Berita / Ceramah

Mengubah Pikiran Mengubah Nasib


Puja Bakti Umum
Minggu, 22 September 2019
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma: Rm. Tommy Siawira
Tema Dhamma: Mengubah Pikiran Mengubah Nasib
Penulis & Editor: Lij Lij


Orang hebat tentu tidak terjadi begitu saja. Ketika ada 2 orang yang melakukan sesuatu hal yang sama; yang 1 berhasil, yang 1 lagi tidak berhasil. Sekilas kita melihat bahwa keduanya melakukan hal yang sama tetapi kalau kita lihat lebih jauh ternyata 'orang hebat' melakukan 'sedikit' tetapi 'yang sedikit' ini memberikan perbedaan yang besar. Inilah yang dinamakan 'Human Excellence'.

Neuro-Linguistic Programming (NLP) - bahasa pemrograman syaraf. Syaraf sebenarnya dapat diprogram dengan NLP. Meng-aktifkan / memaksimalkan pikiran. Bagaimana mengolah pikiran? Ada metode, ada caranya.
Bagaimana kita dapat bersikap sedemikian rupa adalah dikarenakan oleh pikiran kita yang memerintahkan kita untuk bersikap demikian.
Dapatkah kita memerintahkan pikiran kita untuk tidak bersikap demikian?
Jawaban ‘BISA’ asalkan kita tahu caranya. Dan caranya itu dipelajari dalam NLP.

Sekitar 200-250 tahun yang lalu, seorang ahli filosofi Amerika bernama William James mengatakan bahwa :
"The greatest discovery of my time is that a human being can alter their life by altering their attitudes in mind” – penemuan terbesar di era saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah sikap di pikirannya.

2500 tahun yang lalu, Sang Buddha telah mengajarkan kita bahwa pikiran adalah pelopor.
Dalam Dhammapada 1.2 dikatakan bahwa :
Pikiran adalah Pelopor dari segala sesuatu, Pikiran adalah Pemimpin. Pikiran adalah Pembentuk.

Semua adalah berawal dari pikiran. Oleh karena itulah mengapa pikiran menjadi sangat penting. Kita datang ke Vihara, baca Paritta, ber-Dhammagita, ber-meditasi adalah usaha untuk mengelola pikiran kita secara Dhamma.

Secara Ilmiah ada rumusnya, ada formulanya; sehingga ketika kita belajar sesuatu yang ada rumusnya / formulanya maka kita akan dapat mengulangnya kapan saja dengan mudah.

Kita melatih meditasi agar pikiran kita selalu dalam keadaan sadar ‘SATI’.

Manusia sulit untuk sadar karena hidup manusia 95% dikendalikan oleh pikiran ‘bawah sadar’.

Mindset = Mind Attitude = Sikap Mental
Sekitar 20 tahun lalu dalam Asean Summit di Jakarta yang dihadiri oleh para Kepala Negara Asean; seorang reporter Indonesia bertanya kepada salah seorang Perdana Menteri mengenai pendapat beliau tentang China (dalam arti bagaimana Asia Tenggara dapat melawan / menghadapi China).

Jawaban sederhana beliau adalah bahwa memang benar China bertumbuh tetapi kita tidak boleh melihat hanya dari sudut pandang negatif saja, tapi harus juga melihat dari sudut pandang positif. Melihat negara China yang terkembang pesat berarti perekonomian mereka juga maju pesat dan berarti bahwa kemakmuran warga (orang kaya) negaranya semakin meningkat dengan gaya hidup baru yang senang jalan-jalan ke luar negeri. Dan ini menjadi peluang terutama di sektor pariwisata.

Negara kita yang demikian banyak memiliki kekayaan alam tidak bisa menandingi kemajuan pariwisata negara tersebut; mengapa? Bahkan 1 keajaiban dunia “Borobudur” ada di negara kita namun masih belum mampu menandingi.

"Its not about condition! It's the Mindset"
Ini bukan masalah kondisi, ini masalah mindset – sikap mental. Negara tersebut melihat China sebagai peluang; tetapi kita melihatnya China sebagai masalah. Inilah mengapa dikatakan bahwa ini bukan masalah kondisi tapi masalah pikiran / sikap mental.

Apalagi kita telah belajar Dhamma bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah karena karma kita sendiri. Jadi inilah masalah kita; mindset – sikap mental yang dibentuk oleh pikiran.

Mengubah Pikiran Mengubah Nasib
Secara ilmiah, manusia hidup karena ada energy. Jika kita bicara tentang energy maka kita bicara tentang frekuensi; jika kita bicara tentang frekuensi maka kita bicara tentang vibrasi (getaran); dan jika kita bicara tentang vibrasi maka kita bicara tentang gelombang.

Mengapa pikiran adalah pelopor? Secara ilmiah; pikiran kita memiliki gelombang yang bervibrasi yang dikirimkan ke sekitar kita. Manusia pasti harus memiliki energy, tanpa energy maka kita tidak akan hidup.
Energy dalam Bahasa Inggris adalah Living Force yang artinya Living = Kehidupan; Force = Kekuatan.
Dalam Bahasa mandarin disebut ‘Chi’ yang artinya kehidupan. Orang akan hidup atau tidak tergantung apakah memiliki ‘Chi’ atau tidak.

Dalam Abhidhamma dijelaskan bahwa manusia memiliki 4 unsur yaitu Citta, Utu, Kamma, Ahara.

Citta – Kesadaran, Utu – temperature, Kamma – karma, Ahara – sari makanan.

Dikatakan manusia hidup ketika masih ada ‘Chi’ yang ditandai antara lain: jasmani hangat (karena ada unsur Utu); Kamma masih ada; kesadaran masih ada; dan masih dapat menerima asupan makanan (ahara).

Energy sangat penting.
Mengapa orang tua yang sakit makan obat susah sembuh? Karena obat itu pada dasarnya adalah racun. Orang sehat makan makanan / vitamin; tetapi orang sehat makan obat akan menjadi sakit.
Orang sakit makan obat akan menjadi sembuh; racun lawan racun. Ketika orang tua sakit membutuhkan ‘racun’ untuk melawan ‘racun’ dalam tubuhnya, tetapi jasmani orangtua tersebut sudah tidak mampu mengolah racun tersebut, Chi-nya sudah lemah. Itulah mengapa orang berlatih ‘Taichi’ mengolah ‘Chi’ di dalam tubuhnya agar Chi-nya menjadi seimbang dan kuat; inilah ‘Utu’ di dalam Abhidhamma.

Hiduplah yang sehat untuk mendapatkan fisik yang sehat yang memiliki energy yang bagus maka pikiranpun akan menjadi bagus.

Anak Rusa ketika melihat Harimau, pasti akan kabur; mengapa? Karena takut akan dimakan? Mengapa anak rusa tersebut tahu kalau dia akan dimakan Harimau sedangkan ketika bertemu Gajah, Jerapah, Banteng, yang jauh lebih besar darinya, anak rusa tersebut tidak takut? Jawabannya adalah karena anak rusa ini mendeteksi gelombang yang tidak enak dari Harimau. Harimau mengirimkan vibrasi yang negatif yang mengancam anak rusa; anak rusa yang merasakan vibrasi negatif tersebut lantas lari menghindari vibrasi negatif tersebut. Sama halnya dengan pikiran manusia yang ber-vibrasi.
Semua makhluk di bumi ini ber-vibrasi. Pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pembentuk karena pikiran memiliki vibrasi, memiliki energy, memiliki frekuensi. Oleh karena itu pikiran perlu dilatih supaya tenang sehingga vibrasinya selalu stabil. Ketika kita berpikiran negatif maka frekuensi yang terkirim adalah negatif; sebaliknya jika berpikiran positif maka yang terkirim juga akan positif.

Ketika kita mengatakan kata ‘BISA’ maka energy yang dihasilkan adalah ‘POSITIF’; sedangkan ketika kita mengatakan ‘TIDAK BISA’ maka energy yang dihasilkan menjadi ‘NEGATIF’ alias ‘Tidak Bisa’ juga.
Sebelum action saja energy sudah drop.

Jalan Mulia berunsur 8, salah satunya adalah ‘Ucapan Benar’; maka perhatikan perkataan; karena ber-vibrasi, ber-gelombang.

Jadi bagaimana mindset merubah nasib? Adalah dengan merubah gelombang dari diri kita.

Bagaimana gelombang dalam diri kita bekerja?? Terdiri dari 4 : Delta – Tetha – Alpha – Beta adalah gelombang dalam pikiran kita.

Dalam Abhidhamma; dengan berpikir saja kita sudah melakukan kamma (perbuatan). Apalagi kalau kita berbuat dengan badan jasmani. Contohnya: dalam Karaniya Metta Sutta ada syair ‘tak selayaknya karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka’

Dijelaskan secara ilmiah ketika gelombang negatif muncul maka saat itulah sudah terjadi karma; karena ada ‘law of attraction’ – hukum tarik-menarik; dimana yang sama akan menarik yang sama.

Maka jangan karena membenci seseorang, kita mengharap orang itu celaka; karena dengan berpikir saja kita sudah berbuat; mengapa demikian? Karena kita bicara gelombang frekuensi pikiran.

Delta adalah gelombang tidur. Tetha adalah gelombang frekuensi lemah. Alpha dan Beta adalah gelombang frekuensi kuat. Delta-Tetha adalah gelombang lemah; Alpha-Beta adalah gelombang kuat.

Anak kecil usia 0-2 tahun lebih dominan gelombang delta. Sewaktu kita mengantuk, gelombang tetha yang aktif. Namun ketika kita hendak tidur tetapi tidak bisa tidur / banyak pikiran berarti kita berada di gelombang beta.
Usia 0-7 tahun dipengaruhi oleh gelombang Tetha. Dan gelombang Tetha inilah yang menciptakan kita menjadi seperti hari ini.

Usia 0-7 tahun di gelombang tetha ada 2 kelebihan yaitu : menyerap dan berimajinasi.

Anak usia balita sering bermain dan berbicara dengan mainannya. Itulah gelombang tetha yang mendominasi. Dengan gelombang tetha nya tersebutlah seorang anak menyerap apapun yang dilihat dan didengar tanpa dan filter.
Anak yang sering dimarahi sejak kecil maka kelak hanya ada 2 kemungkinan yang akan terjadi pada anak tersebut; menjadi ‘ganas’ sekali atau sebaliknya menjadi ‘takut’ sekali.

Oleh karena itu sebagai orang tua kita hendaknya menjaga sikap dan perkataan kita terutama di depan anak-anak kita karena kita berkewajiban untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita.

Saat ini kita menjalani ‘program orangtua’ kita. Kita dibentuk oleh orangtua kita. Mungkin ada program orangtua kita yang ‘kurang baik’ bukan berarti kita kemudian menyalahkan orang tua kita. Kita tetaplah harus berbakti dan menghormati orang tua kita karena mereka adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita.

Lalu bagaimana kita dapat ‘memprogram’ kembali diri kita? Salah satunya dengan cara datang ke Vihara. Kita datang ke Vihara adalah untuk me-re-program diri; dengan kekuatan kamma yang luar biasa menggunakan kesempatan belajar Buddha Dhamma, berlatih meditasi, dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya.

Otak manusia itu 5 % SADAR; 95% TIDAK SADAR.

95% yang tidak sadar itu dikendalikan oleh alam bawah sadar; terprogram sedemikian rupa di alam bawah sadar kita. Itulah mengapa kita harus melatih SATI; melatih kesadaran agar kita selalu Sadar. Dengan meditasi kita belajar melepas tidak melekat sehingga kesadaran kita akan menjadi lebih kuat dari pada alam bawah sadar kita.

Apakah berarti alam bawah sadar tidak diperlukan? Bukan demikian. Alam bawah sadar tetap kita perlukan untuk menciptakan kebiasaan terutama dalam menciptakan kebiasaan baik untuk berbuat baik misalnya berdana, menjaga sila, mengembangkan metta, dan melaksanakan bhavana.

Untuk membuat karma berbuah, maka kita harus menciptakan kondisi.
Kenapa rumah bersih tidak ada kecoa? Karena tidak ada makanannya.
Demikian halnya dengan karma baik kita, bagaimana akan berbuah jika tidak ada ‘makanan-nya’ yaitu kondisi yang mendukung untuk berbuah. Menciptakan kondisi baik dengan berdana, melaksanakan sila, membantu orang lain, kondisikan yang baik pasti akan berbuah.
Banyaklah berbuat baik, tidak melakukan kejahatan, sucikan hati dan pikiran; untuk menciptakan kondisi. Kita sendiri lah yang harus berbuat kebajikan supaya kita dapat ‘menarik’ hal yang baik datang kepada kita. Tanaman akan memberikan buah yang baik jika tanahnya subur. Itulah bagaimana mengubah pikiran dapat mengubah nasib yaitu dengan menciptakan ‘kondisi’.

Demikian yang dapat dituliskan kembali. Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat.

Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Bakti Kepada Leluhur

access_time24 September 2019 - 13:17:23 WIB pageview 87 views

Tradisi sembahyang Cit-Gwee  dan pelaksanaan patidana yang sering kita lakukan, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait dengan Dhamma. Meluruskan beberapa pandangan yang ... [Selengkapnya]

Menghadapi Kehilangan

access_time08 September 2019 - 23:37:53 WIB pageview 89 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Ratiyā jāyatī soko,ratiyā jāyatī bhayaṁRatiyā vippamuttassa,natthi soko kuto bhayaṁ. Dari kemelekatan timbul ... [Selengkapnya]

Atthalokadhamma - 8 Kondisi Kehidupan di Dunia

access_time01 September 2019 - 02:47:29 WIB pageview 70 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Tujuan kita datang ke vihara adalah untuk belajar Buddha Dhamma, guna meraih kebahagiaan. Mengapa kita mau belajar Buddha Dhamma? ... [Selengkapnya]

Practice Our Mind, Healing Our Body

access_time21 Agustus 2019 - 23:33:35 WIB pageview 101 views

Ketika kita diberitahukan hal yang baik tentang diri kita seakan timbul rasa ragu, perasaan minder, merasa tidak pantas, apa benar kita baik?? Sebaliknya ketika kita diberitahu keburukan ... [Selengkapnya]

Memaknai Kehidupan Sebagai Manusia

access_time29 Juli 2019 - 00:35:09 WIB pageview 118 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna. (3x) Kiccho manussa patilābhokiccham maccāna ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu