Berita / Ceramah

Berkah Kehidupan


Puja Bakti Umum
Minggu, 24 Maret 2019
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma:
YM. Bhikkhu Dhammakaro Mahathera
Tema Dhamma: Berkah Kehidupan


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x)
Dhammacāri sukham seti.

Seseorang yang hidup sesuai dengan Dhamma akan hidup berbahagia.
Merenungkan kembali keberkahan hidup. Jika kita bicara tentang kehidupan memang sangat panjang. Dhamma adalah tuntunan kehidupan, pedoman kehidupan, petunjuk kehidupan. Di saat kita merenungi kembali tentang Dhamma, bukanlah seperti pemahaman yang lain karena Dhamma tidak berkonotasi identik dengan pertanyaan.
Dahulu Dhamma Sang Buddha tidak disebut sebagai agama tetapi disebut dengan Buddha Sasana atau Buddha Vinaya yang artinya Ajaran Buddha.
Dhamma mengajarkan, menunjukkan, dan menjadi pedoman bagi umat Buddha dalam menjalani kehidupan untuk mencapai tujuan hidup yang tentram, damai, dan bahagia.

Kehidupan tentram tidak hanya berkonotasi pada hal yang tampak saja. Kehidupan tentram bukanlah hanya terlihat di 1 sisi lahiriah saja, tetapi meliputi 2 sisi yaitu lahiriah dan batiniah.

Sering orang-orang yang sudah mengalami usia sepuh, kemudian ketika sakit menghampiri membuat mereka menderita. Sakit itu bukanlah musuh tetapi sakit itu adalah milik kita; milik kita sebagai makhluk yang masih hidup.
Karena sakit itu milik kita maka seharusnya ketika sakit datang seyogianya diterima dan dirawat; bukan untuk dimusuhi.
Pahamilah sakit sebagai milik kita. Dengan kesabaran kita merawat, menjaga, dan bersahabat dengan sakit sehingga dapat memberi manfaat bagi diri kita sendiri.

Sisi Lahiriah
Fisik jasmani ini membutuhkan perawatan yang baik antara lain dengan makan makanan yang cukup, makanan yang bergizi - bervitamin, makanan yang layak untuk di makan / tidak basi.
Kita harus memperhatikan kebutuhan tubuh dan menjaga keseimbangan asupan untuk tubuh kita. Tidak serta merta memberi asupan berlebihan ke dalam tubuh dengan memakan semua jenis makanan.
Janganlah menjadi sakit karena kelebihan makan. Kita harus memahami diri kita sendiri mulai dari hal yang simple yaitu dari asupan makanan untuk tubuh kita sendiri. Memahami kebutuhan fisik dengan makanan dan minuman yang cukup.

Sisi Batiniah
Sisi batiniah bukan materi. Makanan batin non materi adalah Dhamma. Batin kita juga perlu tumbuh berkembang, perlu dicukupi kebutuhannya.
Seiring perkembangan fisik kita bertumbuh dari masa kanak-kanak, menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa; hendaknya demikian pula perkembangan batin ikut tumbuh beriringan. Namun pada kenyataannya sering kali batin tidak berkembang walau umur sudah mencapai sepuh.
Pertumbuhan fisik mudah untuk dideteksi, jika fisik kekurangan gizi maka kita dapat dengan mudah mengetahuinya.
Tetapi bagaimana kita mengetahui pertumbuhan batin kita??
Bagaimana jika batin kita kekurangan asupan Dhamma yang bergizi?
Kita mengenal semua fenomena di sekitar kita adalah Dhamma. Kemarahan itu juga bentuk Dhamma; tetapi bukan Dhamma yang baik.
Lalu bagaimana kita memperlakukan Dhamma yang tidak baik itu menjadi Dhamma yang baik?
Dibalik fenomena Dhamma yang tidak baik tersebut dapat diambil Dhamma baiknya.
Kemarahan sebagai Dhamma negatif dapat menjadi inspiratif untuk diolah menjadi positif. Ini adalah kesempatan untuk praktek kesabaran.

"Khanti Paramam Tapo Titikkha” Kesabaran itu adalah bentuk latihan spiritual.

Kisah filsuf Socrates yang sering kali dimarahi oleh istrinya. Setiap kali dimarahi, Socrates selalu merasa bahwa inilah kesempatan baik untuk berpraktek kesabaran. Justru ketika istrinya berhenti mengomel karena sakit gigi, Socrates merasa sedih.

Selama ini kita selalu 'kabur' dari masalah. Ketika kita dimarahi maka kita akan pergi kabur, lari dari praktek kesabaran.
Ketika kita terjebak kemacetan jalan, bukannya praktek kesabaran malah mengomel.

Saat kita dapat merenungkan yang negatif menjadi positif disitulah kita praktek Dhamma.

Orang yang dapat menahan rasa kesal bagaikan orang yang dapat menahan laju kereta kuda.

Dengan kesabaran sesungguhnya kita menanam karakter batin menuju pencapaian.
Kesabaran-kesabaran yang kita lakukan menjadi kekuatan-kekuatan kecil, menjadi kekuatan terpendam dalam karakter batin yang membentuk pendewasaan batin kita.

Kekuatan batin tidak muncul begitu saja. Kekuatan batin harus ditempa terus menerus bagai seorang atlet yang melatih fisiknya berkesinambungan.

Dikisahkan seorang Bhikkhu Senior yang mengalami sakit untuk jangka waktu yang cukup lama. Walau fisiknya sakit, Bhikkhu Senior tersebut tetap merasakan berkah dari sakitnya tersebut. Beliau dapat menggunakan waktu istirahatnya tersebut untuk benar-benar bermeditasi. Fisik yang sakit bukan berarti batin ikut sakit.

Dalam kondisi sakitpun, kita masih bisa mengembangkan batin. Makna dari pendewasaan batin adalah menenangkan diri disaat kita dalam kondisi tidak nyaman dan tidak terhanyut dalam sakit fisik.
Dengan kedewasaan batin, walau kehidupan sekejap alangkah sangat bernilai.

Khanti Paramam Tapo Titikkha, diawali dengan kesabaran; dengan cara inilah kita meningkatkan ketentraman hati, ketentraman pikiran, dan menciptakan keharmonisan kebahagian hidup yang memberi keberkahan-keberkahan berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.

Sādhu, sādhu, sādhu

Dirangkum oleh: Lij Lij




Related Postview all

Change Your Mind, Change Your Health

access_time22 Maret 2019 - 01:35:41 WIB pageview 60 views

Pembicara kali ini adalah seorang praktisi Family Hypnotherapist yang selama 6 tahun terakhir ini banyak diundang untuk sharing di Vihara-Vihara. Juga berprofesi sebagai Dosen di beberapa ... [Selengkapnya]

Apa itu Keyakinan? Mengapa Kita Harus Yakin?

access_time20 Maret 2019 - 13:00:40 WIB pageview 85 views

Suatu ketika Sang Buddha berkunjung kesuatu tempat , kemudian beliau didatangi oleh Yakha Alavaka ( Dewa tingkat yg paling rendah ) Yakha Alavaka berkata kepada Buddha , keluarlah petapa ... [Selengkapnya]

Mengapa & Bagaimana Kita Bersyukur

access_time11 Maret 2019 - 13:09:30 WIB pageview 88 views

Kata syukur bukan kata baru bagi kita, sejak kecil sampai dengan saat ini sering kita mendengar kata ini. Lalu apakah kita mengerti apa makna bersyukur?? Berkenaan dengan hal ini, ada 2 ... [Selengkapnya]

Cap Go Meh & Magha Puja Selalu Beriringan

access_time11 Maret 2019 - 13:03:57 WIB pageview 66 views

Tradisi perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya dirayakan oleh etnis Tionghoa ditutup dengan perayaan Cap Go Meh (malam ke-15) saat bulan purnama yang menandakan berakhirnya tahun baru ... [Selengkapnya]

Membina Keluarga Bahagia dalam Jalan Dhamma

access_time08 Maret 2019 - 14:31:16 WIB pageview 91 views

Beranjak dari pengalaman susahnya, penderitaan dalam perkawinan maka Mom Brenda membagi cerita bagaimana jika kita tidak berada dalam Jalan Dhamma, bagaimana kita bisa bahagia. To the ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu