Berita / Ceramah

Revolusi Mental di Era Milenial Ala Buddhis


Revolusi Mental di Era Milenial Ala Buddhis
YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera
Puja Bakti Bersama PC. Magabudhi Kotang ke 129 @ Pusdiklat Buddhis Sikkhadama Santibhumi - 2 Maret 2019


Host Dr. Drs. Ponijan Liaw, M.Pd., CPS® -Komunikator No. 1 Asia membuka acara talk show bertemakan Revolusi Mental di Era Milenial ala Buddhis dengan mengemukakan teori mengenai pembagian kelompok generasi saat ini:

Generasi X - usia sampai kira-kira 30 tahun.
Generasi Y - inilah kaum milenial yaitu usia sekitar 20 tahunan.
Generasi Z - usianya belasan tahun.
Generasi Alpha - usia 1 sampai 10 tahun.

Dari sisi usia / generasi dimanapun posisi usia kita, tema ini akan tetap relevan untuk kita ikuti. Juga mengenai perubahan antar generasi.

YM. Bhante Uttamo Mahathera mengungkapkan kebahagiaan dapat hadir untuk berbicara mengenai revolusi mental. Bhante mencoba memberikan penjelasan yang lebih mudah dengan mengklasifikasikan:
- Baby Boomers (lahir pada rentang tahun < 1960)
Adalah generasi yang mengalami kesulitan-kesulitan karena perang.
- Generasi X (lahir tahun 1960 - 1980)
Adalah generasi yang mewarisi beberapa penderitaan baby-boomers; masih merasakan kemoceng di punggung dan kekerasan fisik dalam mendidik anak.
- Generasi Y (lahir tahun 1981 - 2000)
Inilah generasi milenial.
- Generasi Z (lahir tahun 2001-2010)
- Generasi Alpha (2011 - sekarang)

Dibutuhkan klasifikasi demikian karena untuk memahami kelebihan dan kekurangan dari setiap generasi.

Setiap jaman ada orangnya; setiap orang ada jamannya.

Tidak lama lagi, generasi Y akan menggantikan generasi X; karena generasi X yang lahir tahun 60-an saat ini juga sudah berada di kisaran usia 60-an. Generasi Y atau Generasi Milenial ini yang akan melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya.
Ada masa-masa tertentu dimana generasi X sudah tidak cocok dengan cara-cara baru; misal hp touch-screen sangat mudah digunakan oleh generasi milenial, sedangkan generasi X mengalami kesulitan untuk menggunakannya; juga perbedaan gaya hidup yang bertolak belakang antar generasi.

Revolusi mental ala Buddhis apakah berbeda dari jaman ke jaman; apakah berbeda dari generasi ke generasi??
Buddhisme yang sudah ada hampir 3000 tahun yang lalu sesungguhnya kalau kita pikirkan dan kita renungkan sejak jaman Sang Buddha sampai ribuan tahun kemudian sampai ada generasi baby boomers, X, Y, Z, Alpha; apa yang beda? Apa yang sama?
Perbedaannya tentu pada jaman mereka lahir dimana tiap jaman ada orangnya, tiap orang ada jamannya; tetapi tentu ada yang sama karena kalau tidak sama maka Ajaran Sang Buddha ini hanya berlaku pada jaman-jaman tertentu.
Sang Buddha sangat luar biasa; manusia di jaman apa saja, manusia mau umurnya berapapun juga, manusia mau bangsa apa, suku apa, jenis kelamin apa; pasti punya ketamakan, kebencian dan ketidaktahuan bahwa hidup itu berubah.
Ketamakan ingin selalu bersama dengan yang dicinta, dan tidak ingin bertemu dengan yang tidak disukai.

Anak-anak pada umumnya ketika sedang bermain dan mainnya dipinjam maka kemarahan datang karena tidak mau berpisah dengan yang dicintai. Bahkan bayi sekalipun ketika digendong oleh orang lain selain ibu atau ayahnya akan langsung menangis; mengapa? Karena dia berpisah dengan yang dicinta; dia senang dengan ibunya; dia tau bau ibunya makanya begitu pindah-tangan dia langsung menangis.
Ketika bayi ditinggal pergi kerja oleh orang tuanya, biasanya diberi baju ibunya supaya tidak menangis karena bayi mengenali bau ibunya; sedangkan bayi akan menangis jika itu bau orang lain.

Dengan demikian, bayi, anak-anak, remaja, tua; generasi manapun ternyata semuanya sama; punya ketamakan yang sama; punya ketidak-sukaan berkumpul dengan yang dibenci yang sama; dan semua itu disebabkan karena ketidak-tahuan.
Kalau kita sudah memahami ini, mau jaman apa saja mau kapan saja sebenarnya Ajaran Sang Buddha ini akan tetap bermanfaat.

Sekarang bagaimana supaya manusia dapat memahami hidup yang tidak kekal? Supaya setelah dia memahami hidup yang tidak kekal dia mencapai tujuan revolusi mental; yaitu menjadi orang yang berkomitmen, dapat bekerja sama dengan lingkungannya, menjadi orang yang penuh semangat, punya tujuan hidup, berdedikasi, berintegritas dan sebagainya.
Bagaimana sekarang setelah orang memahami ketidak-kekalan dapat tumbuh mentalitas semacam itu?
Ketidak-kekalan ini dikenalkan dengan dana paramita sebagai latihan kita untuk berdana, latihan pelepasan. Pelepasan materi adalah pelepasan yang sangat sangat mudah. Karena kita punya maka kita berbagi; tidak perlu banyak yang penting kita punya kemauan berbagi. Bahkan ada masa tertentu di hari Kathina, kita betul-betul datang ke Vihara untuk berbagi. Adapula anak-anak yang mengumpulkan uang sakunya sedikit demi sedikit ditabung untuk Sanghadana di hari Kathina.
Itu sebetulnya adalah belajar pelepasan. Bagaimana kita melepaskan apa yang rata-rata kita sukai.
Siapa diantara kita yang tidak ingin tidak punya uang? Apa ada yang kepingin tidak kaya? Tidak ada.
Kita sepakat bahwa kita semua membutuhkan uang. Sebetulnya uang hanyalah alat, tetapi terkadang kita diperalat oleh uang. Mati-matian cari uang; pagi siang sore malam mikirin uang terus sampai stress sendiri. Siapapun kita ketika pusing uang atau tidak, ketika kita ke Vihara dan kebaktian dan ketika saat lagu dana paramita dinyanyikan, kita yang pusing-pusing uang pasti tetap merogoh kantong mengeluarkan uang untuk berdana berapapun nilainya.
Sesuatu yang kita pertahankan, sesuatu yang kadang kita jadikan tujuan hidup, sesuatu yang kita perjuangkan selama ini, pada saat hari puja bakti kita persembahkan sebagian; pada hari Kathina juga kita persembahkan sebagian.
Di dalam Dhamma kita dilatih seperti itu sehingga pada saat timbul suatu masalah kita tidak akan stress dan dapat menerima dengan lapang; dengan menganggap kesetaraan / sama dengan sekian kali ber-dana paramita.
Pernahkan berpikir demikian? Baju rusak, sepatu hilang, sepeda motor rusak, mobil penyok, kemudian ke bengkel dan lain sebagainya; pernahkah terpikir sama dengan sekian kali berdana paramita? Pernah belum? Bagi yang belum timbulkanlah pola pikir itu karena kalau belum berarti pola dana-nya masih belum masuk ke dalam bathin. Ketika pola dana-nya masuk ke dalam bathin maka kita akan merelakan 'ya sudahlah; anggap saja berdana' tetapi kalau kita tidak memiliki pola pikir seperti itu maka jengkelnya bukan main 'yah, mobil rusak; baru beli rusak' tapi begitu 'ya sudahlah dibengkeli, anggap saja sama dengan sekian kali dana paramita'.

Pola pikir demikian, masalah materi dengan menganggap materi yang rusak / hilang sama dengan sekian kali dana paramita tersebut ternyata berubah; meningkat menjadi upaya kita untuk mengatasi kesulitan hidup.
Ada sedikit perubahan mental kita bahwa 'ooh saya ini dapat merelakan ini; sandal saya yang hilang nilai adalah sekian kali dana paramita; hilang ya sudah'.
Atau kita berdana kepada orang lain misalnya: saya melihat orang itu tidak punya sepatu, ya sudah saya belikan; anggap saja sebagai sekian kali dana paramita.
Ketika sudah terjadi perubahan seperti ini, maka pola pikir kita berubah.

Kemudian ada satu masa kita melihat bahwa dana paramita itu juga kita memahami sebagai ketidak-kekalan.
'Saya tadi datang bawa X rupiah di kantong, setelah puja bakti tinggal setengah X' ada perubahan. Mobil tadi datang mulus, sekarang lecet / penyok; perubahan. Bisa menerima perubahan; karena ukuran materi itu yang kita cari.
Kita sepakat ingin kaya, kita sepakat tidak ingin menderita. Sebagian besar dari kita jika ditanya apa yang paling kita takutkan di dunia; maka jawabannya adalah takut tidak punya uang. Tidak punya uang adalah yang paling menakutkan untuk sebagian orang.
Sekarang setelah mobil penyok kita lalu bisa menerima itu sebagai kenyataan, 'ya sudahlah, hidup ini berubah'. Ketika rumah mulai rusak, kita sudah siap menerima perubahan, 'ya sudahlah, hidup ini berubah'.
Kalau kita dapat menerima perubahan yang ini, lalu muncul lagi pikiran yang lain; bagaimana kalau sekarang anakku sakit, bagaimana kalau pasangan hidupku sakit? Ya, hidup ini berubah, hidup adalah tidak kekal. Kadang ada kesehatan kadang ada penyakit. Tapi ketika sakit toh juga bisa berubah menjadi sehat.
Sama ketika tadi saya datang ke Vihara bawa X rupiah; tetapi setelah saya berdana berkurang menjadi setengah X. Kalau begitu sekarang anak saya sehat namun beberapa tahun kemudian dia sakit, saya bisa menerima itu sebagai kenyataan. Pasangan hidup saya tadinya sehat, sekarang tua dan sakit; saya sudah dapat menerima kenyataan.

Perubahan pola pikir, perubahan mental. Sampai suatu ketika; anak bisa meninggal, orang tua bisa meninggal, pasangan hidup bisa meninggal; ketika kita sering melakukan kerelaan itu terus-menerus walaupun dalam materi lalu kemudian kita sering merenungkan bahwa nilai kerelaan itu sesungguhnya bukan hanya materi tetapi dapat menerima perubahan sebagaimana adanya, bahwa apa yang kita miliki suatu saat bisa lenyap maka akhirnya jika suatu ketika anak kita / pasangan hidup kita / orang tua kita lenyap meninggalkan kita; kita dapat menerima itu sebagaimana adanya.
Harta bisa berubah, kesehatan bisa berubah, kehidupan, pasangan hidup bisa berubah, orangtua dan anak, lingkungan kita bisa berubah, kita pun bisa berubah. Kita yang sekarang sehat, satu ketika bisa sakit. Kita yang sekarang hidup, satu ketika bisa meninggal.
Ketika merenungkan seperti ini sebetulnya timbul rasa ngeri, terutama bagi orang-orang yang sudah tua. Ada orangtua yang takut mati. Mati adalah konsekuensi logis kehidupan; semua orang bisa menerima kenyataan itu tetapi proses menuju kematian itu tidak mudah. Beberapa orang mengatakan mati ok tapi jangan sakit, atau boleh mati tapi matinya ingin tetap cantik. Akhirnya orang ketika tua itu takut pada kematian, takut menghadapi kematian.
Vihara kemudian memberikan beberapa tuntunan atau bimbingan melalui jalur Dhamma dengan memberi pengertian bahwa kematian adalah pasti, cara mati bisa berbeda tetapi cara mengisi kehidupan itulah yang paling penting. Kita boleh mati tapi mati-nya kita itu meninggalkan apa? Mati meninggalkan kebaikan atau meninggalkan riwayat kejahatan?
Kalau gajah mati meninggalkan gading, manusia mati harusnya meninggalkan sejarah kehidupan yang baik.
Oleh karena itu ketika Vihara menyantuni orang-orang yang sudah senior, orang-orang tua yang takut mati itu salah satunya adalah merenungkan hidup ini haruslah diisi semaksimal mungkin. Ketika kita masih hidup jangan menanam kebencian terhadap orang lain, kita harus berusaha baik kepada orang lain, berdamai kepada pihak lain sehingga ketika kematian datang kita siap. Ketika kita punya janji, penuhilah janji tersebut supaya ketika kita nanti meninggal, kita sudah tidak punya hutang-hutang janji yang masih belum kita penuhi.
Ketika kita bergaul dengan orang lain, cobalah menyadari bahwa kita bisa mati - orang lain juga bisa mati; kenapa kita harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Apa perlu kita membalas kejahatan ketika kita dijahati; padahal kita akan mati; kita harus mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya tidak membalas kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap kita.
Tetapi jika orang lain melakukan kejahatan kepada kita, orang itu akan mati juga pada saatnya nanti maka kita tidak layak untuk membalas kejahatannya dengan kejahatan juga.
Kalau sudah demikian kita lalu mempunyai satu pola pikir positif. Ada revolusi mental di dalam diri kita bahwa selama kita hidup, kita isi dengan sebaik-baiknya; dengan ucapan yang baik, perilaku yang baik, dan pola pikir yang baik; sehingga ketika kematian datang kita telah melakukan yang terbaik; kita bisa selalu bekerja sama dengan orang lain karena didalam kehidupan ini ketika kita berbuat baik kita membutuhkan orang lain sebagai objek untuk kebajikan yang kita lakukan. Maka oleh karenanya kita dapat bekerjasama, kita berintegritas, berkomitmen untuk selalu berbuat baik kepada siapapun juga, kenal atau tidak kenal sehingga jika kita harus meninggal saat ini pun akan menjadi saat yang paling tepat karena kita telah mengisi kebaikan selama kehidupan kita; selama nafas kita masuk dan keluar kita selalu mengisi dengan kebaikan melalui ucapan kita, tubuh kita dan pikiran kita.

Dengan cara seperti ini; memahami bahwa hidup ini semuanya tidak kekal; lintas generasi, lintas bangsa, lintas budaya, semuanya tidak kekal lalu kita merenungkan bahwa bukan hanya materi saja yang tidak kekal tetapi sesungguhnya hidup ini pun tidak kekal maka kita kemudian dapat mengisi kehidupan ini semaksimal mungkin untuk menjadi manusia yang berintegritas, manusia yang selalu memiliki komitmen, manusia yang mudah bekerjasama, manusia yang ramah, manusia yang tidak mudah menyakiti orang lain; karena sesungguhnya hidup tidak pasti tetapi kematianlah yang pasti; tetapi ketika kita masih hidup saat ini kita menggunakan kesempatan yang semaksimal ini untuk berbuat kebajikan mulai saat ini sampai selama-lamanya.

Inilah sesungguhnya revolusi mental era milenial ataupun era saat ini. Tetapi di masa dulu, masa sekarang, masa yang akan datang, revolusi mental ini akan tetap diperlukan untuk mengubah pola pikir manusia yang penuh ketamakan dan kebencian; menjadi penuh pengertian mudah menyadari perubahan.

Demikian yang dapat didokumentasikan.
Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu 

Dirangkum & Ditulis oleh: Lij Lij




Related Postview all

Membangun Tekad dan Keyakinan kepada Buddha Dhamma

access_time26 Maret 2019 - 00:37:24 WIB pageview 159 views

Moderator Rm. Dharmanadi Chandra membuka Dhammatalk yang bertepatan dengan Ulang Tahun Vihara Dharma Ratna yang ke – 27. Dhammatalk yang menghadirkan YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera ... [Selengkapnya]

Berkah Kehidupan

access_time24 Maret 2019 - 23:30:12 WIB pageview 111 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)Dhammacāri sukham seti. Seseorang yang hidup sesuai dengan Dhamma akan hidup berbahagia.Merenungkan kembali keberkahan hidup. Jika ... [Selengkapnya]

Change Your Mind, Change Your Health

access_time22 Maret 2019 - 01:35:41 WIB pageview 113 views

Pembicara kali ini adalah seorang praktisi Family Hypnotherapist yang selama 6 tahun terakhir ini banyak diundang untuk sharing di Vihara-Vihara. Juga berprofesi sebagai Dosen di beberapa ... [Selengkapnya]

Apa itu Keyakinan? Mengapa Kita Harus Yakin?

access_time20 Maret 2019 - 13:00:40 WIB pageview 126 views

Suatu ketika Sang Buddha berkunjung kesuatu tempat , kemudian beliau didatangi oleh Yakha Alavaka ( Dewa tingkat yg paling rendah ) Yakha Alavaka berkata kepada Buddha , keluarlah petapa ... [Selengkapnya]

Mengapa & Bagaimana Kita Bersyukur

access_time11 Maret 2019 - 13:09:30 WIB pageview 130 views

Kata syukur bukan kata baru bagi kita, sejak kecil sampai dengan saat ini sering kita mendengar kata ini. Lalu apakah kita mengerti apa makna bersyukur?? Berkenaan dengan hal ini, ada 2 ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu