajikan agar kita menjadi orang yang penuh keberuntungan.


Q&A
=====
Q: Dikatakan bahwa jalan terbaik untuk mendapat keberuntungan adalah berdana. Namun dalam masyarakat terdapat beberapa ilmu hitung-hitungan misalnya fengshui, ba-zi dan sejenisnya untuk mendapat keberuntungan. Bagaimana penjelasan akan hal ini?

A: Memang banyak orang yang ingin meraih keberuntungan dengan mengandalkan fengshui, ba-zi / pek-ji, tongshu. Kita tidak perlu mengecam atau merendahkan. Fengshui, Ba-zi, dan sejenisnya adalah ilmu hitungan milik kerajaan-kerajaan di Tiongkok dulu. Pada kenyataannya umur raja saat itu rata-rata hanya mencapai 20-30 tahun saja. Artinya merubah semaksimal mungkin pun hasilnya tidak akan selalu memuaskan. Kebajikan hanya menjadi salah satu faktor keberuntungan, demikian halnya dengan fengshui dan ilmu sejenisnya juga hanya merupakan salah satu faktor. Pengaruh-nya katakanlah hanya 10%. Jika anda mau percaya, silahkan. Tetapi tidak akan menjadi maksimal seperti yang anda inginkan.
Roti bukanlah hanya gandum-nya, bukan pula hanya gula-nya, tetapi perpaduan semua itulah yang menjadikannya Roti.


Q: Bagaimana menyikapi kehidupan yang semakin sulit dimana kesempatan bekerja semakin berkurang?

A: Orang yang menganggap bahwa sulit untuk mencari kerja maka hidupnya akan sulit mendapat pekerjaan.
Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa proses sperma menuju sel telur sangatlah sulit dan hanya 1 sperma saja yang mampu mencapai dan menembus sel telur. Jadilah anda yang berhasil mengalahkan jutaan sperma lainnya.

Ketika ada deretan toko yang menjual barang yang sama; ada 1 toko yang sangat ramai dikunjungi pembeli. Apakah anda tahu mengapa bisa terjadi hal demikian padahal masih banyak toko lain yang menjual barang yang sama?? Di dunia ini jari kalau ada 5 baru terlihat keindahannya. Dimana-mana selalu ada persaingan. Jika tidak ada persaingan maka dunia ini tidak akan ‘seru’. Lalu bagaimana me-menang-i persaingan? Persaingan hanya dimenangkan dengan banyaknya kebajikan yang kita lakukan. Kata-kata anda adalah mantra anda. Jangan pernah mengharap tanpa saingan karena hidup anda tidak akan berkembang, tanpa kemajuan; persaingan akan membuat anda terpicu dan terpacu untuk maju.

Ditambahkan oleh Dr. Ponijan Liaw bahwa menurut Prof. Carol Dweck dalam bukunya ‘Mindset’ mengatakan bahwa ada 2 jenis mindset (pola pikir) yaitu:
1. Fixed Mindset – pola pikir bahwa segala sesuatu sudah ditentukan.
Pola pikir bahwa 'Cari duit susah' 'jangan mimpi orang kaya, karena sudah turunan miskin' maka akan selalu susah cari duit, dan tidak bisa kaya.

2. Growth Mindset – pola pikir yang bertumbuh.
Adalah pola pikir yang memiliki keyakinan untuk berhasil. Yakin bahwa kita pasti bisa. Jangan berpikir tidak bisa. Namun tetap harus mengaca pada diri dan mengaca pada potensi.


Demikian isi Dhammatalk yang dapat dituliskan kembali.
Mohon maaf apabila ada kesalahan pendengaran maupun pemahaman.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.


-Jasa kebajikan ini saya dedikasikan kepada mendiang sanak keluarga, para leluhur, dan semua makhluk yang berhubungan kamma dengan saya; semoga kebajikan ini mengkondisikan mereka semua terlahir di alam bahagia.-


Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

YM. Bhikkhu Sombat Pavitto Mahathera - Dhammadesana

access_time28 Januari 2020 - 23:56:15 WIB pageview 2614 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā.Sacittapariyodapanaṁ,Etaṁ Buddhāna sāsanaṁ." Sebagai Umat Buddha ... [Selengkapnya]

4 Kebahagiaan Perumah-tangga

access_time24 Januari 2020 - 00:12:52 WIB pageview 4661 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Menjelang Tahun Baru Imlek tentunya para Ibu-Ibu sudah banyak yang membuat ataupun membeli kue-kue untuk persiapan menyambut sanak ... [Selengkapnya]

Dhamma Tak Lekang Oleh Waktu

access_time24 Januari 2020 - 00:08:47 WIB pageview 1781 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁ.mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah Berkah Utama. Gelombang kehidupan ... [Selengkapnya]

5 Keberuntungan

access_time10 Januari 2020 - 00:17:38 WIB pageview 2008 views

Semua orang tentunya ingin memiliki kehidupan yang baik, memiliki kehidupan yang enak, memiliki kehidupan yang beruntung. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang merasa hidupnya kurang ... [Selengkapnya]

How to Balance Material and Spiritual Life

access_time10 Desember 2019 - 22:34:05 WIB pageview 1471 views

Adanya berbagai perubahan menyebabkan kegelisahan dimasa yang akan datang. Kita terkadang tidak siap menghadapi perubahan. Misalnya perubahan penduduk yang semakin banyak, perekonomian yang ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu