Berita / Ceramah

How to Balance Material and Spiritual Life


Dhamma Talk 40 Tahun STAB NALADA
Minggu, 1 Desember 2019
JIEXPO Theatre Kemayoran Jakarta
Dhammadesana: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera
Tema Dhamma: How to Balance Material and Spiritual Life
Penulis & Editor: Lij Lij


Adanya berbagai perubahan menyebabkan kegelisahan dimasa yang akan datang. Kita terkadang tidak siap menghadapi perubahan. Misalnya perubahan penduduk yang semakin banyak, perekonomian yang berbeda, tingkat kecerdasan yang berbeda; semua itu terkadang membuat kita ‘gagap’. Apalagi ada diantara kita yang hidup di dalam lindungan orang tua. Orang tua kadang sulit membedakan antara mencintai dengan memanjakan.

Dibandingkan dengan generasi setelahnya (generasi Z, generasi Y / Millenial), generasi-generasi yang lebih awal yang sebelum tahun 60-an, baby boomers misalnya mendidik anak-anaknya dengan keras sehingga tumbuh anak-anak yang kuat. Kadang-kadang orang tua tidak bisa membedakan antara mencintai dengan memanjakan.

Seorang ibu yang setelah sembilan bulan mengandung anaknya dan ketika lahir maunya diproteksi; tidak boleh begini, tidak boleh begitu, dilarang ini, dilarang itu; sampai timbul kesan “ibu itu cerewet”. Seorang Ibu memproteksi anaknya sedemikian rupa. Anak dilarang naik pohon, dilarang main pisau, dilarang jajan, dan seterusnya.. Ibu cenderung lebih cerewet tetapi hanya cerewet urusan anaknya sendiri. Tidak pernah cereweti anak tetangga. Hal ini berkembang sampai kebidang yang berbeda. Ada beberapa orang tua, ketika anaknya mendapatkan PR justru orang tuanya yang mengerjakan. Orang tua lalu membuatkan PR; inikah mencintai? BUKAN. Ini namanya memanjakan. Ada juga anak yang sudah SMP masih suka disuapi makan oleh ibunya. Ini MEMANJAKAN. Seorang Ibu walaupun anaknya sudah berkeluarga, sudah tua sekalipun tetaplah menganggap anaknya sebagai anak-anak. Tetap memperhatikan anaknya. Itulah Ibu.

Dunia luar tidak seperti ibu kita; dunia luar tidak sebaik ibu kita. Perbedaan ekonomi yang sedemikian jauh menimbulkan banyaknya pengangguran. Pengangguran yang sendiri mungkin tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah pengangguran yang ber-rumah tangga dimana karena tuntutan tanggung jawab terhadap rumah tangganya memaksanya untuk berbuat kejahatan. Hati-hati dengan niat berbagi; walaupun niat berbagi untuk keluarga bukan berarti boleh mencuri atau merampok. Benih baik haruslah betul-betul benih yang baik.

Orang yang menganggur, tidak pandai; kalau dia sendirian belum menjadi bahaya. Tetapi begitu dia memiliki teman, punya keluarga, punya lingkungan maka muncullah kejahatan. Karena itulah, bagaimana kita menyingkapi kesenjangan ini? Disinilah peranan Agama dibutuhkan.

Semua orang punya agamanya masing-masing. Dan semua agama sebetulnya menjelaskan hal yang sama. Agama apapun juga sebetulnya membahas 1 tema yang kurang lebih sama yaitu “HIDUP INI TIDAK KEKAL”. Karena hidup ini tidak kekal, kita harus berusaha menyikapinya. Dan ketika kehidupan yang penuh kesulitan kita kaitkan dengan hidup ini tidak kekal maka akan jelas bahwa apa yang kita alami saat ini di ujung cerita ada ‘rencana Tuhan’ yang akan bekerja. Artinya kalau saya sulit, tidak selalu saya akan mengalami kesulitan karena ada perubahan; sebaliknya ketika kita menjadi orang sukses kitapun juga akan diingatkan. Sukses adalah bukan suatu yang kekal. Hati-hati! Ketika kita sukses, kita juga harus berbuat baik. Tanamlah benih baik sebanyak-banyaknya. Orang sukses itu sebetulnya mengambil deposito kebajikan yang telah dia lakukan sebelumnya. Jadi anda kalau sukses tidak usah terlalu berbangga karena itu sama dengan anda ‘menarik dari ATM uang 1 Juta dari tabungan anda yang 5 Juta’. Karena anda punya 5 Juta, ditarik 1 Juta, tidak ada problem; dan anda tidak usah berbangga akan hal ini karena memang anda memiliki tabungan yang mencukupi. Lain halnya ketika tabungan anda hanya ada 500 ribu maka tidak mungkin anda dapat menarik 1 Juta walaupun anda memukul-mukul, menggoncang ATM tersebut – Saldo anda tidak mencukupi. Karena itu ketika kita bisa memperoleh kesuksesan maka kita tidak perlu sombong. Kita justru bisa berbagi kepada yang lain. Sudah disediakan lahannya. Ayo kita berbuat baik. Mengapa? Karena kalau kita sudah mengambil 1 Juta dari tabungan berarti tabungan kita yang sebelumnya 5 Juta sekarang menjadi 4 Juta. Kalau sekarang sudah 4 Juta, akan sangat baik sekali kalau kita menabung yang baru.

Menambah yang baru yaitu dengan berbuat baik kepada yang lain. Karena di Dhamma disampaikan:

"Menanam padi tumbuh padi
Menanam jagung tumbuh jagung"

“Satu benih padi, tumbuh menjadi banyak padi.
Satu benih jagung, tumbuh menjadi banyak biji jagung."

Demikian pula dengan benih kebajikan. Benih tersebut akan tumbuh menjadi banyak pada waktunya.

Jadi kita menanam padi tumbuh padi, menanam jagung tumbuh jagung. Tapi ingatlah bahwa tanaman kita satu benih padi itu tumbuhnya banyak padi, satu benih jagung menjadi sekian banyak biji jagung. Kalau kita menanam kebajikan sedikit saja, katakanlah sepuluh ribu seminggu, atau sepuluh ribu dua minggu sekali, atau sepuluh ribu satu bulan sekali maka benih yang kita tanam itu menjadi banyak pada waktunya. Mengapa demikian? Karena ketika kita menarik dari ‘ATM’ uang 1 Juta itu, kas kita berkurang 1 Juta dan kalau kita tarik terus-menerus pasti akan habis dan pada saat itulah maka pasti hidup kita akan jadi menderita. Tetapi kalau kita tarik kemudian kita lakukan untuk kebajikan maka kita kemudian menambah ‘saldo’ kita terus menerus atau yang sedang trend di market place sekarang ini dapat ‘cashback’. Jadi ketika kita melakukan kebajikan, dia tidak hilang tetapi justru ada ‘cashback’ yang kembali pada saldo kita.

Kemudian kenapa orang Bahagia itu tidak boleh sombong? Kenapa orang sukses itu tidak boleh sombong? Karena nanti pada suatu masa, kesuksesan itu pasti akan berubah. Kesuksesan itu pasti akan berganti, akan terjadi penurunan. Kalau demikian dengan kebajikan yang sudah kita lakukan itu maka penurunan ini dapat dipertahankan untuk tidak segera menurun (drastis). Tetapi bisa lebih stabil posisinya.

Sebaliknya di ‘Bank’ yang lain, kita juga menarik 1 Juta dari deposit 5 Juta. Ini adalah ‘bank penderitaan’. Hidup menderita dari kecil, tinggal dipojok kampung. Untuk makan susah. Itu sebenarnya kita sedang menarik deposit karma buruk kita. Deposit ‘karma buruk’ yang tadi 5 Juta janganlah membuat kita minder, atau kemudian kita sakit hati, atau protes kepada ‘Tuhan’. Kita tidak bisa protes karena ini adalah buah dari kelakuan kita sendiri. Berbeda dengan sewaktu kita menarik dari bank yang pertama ‘bank kebahagiaan’ dimana ketika kita tarik maka kita harus berbuat baik; setiap kita tarik maka kita harus berbuat baik supaya kita tetap punya kebahagiaan, tetap punya kesuksesan sebagaimana yang kita inginkan. Tetapi di bank yang kedua ‘bank penderitaan’ ketika kita menarik deposit karma buruk tidak sepantasnya kita kembali menambah keburukan; sebaliknya justru kita harus berbuat baik karena kita tahu bahwa karma buruk ini adalah buah kelakukan buruk kita. Sama dengan 1 gelas air yang terisi 1 sendok garam. Garam ini adalah karma buruk yang kita ambil; segelas air adalah karma baik. Ketika kita minum koq terasa asin sekali.. kemudian kita tambahkan air 1 gelas lagi maka garam yang ada disitu tetap namun airnya bertambah. Perbandingan yang semakin besar membuat rasa garam itu berkurang. Kalau kita mengurangi kejahatan (garamnya kita stop), tambah airnya (tambah kebajikan) maka hidup kita menjadi lebih Bahagia.

Lalu kita melihat perbedaan tadi. Karena orang tua kadang memproteksi kita. Orang tua dalam proses Pendidikan sebaiknya mengenalkan rasa kecewa kepada anak. Hal yang penting untuk diingat oleh semua orang terutama calon orang tua adalah : mulai sejak mengandung, didiklah anak dengan disiplin. Kenalkan rasa kecewa sejak dalam kandungan. Misalnya ketika Ibu yang mengandung merasa mengantuk, kalau belum waktunya tidur cobalah tahan. Hal ini akan melatih anak dalam kandungannya, melatih anak tersebut untuk disiplin. Jadi tidak ada istilahnya “bawaan orok” 😊

Didiklah semenjak dari dalam kandungan, supaya anak tersebut menjadi anak yang disiplin. Kemudian ketika anak tersebut lahir juga perlu dikenalkan akan rasa kecewa. Beberapa orang tua ketika anaknya meminta untuk makan bakso sedangkan yang tersedia hanya bakmi, mereka memanjakan anaknya dengan memberikan sesuai keinginan anak. Anak harus dikenalkan dengan rasa kecewa sejak dini, dimulai dari makanan itu; agar anak dapat menerima kenyataan sebagaimana adanya; bahwa di saat ini hanya ada bakmi, besok atau kapan-kapan baru ada bakso. Akhirnya anak ini dididik untuk menjadi lebih kuat / lebih tahan gempa / tahan goncangan; siap menghadapi perubahan, siap menghadapi perbedaan. Dan anak kalau terus dididik seperti ini ketika nanti melihat perubahan, melihat perbedaan seperti itu, ketika dia menjadi orang kaya maka dia tidak sombong karena dia menyadari bahwa kekayaan itu tidak kekal, dia harus banyak berbuat baik. Tetapi ketika dia menjadi orang yang tidak kaya, dia pun tidak menjadi orang yang minder, yang berwawasan sempit (benci sama orang kaya) tetapi justru dia akan berjuang untuk bisa menjadi sukses.

“Orang tua, pada masa Pendidikan sebaiknya mengenalkan rasa kecewa pada anak. Hal ini untuk mendidik anak agar belajar menerima kenyataan sebagaimana adanya sejak dini. Sehingga kelak ia akan siap menghadapi perubahan dan perbedaan di masyarakat.”

Dengan cara seperti ini, ketika kita melihat ada perubahan; kita berani dan siap menghadapi perubahan maka dalam menghadapi perbedaan apapun kita akan selalu siap. Karena sesungguhnya di dalam setiap agama sudah menjelaskan tentang adanya perbedaan dan juga diberi penjelasan persiapan menghadapi perbedaan. Kalau kita masing-masing dapat mengerti hal ini maka kita akan selalu bersyukur.

Kalau di Jawa; orang yang mengalami kecelakaan masih tetap saja ‘untung’. Untung cuma sepeda motornya yang lecet; untung cuma kena kaki; untung masih hidup; selalu untung…

Ini adalah konsep yang bagus untuk menerima kenyataan.

“Mengucapkan kata UNTUNG, mengkondisikan kita untuk bersyukur di saat mengalami kesulitan hidup."

Dengan sering mengucap kata UNTUNG maka kita lebih mudah menghadapi perubahan; lebih mudah menerima kenyataan sebagaimana adanya.”

Kalau kita rugi 5 ribu; untung ruginya masih 5 ribu, kalau ruginya 10 ribu tentu berat. Orang tua harus mendidik anaknya untuk siap menerima perubahan, menerima perbedaan. Demikian pula ajaran-ajaran agama juga mengajarkan agar kita siap menerima perubahan, siap untuk menerima perbedaan. Bahwa tubuh kita pun sesungguhnya berbeda. Alam telah memberikan kita contoh; mata kanan dan kiri tidak sama, lubang hidung tidak sama, tinggi telinga tidak sama, bentuk telinga juga tidak sama, jari pun tidak sama. Jari kita tidak hanya kelingking saja, tidak hanya jari manis saja, tidak jari tengah saja, tidak telunjuk saja, tidak jempol saja. Tetapi kelima jari yang berbeda-beda ini toch kita tidak pernah protes.

Artinya kita dapat menerima adanya perbedaan. Tubuh kita ada perbedaan; sebelah kiri ada jantungnya, sebelah kanan tidak ada jantung; kita juga tidak protes.

Kalau kita lahir sudah dengan berbagai perbedaan, mengapa sewaktu hidup kita tidak bisa menerima perbedaan?

Mengapa kita selalu menyalahkan perbedaan untuk memberikan pembenaran, merasionalisasi tindakan kita yang negatif. Tidak suka ada orang yang lebih pintar dari kita, tidak suka melihat toko sebelah lebih ramai dari toko kita, dan lain-lain. Untuk apa? Padahal tubuh kita berbeda dan kita terima, maka perbedaan di luar; perbedaan apakah itu karena ekonomi, perbedaan karena pendidikan, perbedaan karena agama, perbedaan karena suku-ras dan segala macam golongan sebetulnya bukan masalah ketika kita mau memperbaiki pola pikir kita.

"Perbedaan yang ada di masyarakat sebenarnya bukan masalah ketika kita memperbaiki pola pikir kita.”

Kita memang ‘ngeri’ dengan masa depan; tetapi kita jangan hanya ngeri dengan masa depan kemudian kita tidak melakukan apa-apa. Jika kita ngeri dengan masa depan maka mulailah dari sekarang, siap menghadapi perubahan salah satunya dengan menyadari hidup yang selalu berubah. Ketika memperoleh kebahagiaan maka harus banyak berbuat baik agar kebahagiaan bertahan lama. Ketika memperoleh penderitaan tetaplah berbuat baik agar didalam kehidupan ini penderitaan berjalan semakin singkat.

Agar kehidupan material dan spiritual menjadi harmonis hanya ada 3 kunci yaitu :
1. Perbanyak kebajikan
2. Terus berbuat kebajikan
3. Jangan pernah berhenti berbuat kebajikan

Semoga yang disampaikan ini memberikan manfaat dan kebahagiaan. 🙏🏻

40 Tahun STAB NALANDA
1 Desember 2019
JIEXPO Theatre Kemayoran Jakarta
========================
Demikian yang dapat dituliskan kembali. Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat🙏🏻




Related Postview all

Menjadi Buddhis yang Lebih Baik

access_time26 November 2019 - 00:13:55 WIB pageview 2901 views

Kegelisahan empiris dari data survey yang dikemukakan pembicara sebelumnya (Emil Atmadjaya) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan umat Buddha tahun 2010-2050 adalah minus 0,3%. Hasil survey ... [Selengkapnya]

Memberikan Persembahan kepada Sangha dan Memuja Tapak Kaki Sang Buddha

access_time22 November 2019 - 01:15:05 WIB pageview 2669 views

Masa Kathina atau Kathina Kala atau disebut juga Civara Masa yaitu ‘bulan jubah’ yang berlangsung 1 bulan penuh setelah 3 bulan para Bhikkhu menjalani masa vassa. Pada tahun ... [Selengkapnya]

Berdana dengan Sila, Samadhi dan Panna

access_time22 November 2019 - 01:06:19 WIB pageview 2992 views

Ada seorang umat yang baru menjadi buddhis bertanya pada umat buddha yang sudah lama: apakah umat buddha bisa mengundang para bhikku untuk memberikan blessing pd keluarga kami? Apakah kami ... [Selengkapnya]

Kamma Menjelang Ajal

access_time10 November 2019 - 01:41:31 WIB pageview 3777 views

Berbicara mengenai ajal mungkin hal yang mengerikan, bicara kematian mungkin menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Tetapi jika kita telah siap menghadapi kematian maka kita tidak ... [Selengkapnya]

Bagaimana Kita Bisa Bahagia Secara Duniawi Maupun Spiritual

access_time21 Oktober 2019 - 23:54:45 WIB pageview 2055 views

Namo tassa bhagavato arrahato sammăsambudhasa ( 3 x ) Ketika masih muda tidak menjalani hidup suci juga tidak berhasil mengumpulkan kekayaan , mereka tetap bertahan hidup seperti bangau ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu