Berita / Ceramah

4 Kebahagiaan Perumah-tangga


Puja Bakti Umum
Minggu, 19 January 2020
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma: YM. Bhikkhu Cittanando Mahathera
Tema Dhamma: 4 Kebahagiaan Perumah-tangga
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Menjelang Tahun Baru Imlek tentunya para Ibu-Ibu sudah banyak yang membuat ataupun membeli kue-kue untuk persiapan menyambut sanak keluarga yang akan berkunjung pada perayaan Imlek. Tentu ini adalah hal yang baik untuk menambah kedekatan dengan keluarga. Dekat secara batin. Sekarang ini kedekatan secara batin rasanya sudah berkurang. Yang ada saat ini adalah dekat dimata tapi jauh dihati.
Berbeda dengan orangtua kita dulu, meskipun jauh dimata tetapi dekat dihati.

Benarkah demikian?

Memang kenyataan sekarang ini, kebanyakan orang lebih dekat dengan gadget (smartphone) masing-masing.
Ber-pergi-an dengan 1 mobil yang sama tapi satu sama lain tidak saling berbicara, hanya berkomunikasi dengan 'jari'. Inilah yang terjadi; dekat dimata tetapi secara batiniah kita semakin jauh.

Umat Vihara di Tangerang mungkin relatif masih lebih baik dibandingkan dengan umat di Jakarta. Masih saling mengunjungi saat diselenggarakan Sanghadana di bulan Kathina. Ini merupakan salah satu tradisi yang bagus untuk dipertahankan, terlebih lagi budaya saling mengunjungi sanak keluarga sendiri.
Yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini, tradisi saling mengunjungi terasa sudah luntur. Budaya saling mengunjungi antar keluarga kerap kali terlewatkan karena bermacam-macam alasan. Kadang anak lupa mengunjungi orangtuanya sendiri; bahkan ketika orangtua nya sedang sakit pun terkadang anak tidak punya waktu untuk datang apalagi merawat. Lebih parah lagi ketika orangtua meninggal, masih saja 'sulit' untuk datang. Kenyataan bahwa hubungan dengan keluarga sudah semakin merenggang.
Pada kesempatan ini, ketika menjelang Tahun Baru Imlek semoga akan menjadi momen perekat kekeluargaan yang lebih kental.

Momen ketika kita dapat berkumpul dengan keluarga adalah momen yang mendatangkan kebahagiaan. Berkumpul dengan ayah, ibu, anak, menantu, cucu, saudara, dan kerabat lainnya tentunya adalah momen yang sangat berharga dan membahagiakan.

Sebetulnya apa yang kita cari dalam hidup ini?

Sejak jaman Sang Buddha bahkan sebelum jaman Sang Buddha, hampir rata-rata makhluk mencari kebahagiaan.
Tidak hanya manusia yang mencari kebahagiaan, binatang pun demikian bahkan makhluk-makhluk yang tidak tampak pun menginginkan kebahagiaan. Terlebih kita manusia yang berakal selalu mencari kebahagiaan.

Menurut pandangan Buddhis, apakah kita boleh mencari kebahagiaan (dalam hal ini kebahagiaan duniawi)??

Tidak dilarang sebenarnya. Justru jika kita sudah mengerti Ajaran Sang Buddha seutuhnya; kita akan paham bahwa inilah salah satu alasan Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada kita yaitu adalah agar kita dapat mencapai kebahagiaan dalam kehidupan.

Buddha juga menyampaikan kepada kita khususnya sebagai umat perumah tangga bahwa ada 4 kebahagiaan yang dapat dimiliki sebagai perumah tangga:

1. Atthi-Sukha
Kebahagiaan karena memiliki harta kekayaan.
Tidak heran kalau kita semua sehari-hari mengumpulkan kebutuhan hidup, mengumpulkan harta benda, mengumpulkan kekayaan dengan tujuan agar dapat hidup bahagia. Sebagai perumah tangga, silahkan..
Namun perlu digaris bawahi bahwa untuk mendapatkan yang kita inginkan / harta benda-kekayaan hendaklah didapatkan dengan cara yang benar.

2. Boga-Sukha
Kebahagiaan karena dapat mempergunakan kekayaan.
Adalah kebahagiaan karena bijaksana dalam mengelola kekayaan dengan baik dan bijak; diantara untuk menyokong anak-istri, orangtua, keluarga, berdana, dan perbuatan baik lainnya.

3. Anana-Sukha
Kebahagiaan karena terbebas dari Hutang
Adalah kebahagiaan yang dirasakan karena terbebas dari segala macam hutang; baik hutang uang, hutang barang, apalagi hutang karma buruk.
'Mimpi buruk' akan datang jika kita tidak mampu melunasi hutang, oleh karena itu hindarilah. Hutang karma buruk juga akan mengikuti tidak hanya dalam kehidupan ini tetapi mengejar sampai ke kehidupan-kehidupan berikutnya dimanapun kita dilahirkan.

4. Anavajja-Sukha
Kebahagiaan karena telah berbuat sesuai Buddha Dhamma
Adalah kebahagiaan yang muncul karena berperilaku baik / menjalankan moralitas sehingga terhindar dari permusuhan.
Dhamma Sang Buddha tidak terlepas dari moralitas / Sila. Jika Sila dilaksanakan dengan baik akan mendatangkan kebahagiaan baik lahir maupun batin.

Dengan memiliki kekayaan, bijaksana dalam mempergunakan kekayaan, bebas dari hutang, dan selalu menjalankan Buddha Dhamma maka kita akan memperoleh kebahagiaan sebagai perumah-tangga.
Dengan memiliki 4 kebahagiaan tersebut kemudian kita kembangkan untuk berbuat lebih banyak kebajikan. Misalnya selain menyokong keluarga, kita juga dapat menyokong kehidupan orang yang kekurangan, yang membutuhkan seperti korban bencana alam dan lain sebagainya.

Kebajikan yang kita lakukan juga menjadi sumber kebahagiaan kita, karena kita telah berbuat baik sebagai wujud dari pelaksanaan Caga (kemurahan hati) atau Dana (memberi); wujud kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, makhluk lainnya maupun lingkungan.

Peduli terhadap diri sendiri berarti bahwa kita mengarahkan hidup kita ini secara benar. Salah satu wujud kepedulian terhadap diri sendiri adalah dengan datang ke Vihara untuk menambah perbuatan baik.

Adalah tidak mudah untuk dapat berbuat baik. Berbuat baik perlu dilatih terus-menerus sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan. Jika berbuat baik telah menjadi kebiasaan maka secara otomatis kita akan sulit untuk berbuat hal-hal yang tidak baik. Jika saat ini kita sulit untuk berbuat baik, maka itu tandanya kita belum menjadi orang baik. Sebaliknya jika kita sudah terbiasa berbuat baik maka tidak mudah untuk berbuat keburukan.

Menumbuhkan hal-hal yang baik tidak datang begitu saja, tetapi membutuhkan latihan. Tanpa latihan dan perjuangan rasanya sulit untuk menjadi orang baik karena pada kenyataan nya kejahatan / keburukan lebih mudah dilakukan. Contohnya anak kita tidak diajarkan untuk berbuat buruk tapi dia bisa sendiri melakukannya.
Maka dari itu, kebaikan perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita, juga kepada diri kita sendiri.

Melakukan perbuatan baik atau dengan kata lain mempraktekkan Dhamma bukan tanpa alasan.
Apa alasan Sang Buddha mengajarkan Dhamma?
Buddha mengajarkan Dhamma untuk kebahagiaan semua makhluk terutama yang mempraktekkan nya; untuk kebahagiaan umat manusia termasuk juga para Dewa.
Manfaat menjalankan Dhamma akan dirasakan oleh mereka yang mempraktekkannya.

Perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan akan membentuk kehidupan kita menjadi bahagia atau menderita. Bukan nasib ataupun cobaan, melainkan diri kita sendirilah yang menentukan bagaimana kehidupan kita.

Berbahagialah kita sebagai siswa Sang Buddha mengenal Buddha Dhamma untuk mengarahkan kita 'berjalan' secara benar.

Semoga kita mendapatkan manfaat dari menjalankan Dhamma yaitu mengurangi penderitaan dengan cara menjaga ucapan, menjaga perbuatan, dan menjaga pikiran.

Semoga kebahagiaan menjadi milik kita semua.
Semoga berkah Sang Tiratana senantiasa melindungi dan memberkahi kita semua.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu




Related Postview all

Dhamma Tak Lekang Oleh Waktu

access_time24 Januari 2020 - 00:08:47 WIB pageview 1779 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁ.mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah Berkah Utama. Gelombang kehidupan ... [Selengkapnya]

5 Keberuntungan

access_time10 Januari 2020 - 00:17:38 WIB pageview 2006 views

Semua orang tentunya ingin memiliki kehidupan yang baik, memiliki kehidupan yang enak, memiliki kehidupan yang beruntung. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang merasa hidupnya kurang ... [Selengkapnya]

How to Balance Material and Spiritual Life

access_time10 Desember 2019 - 22:34:05 WIB pageview 1471 views

Adanya berbagai perubahan menyebabkan kegelisahan dimasa yang akan datang. Kita terkadang tidak siap menghadapi perubahan. Misalnya perubahan penduduk yang semakin banyak, perekonomian yang ... [Selengkapnya]

Menjadi Buddhis yang Lebih Baik

access_time26 November 2019 - 00:13:55 WIB pageview 2722 views

Kegelisahan empiris dari data survey yang dikemukakan pembicara sebelumnya (Emil Atmadjaya) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan umat Buddha tahun 2010-2050 adalah minus 0,3%. Hasil survey ... [Selengkapnya]

Memberikan Persembahan kepada Sangha dan Memuja Tapak Kaki Sang Buddha

access_time22 November 2019 - 01:15:05 WIB pageview 2476 views

Masa Kathina atau Kathina Kala atau disebut juga Civara Masa yaitu ‘bulan jubah’ yang berlangsung 1 bulan penuh setelah 3 bulan para Bhikkhu menjalani masa vassa. Pada tahun ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu