Berita / Ceramah

Manajemen Diri Buddhis


Puja Bakti Umum
Minggu, 14 April 2019
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma:
1. PMy. Dr. Toni Yoyo
2. Bp. Teguh Taslim

Tema Dhamma: Manajemen Diri Buddhis


Tema "Manajemen Diri Buddhis" ini diambil dari buku terbaru Rm. Toni Yoyo. Pada kesempatan ini hadir bersama dengan Bp. Teguh Taslim.

Kutipan Tripitaka berikut ini untuk mengingatkan kita betapa pendeknya kehidupan kita sebagai manusia, selengkapnya sebagai berikut:

Anguttara Nikaya ~ Sutta Pitaka
“Dahulu kala, hiduplah seorang guru agama bernama Araka, yang bebas dari nafsu indria. Dia mempunyai beratus-ratus murid, dan inilah doktrin yang diajarkannya kepada mereka:

“Sungguh pendek kehidupan manusia, para brahmana, sungguh terbatas dan singkat. Kehidupan ini penuh dengan penderitaan, penuh dengan pusaran. Hal ini harus dipahami dengan bijaksana. Orang harus melakukan hal yang baik dan menjalani kehidupan yang murni; karena tak seorangpun yang pernah terlahir dapat lolos dari kematian.”

Sang Buddha mengulang apa yang di katakan Araka tersebut kepada para Bhikkhu; yang intinya bahwa hidup ini pendek, dan tidak gampang, harus dijalani dengan baik, diisi dengan perbuatan baik, dan memurnikan kehidupan karena tak seorangpun akan lolos dari kematian.

Di zaman Araka, usia rata-rata manusia adalah 60.000 tahun, dan gadis-gadis dapat dinikahkan pada usia 500 tahun.
Pada zaman itu jenis penyakit yang dimiliki orang hanya ada 6: kedinginan, kepanasan, kelaparan, kehausan, kotoran, dan kencing.

Walaupun orang-orang hidup amat lama dan memiliki amat sedikit penderitaan, guru Araka mengingatkan para muridnya:

“SUNGGUH PENDEK KEHIDUPAN MANUSIA”.

Di zaman sekarang ini, usia rata-rata manusia sekitar 74 tahun dengan ratusan jenis penyakit. Apakah kita sudah bergegas atau buru-buru mengumpulkan karma baik??

Sebagian mungkin berfikir masih muda, masih banyak waktu, nanti saja kalau sudah mulai tua baru mengumpulkan karma baik. Yakinkah sisa usia masih banyak? Apakah ada jaminan kita akan mencapai usia lanjut? Saat sekarang tidak ada jaminan harus berusia lanjut baru kontrak kehidupan selesai; tidak ada!

Karena itu kita harus berhati-hati dan bergegas berbuat baik, serta memurnikan kehidupan.

Ada komentar kurang tepat bahwa zaman Sang Buddha Gautama usia rata-rata manusia 100 tahun, sedangkan Buddha Gautama parinibbana pada usia 80 tahun? Koq sepertinya gak keren, gak jago, gak sakti?

Bagaimana tanggapan kita atas komentar seperti itu?

Usia tidak berhubungan secara garis lurus dengan kebijaksanaan.

Seseorang yang usianya lanjut, apakah pasti kebijaksanaannya juga meningkat? Apakah sudah pasti lebih bijaksana dari orang lain yang lebih muda?
Ukuran kita adalah kebijaksanaan.
Buddha Gautama sudah sempurna, sudah suci; sudah di tingkat tertinggi; sehingga usia sudah bukan masalah. Usia lebih tua dari Buddha namun belum sempurna/suci, pasti kualitas dan kebijaksanaannya di bawah Buddha.

Seorang pemuka agama Buddha pernah mengatakan bahwa ada orang yang mencoba menurunkan keyakinan kita kepada Sang Buddha dengan mengatakan bahwa Pangeran Siddharta meninggalkan keluarga; istri dan anaknya, berarti kurang bertanggung jawab.

Bagaimana kita menjawabnya?

Beliau memberikan bekal jawaban lebih kurang seperti ini:
"Pangeran Siddharta memang masih ada kekurangan dan mungkin melakukan kesalahan; tapi guru saya adalah Buddha Gautama bukan Pangeran Siddharta. Pangeran Siddharta pada waktu itu belum sempurna, belum suci, belum lengkap pengetahuannya. Tetapi setelah menjadi Buddha, beliau sempurna. Guru saya Buddha Gautama bukan Pangeran Siddharta."

Kita harus mampu menjawab secara cerdas dan elegan hal-hal yang kadang-kadang dihadapkan kepada kita, yang bisa membuat keyakinan kita goyah.

Di dalam buku "Manajemen Diri Buddhis" ; ketika ada orang yang bertanya ingat tidak dengan kehidupan kita sebelumnya karena Agama Buddha mengajarkan bahwa sudah banyak kehidupan-kehidupan kita sebelum sekarang (konsep Tumimbal Lahir), kasih tahu donk sebelumnya sebagai apa.

Kebanyakan dari kita tidak tahu kehidupan-kehidupan lampau kita.

Lalu kemudian orang yang bertanya tersebut meragukan ajaran Buddha tentang Tumimbal Lahir karena kalau kehidupan sebelumnya sudah banyak, masa sekali saja tidak bisa kasih tahu?

Bagaimana jawaban terbaik kita??
Ingin tahu??
Bacalah buku "Manajemen Diri Buddhis".

Walaupun hidup manusia sangat lama di zaman Araka dan tidak ada penyakit / sedikit penderitaan, Araka mengatakan sungguh pendek kehidupan ini. Isi dengan sebaik-baiknya, jangan sia-siakan.


Salah satu dasar dalam manajemen diri atau pengelolaan diri seorang Buddhis sesuai ajaran Buddha adalah:
DHAMMAPADA (Syair 50)
Buddha mengatakan:

"Ia hendaknya tidak memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain, apa yang diperbuat dan tidak dibuatnya, melainkan memperhatikan apa yang dibuat dan tidak diperbuat diri sendiri."

Banyak orang yang repot ngurusin orang lain, ngatur orang lain harus begini, harus begitu; tetapi dirinya sendiri belum diatur, belum dijaga dengan baik. Orang yang demikian, kira-kira bisa tidak menggerakkan orang lain?
Bertenaga tidak omongan orang tersebut? Sulit!!!

Buddha mengingatkan kita bahwa yuk.. kita jaga dulu diri kita. Yang kita pikir baik, kita pikir bagus, kita lakukan dulu; baru kalau kita kemudian meminta orang lain untuk melakukan maka orang tersebut akan lebih mau untuk melakukan karena kita sudah melakukan, kita sudah menjadi contoh.

Ini pun bisa menjadi celah orang untuk mengetes umat Buddha dengan mengatakan bahwa Agama Buddha mengajarkan egoisme atau egosentris - berpusat pada diri sendiri. Kita dapat menjawabnya dengan ilustrasi "naik pesawat" berikut ini tanpa harus emosi.

Ketika kita naik pesawat, ada pengumuman jika tekanan udara di kabin menurun, maka masker udara akan turun.
Kita harus memakai masker udara untuk diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika kita sibuk mengurusi orang lain terlebih dahulu maka kita sendiri akan kekurangan oksigen; dan tidak mungkin kita dapat menyelamatkan orang lain. Kita harus memasang masker udara untuk diri kita sendiri terlebih dahulu sehingga kita dapat bernafas dengan normal barulah kita dapat membantu orang lain.

Salah satu dasar pengelolaan diri seorang buddhis sesuai ajaran Buddha adalah jaga, cek, dan pastikan bahwa diri kita sudah berupaya untuk semaksimal mungkin menjadi benar, menjadi baik; baru tahap berikutnya ke orang lain.

Dasar Manajemen Diri Buddhis lainnya adalah:

MEMAHAMI:
Tahu secara teori dulu mana yang Benar-Salah, Baik-Tidak Baik, Pantas-Tidak Pantas, Bermanfaat-Tidak Bermanfaat.

Kita perlu belajar untuk dapat membedakan antara kedua hal yang berlawanan tersebut sehingga kita tidak terpengaruh / terkontaminasi dengan hal-hal yang ada di luar. Contohnya: ketika melihat banyak pengendara sepeda motor yang melawan arus jalan, meskipun kita tahu bahwa melawan arus itu tidak benar tetapi karena banyak yang melakukan maka kita dapat terpengaruh untuk ikut-ikutan melawan arus.

Oleh karena itu, seorang umat Buddha harus mengerti dengan sebenar-benarnya mana yang "Benar-Salah, Baik-Tidak Baik, Pantas-Tidak Pantas, Bermanfaat-Tidak Bermanfaat".

Ajaran Buddha secara definisi Dhamma diartikan sebagai hukum alam yang berlaku bagi siapa saja, di mana saja, kapan saja tanpa kecuali; berlaku universal bukan relatif.

Dari apa yang sudah kita tahu / kita pahami kemudian harus dilakukan atau dipraktikkan melalui: Pikiran, Ucapan, dan Badan Jasmani. Karena sudah tahu maka di-praktek-kan melalui pikiran, ucapan dan badan jasmani dengan:

MENAMBAH:
Yang Benar, Baik, Pantas, Bermanfaat; dan

MENGURANGI:
Yang TIDAK Benar, TIDAK Baik, TIDAK Pantas, TIDAK Bermanfaat.

Jadi salah satu tujuan kita datang ke Vihara adalah untuk belajar MEMAHAMI:

3 Tahap Pemahaman Dhamma Seutuhnya

• BERTEORI (Pariyatti)
Ajaran Buddha berdasarkan pada logika, bukan sesuatu yang abstrak, sesuatu yang dapat kita buktikan (tahapannya bertingkat).

Ajaran Buddha tersusun secara sistematis dari yang mendasar lalu meningkat ke yang lebih lanjut.

• BERPRAKTIK (Patipatti)
Tahap berikutnya setelah kita belajar adalah praktik.
Secara teori kita semua pasti mengetahui Tilakkhana - 3 Corak Umum bahwa segala sesuatu yang berkondisi, tersusun dari berbagai unsur adalah tidak kekal, akan mengalami perubahan (anicca); karena berubah maka tidak memuaskan (dukkha); dan ini terjadi karena tidak ada inti (anatta).

Secara teori kita hafal tetapi pada waktu praktik apakah semudah itu?

Inilah tantangan kita, apa yang kita tahu Ajaran Buddha ayo kita praktikkan!

Rasa dari praktik berbeda dengan rasa dari teori.

• BERMEDITASI (Pativedha)
Yang membedakan Ajaran Buddha dengan banyak ajaran yang lainnya adalah 'Meditasi'.

Ketiga tahapan ini harus menjadi 1 rangkaian; diilustrasikan sebagai berikut:

- Ketika kita ke rumah makan dan diberikan menu, kita dapat mengetahui makanan & minuman apa saja yang disediakan; ini seperti kita belajar (pariyatti) berbagai teori Ajaran Buddha.

- Setelah memesan dan menunggu beberapa saat kemudian kita menikmati makanan dan minuman yang tersaji. Tanpa melihat dan menikmati langsung pesanan menu yang tersaji maka kita tidak dapat membuktikan menunya; diumpamakan sebagai mempraktikkan (patipatti) berbagai Ajaran Buddha yang telah dipelajari. Tanpa mempraktikkan Ajaran Buddha maka kita tidak dapat merasakan langsung teori Ajaran Buddha yang telah kita pelajari.

- Ketika kita menikmati sajian tersebut lalu timbul penasaran bagaimana cara membuat makanan / minuman tersebut, apa saja bumbu utama-nya, bagaimana cara memasaknya, dan hal-hal terkait lainnya. Jika kita kemudian tahu persis dan memahami bagaimana menu tersebut disiapkan, dibuat, dan disajikan; ini seumpama kita melakukan meditasi penembusan / pandangan terang (vipassana) sehingga memiliki pemahaman sepenuhnya akan berbagai Ajaran Buddha yang sudah kita pelajari dan praktikkan.

Dalam buku Manajemen Diri Buddhis, ada 1 artikel mengenai sistem diri. Suatu sistem memiliki 3 proses utama yaitu : input-proses-output.

S I S T E M  D I R I
Masukan - Proses - Keluaran

(Input) - TRANSFORMASI - (Output)


Masukan (Input) terdiri dari:
> Sekolah, Kursus, Pelatihan, Ceramah, Talk show, Diskusi, Bacaan, dan lain-lain.

Proses (Transformasi) terdiri dari:
> Berpikir, Mengkaji, Merenung, Menganalisis, Mempraktikkan, Mengalami, Meresapi, Meditasi, dan lain-lain.

Keluaran (Output) terdiri dari:
> Pelajaran, Ceramah, Pelatihan, Sharing, Tulisan, Curhat, dan lain-lain.

Berdasarkan Sistem Diri tersebut, manusia dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu:

1. Tipe orang "Stop Input"
2. Tipe orang "Stop Proses"
3. Tipe orang "Stop Output"
4. Tipe orang "yang menjalani lengkap ketiga tahapan sistem diri"

Bp. Teguh Taslim adalah seorang lulusan terbaik program S2 MIT (Massachusetts Institute of Technology) Amerika Serikat - salah satu Universitas terbaik di dunia- dan pernah bekerja di Microsoft. Orang Indonesia yang Buddhis, yang bisa menjadi lulusan terbaik di MIT dan pernah bekerja untuk Bill Gates di Microsoft USA tentu teramat sangat jarang.

Ternyata latar belakang kehidupannya sangat-sangat sulit bahkan pernah di bawah garis kemiskinan.

Beliau lahir sekitar 45 tahun yang lalu di kota Palembang, Sumatera Selatan. Kakeknya adalah seorang Kapiten / tuan tanah di jaman Belanda dulu.

Ayahnya adalah satu satunya orang Palembang yang dapat berkuliah sampai ke negeri Belanda pada saat itu. Ketika kembali ke Indonesia, beliau bekerja di beberapa instansi pemerintah & swasta; juga berjasa menerjemahkan beberapa kitab undang-undang pidana yang kita pakai sampai saat ini yang merupakan peninggalan bangsa Belanda.

Kehidupan awal Teguh Taslim kecil begitu baik, hingga pada usia 4 tahun (1977) tiba-tiba berubah 180 derajat, jatuh ke kehidupan yang paling bawah. Ayahnya yang seorang cendekiawan itu pada suatu hari terjatuh di kamar mandi dan mengakibatkan stroke selama 18 tahun.

Semua harta keluarga dijual oleh Ibu dari Teguh Taslim untuk biaya pengobatan ayahnya. Ibunya yang memiliki 11 orang anak, harus berjuang mencari nafkah untuk menghidupi ke 11 orang anaknya dan mencari biaya pengobatan untuk suaminya yang sakit. Mengontrak rumah ukuran 5 m x 8 m yang dihuni oleh 13 orang.

Ibunya sibuk berjualan empek-empek di pinggir jalan, mengurusi 11 anaknya, dan tetap merawat ayahnya yang sakit dengan baik. Ibunya setiap hari membersihkan tubuh ayahnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, membersihkan kotoran ayahnya setiap hari selama 18 tahun tanpa pernah mengeluh, tidak pernah mengeluarkan 1 kata keluh-kesah apapun. Sungguh salut!! Sangat mengagumkan sekali!!

Saking susahnya kehidupan, Ibunya berpesan ke 11 orang anaknya: jika ingin bersekolah, hanya ada 2 pilihan saja yaitu mencari sekolah gratis atau mendapatkan beasiswa. Hanya 2 itu pilihannya tak ada yang lain.

Selama 4 tahun, Ibunya tidak mampu membeli beras. Selama 4 tahun keluarganya makan makanan ternak berupa bubur bulgur. Setelah 4 tahun baru mampu membeli beras namun hanya cukup untuk dimasak bubur dengan lauk 1 mie instan dibagi 4. Miskin luar biasa.

Sejak kecil selalu mencari sekolah gratis. Pernah 2 tahun sekolah di Madrasah, kemudian mengikuti perlombaan matematika dan menjadi juara umum sehingga diambil oleh SD favorit. Hanya 4 tahun menyelesaikan SD di SD favorit tersebut. Naik ke SMP 3 tahun, kemudian ke SMA hanya 2 tahun saja. 1 tahun waktu di kelas 1 SMA, mengikuti pertukaran pelajar kemudian kembali ke Indonesia langsung dimasukkan ke kelas 3 oleh Kepala Sekolahnya. 

Umur 15 tahun sudah lulus SMA. Sejak kelas 1 SMP sudah mencari uang dengan mengajar les ke rumah-rumah tetangga mengikuti jejak kakak-kakaknya. Mulai mengajar matematika dan fisika. Lulus sebagai lulusan terbaik di SMA, mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di 2 Universitas terbaik di Indonesia; di jogya dan di solo; di Universitas Gajahmada dan Universitas 11 Maret. Berkuliah di 2 kota berbeda berjarak 67 km sambil bekerja di BCA selama 3,5 tahun berjuang tidak sia-sia. Menjadi lulusan terbaik di Univ. Gajahmada.
Pada saat itu mendapat kesempatan dikirim oleh pemerintah Indonesia, diterima di 3 Universitas terbaik dunia: Harvard, Stanford dan MIT. Karena suka komputer sejak kecil, maka MIT lah yang dipilih.

Dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan, kuliah di Amerika hanya diselesaikan dalam waktu 2 tahun 8 bulan (sementara biasanya 3 tahun lebih).

Merantau di negeri orang sangatlah menyedihkan; tanpa sanak saudara. Perjuangan 2,8 tahun meneteskan darah dan airmata tidak sia-sia. Menjadi lulusan terbaik MIT dengan IP. 3,9 sebagai juara umum 2 di sana. Turun podium langsung dipinang untuk bekerja di perusahaan dunia. Tanpa pikir panjang, langsung menerima Microsoft.

4 tahun bekerja di Microsoft; berkantor 1 gedung dengan Bill Gates. 4 tahun di Amerika kemudian pindah ke Singapura di salah satu perusahaan multinational selama 4 tahun. Dan setelah tahun 2000, memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Mengapa? Karena mengingat masa lalu di mana Ayahnya yang seorang cendekiawan yang begitu kaya bisa tiba-tiba jatuh ke bawah. Bahwa sebenarnya tidak ada zona aman bagi manusia. Sebenarnya kita ini berada di zona yang tidak nyaman seperti telur di ujung tanduk kapan saja bisa jatuh dan pecah.

Kalau kita umpamakan hidup ini sebagai lintasan sirkuit, jika kita punya waktu 70 tahun sama dengan artinya kita mengitari lingkaran sirkuit sebanyak 70x; semakin kencang kita melaju di dalam sirkuit tersebut maka semakin besar kemungkinan kita terjatuh hanya karena 1 kerikil atau karena ada teman kita yang ingin melampaui kita di sirkuit yang sama. Semakin sukses, semakin kencang hidup seseorang maka akan semakin besar kemungkinannya untuk jatuh.

Sebenarnya semua manusia berada di zona yang tidak nyaman. Oleh karena itu hendaknya setiap hari kita bersyukur, bersyukur, dan bersyukur..

Dengan bersyukur kita akan menghindari dan melewati masa-masa tidak nyaman tersebut.

Pulang ke Indonesia, mencoba memulai usaha sesuai hobi. (Mungkin next time kalau ada kesempatan akan share bagaimana cara memulai usaha / karir secara Buddhis).

Sejak kecil Ibunya sudah berpesan kepada 11 orang anaknya untuk selalu menjalin jodoh baik dengan semua orang; dan karena pesan itulah Teguh Taslim memulai bisnisnya dibantu oleh teman-teman baiknya di Amerika dulu.
Jodoh baik yang diciptakannya sewaktu kuliah dulu di MIT, menjadi dewa penolong yang menunjukkan langkah-langkah kesuksesannya, mulai darimana mendapatkan, mengeset, sampai dengan memindahkan komputer dari Amerika ke Indonesia.

Jadi ada 2 bocoran bagaimana jika ingin sukses di dalam kehidupan kita yaitu:
1. Carilah bisnis yang sesuai dengan hobi kita.
2. Carilah jodoh baik dengan semua orang karena yakin dan percayalah orang-orang yang kita jalin jodoh baik ini akan menjadi dewa penolong bagi kehidupan kita.

Julukan Mr. 1, 2, 3, 4; 1 pabrik di kawasan industri di Shenzhen - China; 2 Bank Perkreditan Rakyat di Semarang & Solo, 3 Sekolah National Plus; 4 Hotel Berbintang.

Banyak yang bertanya apa yang menjadi rahasia kesuksesan Teguh Taslim??

Adalah rahasia kehidupan Teguh Taslim, Ibunya yang selama 18 tahun berjuang untuk 11 orang anaknya tanpa pernah memikirkan dirinya sendiri memiliki harapan atas 11 orang anaknya. Perjuangannya mengalahkan panasnya terik matahari dan mengalahkan rasa dinginnya hujan ketika beliau harus berjualan empek-empek di pinggir jalan, mengalahkan panasnya bara api kompor saat menggoreng empek-empek. Setiap hari berjualan hingga pukul 10 malam. Dan ketika pukul 10 malam, setelah membersihkan dirinya dan semua peralatan jualannya, beliau kemudian melihat anaknya satu per satu yang sedang tidur. Saat itulah rahasia itu terjadi. Beliau mulai mendekati anaknya dan memeluk mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil; dengan luapan emosinya beliau berdoa untuk 11 orang anaknya: semoga anak-anaknya menjadi anak yang JUJUR, PANDAI, SUKSES, dan kalau sudah sukses jangan lupa BERBAGI.

Doa ini terus diulang-ulang selama 18 tahun tanpa pernah absen 1 malam pun. Doa Ibunya inilah yang menjadi mantra yang mengalahkan rasa lapar, rasa takut, rasa sakit, mengalahkan rasa ketidakpercayaan diri, dan rasa keminderannya. Semua rasa itu dikalahkan dengan doa Ibunya. Tanpa disadari, ibunya telah mentransfer energi metafisika ke pikiran bawah sadar ke 11 anaknya. Energi metafisika yang ditransfer tidak akan pernah hilang dari ingatan dan tertanam sangat kuat dalam pikiran bawah sadar.

Kita perlu menanamkan sugesti-sugesti positif ke dalam pikiran bawah sadar kita.

Pikiran bawah sadar kita ini 88% mengendalikan aktivitas kita sehari-hari.

Teguh Taslim dalam waktunya yang super sibuk, tidak lupa untuk berbagi. Berbagi lebih ke arah sosial, lebih ke arah religius. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Direktur sekolah Buddhi sebagai bentuk kontribusi berbagi membantu sekolah Buddhis di Tangerang ini dapat berkembang. Juga sebagai sukarelawan Yayasan Buddha Tzu Chi.

Sebagai Buddhis dan menuju kualitas diri yang lebih baik maka kita harus memurnikan kehidupan ini, dijaga agar sedikit mungkin melakukan yang buruk dan sebanyak mungkin melakukan kebajikan.

Strategi Benar Memupuk Karma Baik:
- Pikiran.
- Ucapan.
- Badan Jasmani.

Manajemen Diri (Self Management) sudah diajarkan oleh Buddha hampir 2.600 tahun yang lalu.

Manajemen Diri Buddhis sangat KOMPREHENSIF dan LENGKAP.

Dengan melaksanakan “Manajemen Diri Buddhis”, tidak hanya tujuan dalam kehidupan ini dapat dicapai, tapi juga menyiapkan kehidupan-kehidupan
yang baik selanjutnya.

Apa yang dikemukakan dalam kesempatan ini hanya sekitar 10%-15% dari isi buku "Manajemen Diri Buddhis".
Untuk mengetahui lebih lengkap maka miliki bukunya dan bacalah sebagai referensi kita mengatur dan membentuk diri kita sesuai Buddha Dhamma. Dan berbagilah pengetahuan dan kemampuan yang kita miliki untuk kebaikan dan manfaat orang banyak.

Demikian yang dapat didokumentasikan.
Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā
Semoga semua makhluk berbahagia

Sādhu, sādhu, sādhu

Dirangkum & Ditulis oleh: Lij Lij




Related Postview all

Ceng Beng dari Sudut Dhamma

access_time15 April 2019 - 13:32:19 WIB pageview 236 views

Mengawali sharing Dhamma pagi ini dengan Dhammagita membuat kita semua menjadi rileks dan bersemangat untuk mendengarkan Dhamma. Dalam syair lagu Avijja tertulis lyric "berbahagia hidup di ... [Selengkapnya]

Menyadari Fenomena Kehidupan Perhatian Benar (Samma-Sati)

access_time06 April 2019 - 11:36:26 WIB pageview 253 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Banyak sekali di dalam kehidupan ini, tanpa kita sadari kita melakukan hal-hal yang salah. Kenapa? Karena kita tidak memiliki ... [Selengkapnya]

Revolusi Mental di Era Milenial Ala Buddhis

access_time01 April 2019 - 13:40:27 WIB pageview 258 views

Host Dr. Drs. Ponijan Liaw, M.Pd., CPS® -Komunikator No. 1 Asia membuka acara talk show bertemakan Revolusi Mental di Era Milenial ala Buddhis dengan mengemukakan teori mengenai ... [Selengkapnya]

Membangun Tekad dan Keyakinan kepada Buddha Dhamma

access_time26 Maret 2019 - 00:37:24 WIB pageview 352 views

Moderator Rm. Dharmanadi Chandra membuka Dhammatalk yang bertepatan dengan Ulang Tahun Vihara Dharma Ratna yang ke – 27. Dhammatalk yang menghadirkan YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera ... [Selengkapnya]

Berkah Kehidupan

access_time24 Maret 2019 - 23:30:12 WIB pageview 229 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)Dhammacāri sukham seti. Seseorang yang hidup sesuai dengan Dhamma akan hidup berbahagia.Merenungkan kembali keberkahan hidup. Jika ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu