Berita / Ceramah

Berdana dengan Sila, Samadhi dan Panna


Kathina Puja 2563 BE
Sabtu, 9 November 2019
Vihara Dhammacakka Jaya
Dhammadesana: YM. Sri Paññāvaro Mahāthera
Tema Dhamma: Berdana dengan Sila, Samadhi dan Panna
Sumber Foto Sampul: Bill Fairs (Unsplash)

 


Ada seorang umat yang baru menjadi buddhis bertanya pada umat buddha yang sudah lama: apakah umat buddha bisa mengundang para bhikku untuk memberikan blessing pd keluarga kami? Apakah kami bisa meminta para bhikkhu memberikan bimbingan dhamma pada kami?
Dijawab : itu memang tugas kebhikhuan, kewajban moral para bhikkhu utk memberi bimbingan dan pendidikan pada umat buddha dan masyarakat.

Lalu umat tersebut menyebutkan beberapa nama bhikkhu seperi bhante Dantacittto, bhante Uttamo. Kalau mengundang bhante-bhante di atas tarifnya berapa. Apakah sampai puluhan juta?

Kami sangat terkejut mengetahui adanya pertanyaan itu. Karena melakukan blessing dan membimbing spiritual adalah kewajiban bagi para bhikkhu, kami tidak menjual Dhamma krn Dhamma tdk ternilai harganya.
1-1 nya yang perlu disiapkan hanya alat transportasi. Kami pasti akan hadir.

Buddha : Seperti halnya Samudera raya yg memiliki satu rasa “ asin “, begitu juga bhikkhu, ajaranku ini juga mempunyai satu rasa yang sama, rasa kebebasan dari penderitaan.

Kebajikan berdana itu antara lain memberikan pahala ketampanan/kecantikan, suara yang merdu, kekayaan, kekuasaan dan pengikut, bahkan menjadi raja besar atau Kekuasaan di alam dewa, bahkan kebajikan berdana itu bisa pula membawa pada pencapaian kesucian.

Mungkin ada yang sering berpikir yang bisa membebaskan itu adalah meditasi Vipassana dll. Tidak, saudara, jangan meremehkan kebaikan berdana.

Contoh I :
Bagai perumpamaan, kalau bermain di tepi pantai, mencicipi rasa air laut, lalu menyelam bahkan sampai ratusan meter, air di laut dalam tadi rasanya akan sama dengan yang di tepi pantai. Baik di pinggir pantai, di tengah samudera raya, rasa airnya akan sama. Dimanapun mencicipi air laut, rasanya akan asin. Begitulah Guru agung menjelaskan perumpamaan air laut untuk menjelaskan Dhamma.
Dhamma itu rasanya sama : membebaskan kita dari penderitaan.

Kalau seseorang bersekolah merasa cukup SMP saja asal bisa berhitung dan menulis, maka kepandaiannya hanya sampai di situ.
Tetapi ada yang lain yang terus belajar sampai perguruan tinggi, sampai doktor, memiliki kepandaian yang luar biasa, mampu membangun rumah yang hebat, bertingkat-tingkat, mampu membuat kapal super yg bisa menerbangkan ratusan orang selama puluhan jam, alangkah hebatnya orang2 yg belajar ini.
Tetapi ada anak SMP yang tidak melanjutkan sekolah tapi dengan keuletan belajar sendiri, anak SMP ini juga bisa maju, sampai bisa jadi menteri...
Begitulah, halnya dengan berdana, kalau berdana dgn pengertian yang dangkal (hanya agar memiliki wajah yang menarik, suara yg merdu dll), hanya sebegitulah manfaat yang diperoleh, bagai anak SMP tadi.
Tetapi bagi yang terus belajar, manfaat berdana dengan pengertian dhamma yang cukup, walaupun hanya dana sepotong roti 1x/minggu, atau hanya sebotol minyak angin, akan menjadi faktor utk mencapai vimutti (kebebasan dari penderitaan).

Contoh II :
Ada sekelompok orang yang tinggal di tempat tandus, hanya singkong dan jambu monyet yang bisa tumbuh, lalu ada para ahli yg menyelidiki tanah tandus itu, dan bilang di tanah tandus itu ada timbunan emas, kalau digali orang2 di sini akan maju luar biasa. Tapi masyarakat di tempat tersebut malas, tidak mau berusaha menggali, mereka berpikir, kita mengundang saja ahli-ahli dari luar menggali. Mereka hanya akan mendapatkan sisa-sisa saja. Orang lain yang menggali itu yang mendapat manfaat lebih besar.

Ajaran Buddha bagai tanah yang tandus, tidak banyak yang tertarik karena tandus, tapi di dalam tanah yang keliatannya tandus itu ada tambang emas yang luar biasa yang harus digali. Tapi bila umat buddha tidak mau menggali, harus cukup dengan sisa-sisa, merasa sudah cukup datang saat upacara dan kena percikan air.

Bagaimana cara berdana hingga mencapai vimutti (kebebasan mutlak)?
1. Bila berdana walaupun sedikit harus diperoleh dengan tidak melanggar SILA (bukan hasil membunuh, bukan hasil korupsi, bukan dana siluman), berdana harus dgn tujuan yang baik (mis kepada orang tua/anak2 yang tidak bisa sekolah/kepada guru/sangha)
2. Serahkan dana dengan sungguh-sungguh, dgn konsentrasi/SAMADHI, tidak dengan pikiran kemana-mana.
3. Bila selesai berdana, bila timbul pikiran ah aku sudah berdana di dhamcak, aku sudah berdana dengan sungguh2, aku sudah berdana dan tidak dikenal orang lain, aku aku aku....segera sadari.... karena aku aku aku itu adalah kilesa, yg menimbulkan dosa, keserakahan dll.
Sadari saja dengan satti, bila bisa menyadari saja itulah PANNA.

Berdanalah dengan sila, samadhi dan panna

Bila berdana dengan benar akan membawa pada vimutti.

Saya akan menutup dengan perumpamaan terakhir :
Bhante, bukannya berdana bagi kebebasan hanya untuk para bhikkhu saja?
Kami kan cukup untuk sejahtera, dll, apakah tidak boleh berdana dengan pikiran seperti itu?
Bila berdana dengan tujuan tinggi, disertai sila, samadhi dan panna, pahala-pahala yang rendah itu sudah pasti didapatkan.

Bila orang bisa membangun gedung bertingkat, pesawat yang sangat modern, walaupun mereka bukan pemiliknya, apakah mereka masih akan berpikir besok makan dimana, apakah besok anak saya bisa bersekolah? Mereka tidak akan bepikir seperti itu. Karena walaupun mereka bukan pemiliknya, tapi dengan memiliki kepandaian untuk membangun semua itu, sudah pasti ada makanan untuknya, sekolah pasti didapatkan, juga mobil dll.

Seperti itulah berdana dengan tujuan yang paling tinggi. Semua pasti akan didapatkan.

Ajaran guru agung mengajarkan juga agar masuk surga, tapi tidak hanya sampai di sana tapi sampai nirodha sampatti, agar tercapainya kebebasan.

Begitulah ajaran guru agung kita, rasanya sama, membebaskan kita dari penderitaan.

Selamat berdana di bulan Kathina.
Berdanalah dgn tujuan tertinggi.




Related Postview all

Kamma Menjelang Ajal

access_time10 November 2019 - 01:41:31 WIB pageview 4390 views

Berbicara mengenai ajal mungkin hal yang mengerikan, bicara kematian mungkin menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Tetapi jika kita telah siap menghadapi kematian maka kita tidak ... [Selengkapnya]

Bagaimana Kita Bisa Bahagia Secara Duniawi Maupun Spiritual

access_time21 Oktober 2019 - 23:54:45 WIB pageview 2437 views

Namo tassa bhagavato arrahato sammăsambudhasa ( 3 x ) Ketika masih muda tidak menjalani hidup suci juga tidak berhasil mengumpulkan kekayaan , mereka tetap bertahan hidup seperti bangau ... [Selengkapnya]

Dana Bukan Sembarang Dana

access_time15 Oktober 2019 - 23:39:36 WIB pageview 2897 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Kebahagiaan yang luar biasa dapat hadir di Vihara dan berkumpul dengan dengan orang-orang 'pilihan'. Mengapa disebut orang-orang ... [Selengkapnya]

Mengubah Pikiran Mengubah Nasib

access_time01 Oktober 2019 - 00:28:37 WIB pageview 3167 views

Orang hebat tentu tidak terjadi begitu saja. Ketika ada 2 orang yang melakukan sesuatu hal yang sama; yang 1 berhasil, yang 1 lagi tidak berhasil. Sekilas kita melihat bahwa keduanya ... [Selengkapnya]

Bakti Kepada Leluhur

access_time24 September 2019 - 13:17:23 WIB pageview 5404 views

Tradisi sembahyang Cit-Gwee  dan pelaksanaan patidana yang sering kita lakukan, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait dengan Dhamma. Meluruskan beberapa pandangan yang ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu