Berita / Ceramah

Membangun Kepercayaan Menuju Tenang dan Damai


Puja Bakti Umum
Minggu, 28 April 2019
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma: Bhikkhu Subhakaro Mahathera
Tema Dhamma: Membangun Kepercayaan Menuju Tenang dan Damai


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)
Dhammo avera khanti dhamma care ti.

Dhamma akan melindungi siapapun yang mengetahui mengerti memahami dan menyadarinya.

Kita bersama-sama hadir di Vihara; menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kebajikan. Menempatkan diri diantara keadaan dan kebersamaan ditempat ini; semoga hal-hal baik dapat selalu terjadi dalam kehidupan yang kita jalani.

Di Vihara kita belajar Pariyatti Dhamma. Teori sebagai informasi data yang memadai / mencukupi yang melandasi seseorang untuk melakukan pemahaman, pendalaman dan praktek. Teori ini berfungsi untuk dapat memberikan kebijaksanaan secara teori. Teori / informasi yang diberikan haruslah sejelas mungkin agar tidak menimbulkan kebingungan atau keraguan sehingga terjadi kesalahan.
Jika informasi yang didapatkan hanya setengah-setengah maka tentu akan menimbulkan perbedaan dalam praktek.
Mereka yang mengetahui tata cara berdana makan siang kepada Bhikkhu tentu akan dapat menjalankan perbuatan baik berdana dengan baik dan lancar; tentu akan berbeda dengan mereka yang hanya mengetahui informasi secara tidak lengkap.

Kita yang sering datang ke Vihara pasti mengetahui tata cara puja bakti. Kita akan berpakaian sopan dan rapih, tidak menggunakan topi, mendengarkan Dhammadesana dengan sikap yang baik dan benar. Dengan pengertian bahwa dengan melakukan puja bakti kita telah melakukan kebajikan yang membawa ketentraman dan kedamaian.
Kita mengerti dengan jelas dengan benar tata cara puja bakti sehingga tidak terjadi kecanggungan / kekeliruan dalam praktek.

Teori ilmu pengetahuan sebagai Pariyatti Dhamma harus dimengerti dengan jelas, dipahami dengan benar agar kita tidak salah / tidak keliru sehingga prinsip mendasar dalam pikiran akan muncul. Mengerti akan prinsip melakukan puja bakti; puja adalah menghormat & bakti adalah rasa bakti; sehingga antara hati nurani dan pikiran kita menuju kepada pengertian yang baik yaitu penghormatan.
Prinsip dilakukan menuju praktek yang benar. Pengertian / pengetahuan ini didasarkan pada literatur keagamaan; sedangkan untuk pengertian pemahaman tentang kepercayaan itu sifatnya sangat luas. Kepercayaan kata dasarnya adalah percaya. Pada saat kita sudah mengerti secara lengkap dan memahami betul maka timbullah rasa percaya; sehingga pada saat praktek kita tidak tengok kanan kiri lagi. Kesiapan hati nurani dan pikiran menyatu melakukan kebajikan yang sepenuhnya dan seutuhnya bernilai untuk diri sendiri. Jika kebajikan belum dilakukan dengan sepenuhnya atau seutuhnya artinya pemahaman masih kurang. Hanya dengan memahami apa yang dilakukan seutuhnya-lah maka kita tidak akan tergoyahkan, meskipun banyak halangan / rintangan yang ditemui selama perjalanan. Rintangan tersebut tersebut tidak akan menghalangi hal prinsip yaitu berbuat kebajikan yang bernilai.

Ketika kita membangun kepercayaan; berawal dari kata dasar 'percaya' akan kebaikan dan diulang untuk kedua kali, ketiga kali akan muncul percaya diri. Dengan kemunculan percaya diri ini berarti kita telah masuk untuk memahami dan mendalami dari apa yang telah kita lakukan. Dan ketika hal tersebut menjadi motto dari kehidupan maka disebut kepercayaan.
Kebajikan yang memberi nilai dari usaha melakukan perbuatan baik. Saat kita memahami dan menyadari hal itu maka dalam batin akan muncul rasa bahagia, rasa tentram dan damai. Dengan teori yang jelas, yang dapat diketahui, dimengerti, dipahami dan dapat dibuktikan. Pembuktian dari pengertian itu adalah nyata yang didapat dari teori.

Sarana dan prasarana pendukung dibutuhkan untuk terwujudnya pembuktian. Dengan sarana dan prasarana yang tepat akan membantu menyampaikan pengertian.

Pasti akan terjadi sesuatu yang indah setelah adanya ujian.
Ujian adalah untuk mempunyai ketahanan dan kekokohan didalam melakukan perjuangan meraih kebajikan.

Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.

Ketika seseorang memiliki pengertian dan pemahaman akhirnya akan muncul percaya dalam dirinya untuk melakukan suatu hal. Ketika dilakukan kembali, dan dilakukan lagi, berulang-ulang dan berhasil maka akan menjadi sebuah kepercayaan.

Seperti hal nya kita datang ke Vihara melakukan puja bakti selalu 'berhasil'; untuk apa? Untuk melepaskan beban batin kita, kepenatan batin kita dan kegalauan batin kita. Ketika datang ke Vihara mengawali puja bakti dengan didasari pengertian yang baik sesuai aturan tata cara Agama Buddha; selalu dilakukan ‘berhasil’ maka akan memiliki kekuatan, ketenangan, ketentraman dan kedamaian. Dan ketika kita menelaah kembali ke dalam diri kita, kebajikan yang telah dilakukan berulang kali menjadi sebuah tanda kepercayaan itu bangkit. Bangkitnya kepercayaan, berkembangnya kepercayaan akan mengkondisikan keyakinan diri. Ketika kepercayaan berkembang menjadi keyakinan diri maka kita tidak akan mudah di iming-iming dengan segala sesuatu. Tidak akan mudah goyah; karena keyakinan itu sangatlah kokoh seiring sejalan dengan nafas dalam kehidupan.

Keyakinan terhadap Ajaran Buddha itu terbentuk demikian kokoh melalui gemblengan dari waktu ke waktu, melalui kondisi ke kondisi, melalui keadaan ke keadaan, melalui masalah ke masalah sehingga menemukan jati diri bahwa kita yakin Ajaran Sang Buddha adalah menuntun pada kebajikan menuju kepada kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan.

Sang Buddha sebagai ‘Tokoh’ bagi kita semua sebagai siswa Sang Buddha. Sang Buddha dengan sifat-sifat luhurnya (dalam Buddhanussati) menjadi teladan bagi kita semua untuk dapat bebas dari penderitaan.
Kita sebagai siswa Sang Buddha bertekad untuk mengikuti Ajaran-Nya.

Menuju tenang dan damai
Tenang artinya tidak bergolak, stabil; tidak terganggu keadaan sekelilingnya, tidak kacau secara mental, diam dengan kesesuaiannya (seiring sejalan dengan kondisi).
Damai artinya tidak adanya pertikaian dalam masalah, mengerti dan memahami tidak berlawanan dengan masalah, mengerti dan memahami seutuhnya baru kemudian mengambil hikmahnya untuk menuju solusi terselesaikannya masalah.

Kita diajarkan Sang Buddha untuk melihat masalah, mengetahui masalah, mengerti masalah, dan memahami masalah lalu mengambil hikmah masalah dan memutuskan untuk solusi selesainya masalah.

Adalah salah jika hidup dengan menyimpan masalah; menyimpan masalah untuk kelahiran berikutnya??

Hendaknya kita membuka hati dan pikiran sehingga masalah terselesaikan. Hal ini akan menjadi guru bagi kita untuk menghadapi masalah-masalah selanjutnya. Guru yang terbaik adalah pengalaman. Dari semua masalah yang terselesaikan maka akan menjadikan kita lebih kuat dalam menjalani kehidupan.

Dalam ber-meditasi keadaan tenang, damai, bahagia, dan terbentuk percaya diri jika hati nurani dan pikiran kita menyatu.

Beberapa cara untuk memperkuat dasar pengertian yang kita miliki :
- Dhammasākacchā (diskusi Dhamma)
- Dhamma class (membahas Dhamma meliputi penjelasan-penjelasa Dhamma secara mendalam)
- Pengembangan teori / memperluas wawasan melalui membaca literatur yang bernilai kebaikan tidak hanya terbatas pada pengetahuan Buddhis

Diri kita sendiri yang dapat menempatkan kita kedalam kondisi tenang dan damai. Mulailah kita berusaha menempatkan diri untuk melihat, menjadi tau, mengerti dan menemukan guru dalam diri yang menjadi inti penyelesaian masalah. Kepercayaan yang harus dibangun untuk menemukan ketenangan dan kedamaian menjadi hal yang berharga.

Demikian yang dapat didokumentasikan.
Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā
Semoga semua makhluk berbahagia
Sādhu, sādhu, sādhu

Dirangkum dan ditulis oleh: Lij Lij




Related Postview all

Bagaimana Merubah Nasib Menurut Dhamma

access_time27 April 2019 - 01:18:20 WIB pageview 375 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa..(3x) Seorang bijaksana yang memberikan kebahagiaan kepada orang lain akan berbahagia di dalam kehidupan ini. Kata 'nasib' sering ... [Selengkapnya]

Pattidana Vihara Sasana Subhasita 13 April 2019

access_time24 April 2019 - 00:34:13 WIB pageview 369 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Idaṁ vo ñātinaṁ hotu.Sukhitā hontu ñātayo. Melakukan upacara Pattidana merupakan kebajikan. Upacara Pattidana ... [Selengkapnya]

Manajemen Diri Buddhis

access_time22 April 2019 - 00:02:01 WIB pageview 520 views

Tema "Manajemen Diri Buddhis" ini diambil dari buku terbaru Rm. Toni Yoyo. Pada kesempatan ini hadir bersama dengan Bp. Teguh Taslim. Kutipan Tripitaka berikut ini untuk mengingatkan kita ... [Selengkapnya]

Ceng Beng dari Sudut Dhamma

access_time15 April 2019 - 13:32:19 WIB pageview 302 views

Mengawali sharing Dhamma pagi ini dengan Dhammagita membuat kita semua menjadi rileks dan bersemangat untuk mendengarkan Dhamma. Dalam syair lagu Avijja tertulis lyric "berbahagia hidup di ... [Selengkapnya]

Menyadari Fenomena Kehidupan Perhatian Benar (Samma-Sati)

access_time06 April 2019 - 11:36:26 WIB pageview 327 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Banyak sekali di dalam kehidupan ini, tanpa kita sadari kita melakukan hal-hal yang salah. Kenapa? Karena kita tidak memiliki ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu