Berita / Ceramah

YM. Bhikkhu Sombat Pavitto Mahathera - Dhammadesana


Dhammadesana
Minggu, 26 Januari 2019
Vihara Dharma Ratna
Dhammadesana: YM. Bhikkhu Sombat Pavitto Mahathera
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)

"Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā.
Sacittapariyodapanaṁ,
Etaṁ Buddhāna sāsanaṁ."


Sebagai Umat Buddha datang ke Vihara, membaca Paritta-Paritta suci, melakukan Bhavana, mendengarkan Dhamma, berdana dan melakukan berbagai macam kebajikan adalah merupakan perbuatan yang baik. Sesuai dengan Hukum Kamma bahwa dengan berbuat baik maka akan berakibat baik, sedangkan jika berbuat buruk akan berakibat buruk pula.
Walaupun kita semua sudah mengetahui hal ini, namun ada kalanya kita merasa bahwa kita selalu berbuat baik tetapi mengapa selalu ada bermacam-macam masalah yang datang menghadang. Dan kita pun biasanya menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi. Padahal sebenarnya semua masalah tersebut adalah bersumber dari diri kita sendiri.

Sesuai Ajaran Sang Buddha, hendaknya kita 'melihat ke dalam' diri kita sendiri melalui praktek meditasi.
Pada momen perayaan Imlek, kita saling berbagi kebahagiaan dengan saling mengucapkan kata selamat tahun baru imlek di-iringi doa dan harapan merupakan suatu tradisi yang baik. Memberi ucapan maupun tulisan kebaikan kepada orang-orang yang kita ingat dengan mengharap kebahagiaan bagi mereka semua.

Perayaan Imlek ini biasanya beriringan dengan Māgha Pūjā yang jatuh dibulan Māgha penanggalan Buddhis (bulan Februari pada penanggalan Masehi).

Setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Bodhi, selama 7 hari Beliau berdiri memandangi pohon Bodhi terus-menerus tanpa berkedip sebagai ungkapan terimakasih kepada pohon Bodhi.

Kemudian, Brahma Sahampati penguasa dunia memohon kepada Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma kepada makhluk dialam semesta ini dengan syair:
Brahmā ca lokādhipatī sahampati
Katañjalī andhivaraṁ ayācatha,
"Santīdha sattāpparajakkha-jātikā
Desetu dhammaṁ anukampimaṁ pajaṁ."

Sang Buddha menjelaskan mengenai 4 tingkatan bunga teratai yang melambangkan 4 jenis manusia yaitu:

1. Bunga Teratai yang telah muncul di atas permukaan air dan pasti akan mekar pada sinar fajar hari yang pertama.
Para Jenius - ugghatitaññu adalah jenis manusia yang dapat memahami Dhamma hanya dengan mendengarkan pokok ajaran (dapat langsung menerima & mengerti Dhamma dengan cepat).

2. Bunga Teratai yang masih berada di bawah permukaan air, sedang menunggu muncul di atas permukaan air pada hari berikutnya.
Para Intelektual - vipacitaññu adalah jenis manusia dengan tingkat kebijaksanaan lebih rendah dari jenis manusia pertama yang memerlukan keterangan dan uraian lebih jauh.

3. Bunga Teratai yang masih berada agak jauh di bawah permukaan air sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk tumbuh dan muncul di atas permukaan air.
Yang dapat dilatih - neyya adalah jenis manusia biasa (tidak begitu bodoh tetapi juga tidak begitu bijaksana). Manusia jenis ini memerlukan instruksi dan uraian-uraian serta membutuhkan jangka waktu latihan dan praktek yang lebih lama.

4. Bunga Teratai yang dimakan habis oleh binatang air, tidak mempunyai harapan untuk tumbuh diatas permukaan air.
Yang tidak dapat dilatih- padaparama adalah jenis manusia yang tidak mungkin mengerti atau maju dalam masa kehidupan ini. Mereka dapat mendengarkan Dhamma dan mencoba mempraktekkannya sesuai instruksi tetapi karena keterbelakangan batin sehingga tidak membuahkan hasil.

Karena permohonan Brahma Sahampati dan belas kasih-Nya, Sang Buddha bersedia untuk mengajarkan Dhamma.
Dengan mata batin-Nya, Sang Buddha menuju ke Taman Rusa di Benares dimana kelima pertapa tinggal.
Sang Buddha memberikan khotbah pertamanya yang dikenal dengan "Dhammacakkapavattana Sutta" kepada 5 orang pertapa tepat pada purnama sidhi di bulan Asalha. Setelah selesai khotbah tersebut, Kondañña mencapai tingkat kesucian Sotapanna dan minta ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Saat itulah TIRATANA menjadi lengkap (Buddha, Dhamma, Sangha).
2 orang pertapa lainnya yaitu Vappa dan Bhaddiya mencapai Sotapanna setelah 2 hari dan ditahbiskan menjadi Bhikkhu; diikuti Mahanama dan Assaji mencapai Sotapanna setelah 2 hari berikutnya dan juga ditahbiskan menjadi Bhikkhu.
5 hari setelah khotbah pertama, Sang Buddha memberikan khotbah kedua yaitu "Anattalakkhana Sutta" yang mengajarkan cara menganalisis batin dan jasmani (Nama & Rupa) menjadi 5 khanda dimana Nama-batin terdiri dari vedana-perasaan, sañña-pencerapan, sankhara-bentuk pikiran, viññana-kesadaran; dan Rupa-jasmani; yang timbul lenyap - Anicca, dan tanpa inti - Anatta.
Setelah selesai mendengarkan khotbah tersebut, kelima Bhikkhu mencapai tingkat kesucian Arahat.

Khotbah berikutnya adalah kepada pemuda Yasa mengenai pentingnya berdana, menjalankan sila. Sang Buddha juga membabarkan tentang Empat Kesunyataan Mulia yang dapat membebaskan manusia dari nafsu-nafsu indriawi, dan Yasa pun mencapai Sotapanna. Ketika ayahnya Yasa datang mencari Yasa, Sang Buddha kembali mengulang khotbah Empat Kesunyataan Mulia dihadapan ayah Yasa sehingga Yasa mencapai Arahat sedangkan ayahnya menjadi upasaka pertama yang berlindung pada Tiratana.

Singkat cerita, di Rajagaha Sang Buddha menahbiskan 2 murid utamanya yaitu Sariputta dan Moggallana. Dan di bulan Māgha ketika Sang Buddha berada di Veḷuvana Ārāma dekat hutan Kalandakanivāpa, 1250 Bhikkhu datang berkumpul tanda diundang. Peristiwa penting tersebut dikenal dengan Cāturaṅghasannipāta– pertemuan besar yang diberkahi dengan 4 faktor yaitu:

1. Hadir 1250 Bhikkhu tanpa undangan.
2. Mereka semuanya telah men-capai tingkat Arahatta (khῑṇāsava) yang ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan cara ehibhikkhu upasampadā.
3. Mereka hadir tanpa diundang, hadir di tempat Sang Bhagavā.
4. Sang Buddha pada saat itu membabarkan Ovādapāṭimokkha.

Bait syair Ovādapāṭimokkha yang dibabarkan diantaranya:

Sabbapāpassa akaraṇaṁ
Kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapanaṁ
Etam Buddhāna sāsanaṁ

Artinya :

“Jangan berbuat jahat,
Perbanyak perbuatan baik,
Sucikan hati dan pikiran,
Itulah ajaran semua Buddha.

Jangan Berbuat Jahat
yaitu dengan melaksanakan Sila, minimal Pancasila Buddhis (menghindari pembunuhan makhluk hidup, menghindari pencurian, menghindari perbuatan asusila, menghindari ucapan bohong, menghindari mengkonsumsi makanan / minuman memabukkan).

Saat pujabakti umat meminta Sila kepada Bhikkhu, sesungguhnya bukan meminta tetapi maksudnya adalah berjanji untuk melaksanakan Sila dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesadaran, tidak gampang lupa, serta terus mengembangkan cinta kasih.

Perbanyak Perbuatan Baik
Yang paling mudah dilakukan adalah dengan berdana; misalnya dana makan untuk Sangha. 37 Tahun yang lalu yang berdana makan kepada Sangha masih sangat minim sekali; namun saat ini sudah banyak umat Buddha yang telah mengerti manfaat berdana sehingga banyak sekali dana makan yang disediakan untuk anggota Sangha.
Perbanyak perbuatan baik juga dilakukan dengan menjalankan Sila; dan melakukan semua perbuatan baik sesuai Dhamma.

Sucikan Hati dan Pikiran
Menyucikan hati dan pikiran dengan mengembangkan pañña-kebijaksanaan melalui:

1. Sutta maya pañña
Adalah kebijaksanaan yang diperoleh dengan mendengarkan Dhamma atau membaca buku-buku Dhamma.

2. Cinta maya pañña
Adalah kebijaksanaan yang diperoleh dengan melakukan perenungan atau pemikiran terhadap Dhamma yang dilihat atau didengar.
Misalnya ketika kita melihat peristiwa orang meninggal dunia, kita dapat mengerti bahwa kehidupan itu tidak kekal, anicca timbul-lenyap, mengerti hukum kamma sehingga kita menjadi tidak banyak rasa khawatir dan takut; inilah kebijaksanaan yang timbul dari merenungkan Dhamma.

3. Bhavana maya pañña
Adalah kebijaksanaan yang diperoleh dari melaksanakan Vipassana Bhavana untuk melihat realitas hakiki dari Nama & Rupa sehingga dapat mengerti Anicca – Dukkha – Anatta sehingga dapat merealisasikan pencapaian kesucian.

BAGAIMANA MENYUCIKAN PIKIRAN
Berbicara tentang pikiran, kita sebagai manusia dimana letak pikiran kita??
Di hati? Atau di Kepala? Itu hanyalah alat untuk pikiran.
Pikiran itu sendiri menjadi energi, menjadi ‘power’ yang tidak bisa dipegang, tidak bisa dilihat.

Pikiran di-ilustrasikan sebagai bola lampu yang jika dinyalakan akan bersinar sangat terang.

Tetapi pikiran kita ini ditutup oleh kotoran batin - kilesa yang berlapis-lapis.
Ada 3 kelompok lapisan kotoran batin yang menutupi pikiran kita yaitu:

1. Vitikama Kilesa - Lapisan Kotoran Batin yang pertama:
- keserakahan (lobha): dilambangkan dengan warna hijau
- kebencian (dosa): dilambangkan dengan warna merah
- kebodohan (moha): dilambangkan dengan warna hitam

Kelompok lapisan terluar ini adalah lapisan kotoran batin yang paling kasar.

Lobha di lapisan terluar ini bisa membuat orang mencuri, korupsi.

Dosa di lapisan terluar ini bisa memukul bahkan membunuh orang karena kemarahan.

Moha di lapisan terluar ini bisa menyebabkan micchaditthi – pandangan salah.

Lalu bagaimana cara untuk mengikis lapisan kotoran batin terluar ini?

Adalah dengan DANA & SILA.

2. Pariyutthana Kilesa - Lapisan Kotoran Batin yang kedua:
- Kamachanda (nafsu keinginan) adalah lapisan kedua dari keserakahan (lobha): dilambangkan dengan warna hijau muda
- Byapada (kemauan jahat) adalah lapisan kedua dari kebencian (dosa): dilambangkan dengan warna merah muda
- Thina-middha (kemalasan & kelambanan), Uddhacca-kukkucca (kegelisahan & kekhawatiran), serta Vicikiccha (keraguan) adalah lapisan kedua dari kebodohan (moha): dilambangkan dengan warna abu-abu

Lapisan kotoran batin yang kedua ini dapat di ‘kikis’ dengan alat yaitu MEDITASI.

Untuk mengikis keserakahan lapis kedua ini adalah dengan meditasi Asubha (mayat yang men-jijik-kan).

Untuk mengikis kebencian / kemarahan lapis kedua ini dengan meditasi Metta (cintakasih).

Untuk mengikis kebodohan lapis kedua adalah dengan meditasi Anapanasati (memperhatikan nafas masuk keluar) atau meditasi Buddhanussati (perenungan sifat agung Buddha) atau bisa juga dengan Kasina 4 unsur: pathavi-tanah / apo-air / tejo-api / vayo-udara.


3. Anusaya Kilesa - Lapisan Kotoran Batin yang ketiga:
Lapisan kotoran batin terdalam yang paling lengket sekali adalah kekotoran batin yang halus sekali. Hanya Sang Buddha yang mengerti lapisan kilesa yang paling halus ini; keserakahan yang halus, kebencian yang halus, dan kebodohan yang halus.
Hanya Sang Buddha yang mengetahui bahwa didalam pikiran ini masih tersisa kotoran batin yang mendalam.
- Kamanusaya adalah keserakahan yang sangat halus: dilambangkan dengan warna hijau yang sangat muda sekali
- Patighanusaya adalah kebencian yang sangat halus: dilambangkan dengan warna merah yang sangat muda sekali
- Avijjanusaya adalah kebodohan yang sangat halus: dilambangkan dengan warna abu-abu yang sangat muda sekali

Lapisan kotoran batin yang sangat halus ini dapat di ‘amplas’ dengan PAÑÑA­–kebijaksanaan yang diperoleh melalui Vipassana Bhavana sehingga pikiran menjadi terang benderang / mencapai pencerahan.

-Ilustrasi Bola Lampu ini dapat dilihat pada rekaman setelah tulisan ini-

Demikian Dhammadesana YM. Bhikkhu Sombat Pavitto Mahathera yang dapat dituliskan kembali.
Mohon maaf apabila ada kesalahan pendengaran maupun pemahaman.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

-Jasa kebajikan ini saya limpahkan kepada mendiang sanak keluarga, para leluhur, dan semua makhluk yang berhubungan kamma dengan saya; semoga kebajikan ini mengkondisikan mereka semua terlahir di alam bahagia.-

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

4 Kebahagiaan Perumah-tangga

access_time24 Januari 2020 - 00:12:52 WIB pageview 1327 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Menjelang Tahun Baru Imlek tentunya para Ibu-Ibu sudah banyak yang membuat ataupun membeli kue-kue untuk persiapan menyambut sanak ... [Selengkapnya]

Dhamma Tak Lekang Oleh Waktu

access_time24 Januari 2020 - 00:08:47 WIB pageview 669 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁ.mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah Berkah Utama. Gelombang kehidupan ... [Selengkapnya]

5 Keberuntungan

access_time10 Januari 2020 - 00:17:38 WIB pageview 745 views

Semua orang tentunya ingin memiliki kehidupan yang baik, memiliki kehidupan yang enak, memiliki kehidupan yang beruntung. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang merasa hidupnya kurang ... [Selengkapnya]

How to Balance Material and Spiritual Life

access_time10 Desember 2019 - 22:34:05 WIB pageview 604 views

Adanya berbagai perubahan menyebabkan kegelisahan dimasa yang akan datang. Kita terkadang tidak siap menghadapi perubahan. Misalnya perubahan penduduk yang semakin banyak, perekonomian yang ... [Selengkapnya]

Menjadi Buddhis yang Lebih Baik

access_time26 November 2019 - 00:13:55 WIB pageview 1412 views

Kegelisahan empiris dari data survey yang dikemukakan pembicara sebelumnya (Emil Atmadjaya) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan umat Buddha tahun 2010-2050 adalah minus 0,3%. Hasil survey ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu