Berita / Ceramah

Cap Go Meh & Magha Puja Selalu Beriringan


Cap Go Meh & Magha Puja Selalu Beriringan
by: YM. Bhikkhu Atthadhiro Thera

-Talkshow & Pujabakti bersama PC Magabudhi Kotang ke 128-


Tradisi perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya dirayakan oleh etnis Tionghoa ditutup dengan perayaan Cap Go Meh (malam ke-15) saat bulan purnama yang menandakan berakhirnya tahun baru imlek.

Kalender Imlek biasanya menandakan ce-it cap-go (1-15); ada kemiripan dengan Kalender Buddhis kadang 1-15, kadang 1-14 dan ada penambahan bulan juga (lun).

Sehingga sering terjadi kesamaan tanggal perayaan Capgomeh dengan perayaan Magha Puja.

Capgomeh sebenarnya adalah malam 15, momen yang pentingnya adalah di malamnya. Tradisi Tionghoa yang kental dalam setiap perayaan adalah acara makan-makan seperti saat Sacapmeh (malam 30 / malam sebelum tahun baru) ada acara makan-makan; demikian halnya saat Capgomeh juga diisi dengan acara makan-makan pada malam ke 15. Jadi intinya Capgomeh dirayakan pada malam 15.

Sedangkan Magha Puja adalah pas tanggal 15 yaitu saat purnama.

Dalam khotbah Sang Buddha disebutkan ada tradisi makan-makan sebagai tali penghubung persaudaraan untuk menjalin hubungan kekeluargaan.

Persaudaraan akan kuat jika dimodali kepercayaan.

Untuk dapat percaya maka perlu saling mengunjungi; kumpul bersama untuk mempererat tali persaudaraan.

Perangkat yang selalu ada di setiap perayaan Imlek diantaranya adalah Kue Keranjang.
Kue keranjang sebagai simbol kelengketan seperti persaudaraan. Harapan agar jalinan persaudaraan lengket seperti kue keranjang.

Yang penting adalah momen persaudaraan diatas segala-galanya.

Bukan hanya di Capgomeh, momen lainnya juga diisi dengan makan-makan untuk menciptakan keakraban dalam persaudaraan. Sama-sama memakai baju merah, sama-sama merasakan sukacita merayakan Imlek.

Magha Puja di Buddhis adalah momen persaudaraan yaitu berkumpulnya para 1250 Bhikkhu yang telah mencapai Arahat dengan penahbisan Ehibhikkhu Upasampada, yang berkumpul tanpa diundang, saat purnama di bulan Magha / hari Uposatha.

Pada hari Uposatha adalah momen persaudaraan sesama Bhikkhu. Semua Bhikkhu harus datang jika ada 1 yang tidak datang maka Uposatha-nya tidak sah. Dalam Buddhis persaudaraan adalah nomor 1.

Ovadapatimokkha sebagai sumber peraturan sila bagi para Bhikkhu mengajarkan kita untuk melatih kesabaran.

Untuk mendapatkan berkah yang melimpah perlu diingatkan untuk;

1. Melatih Kesabaran
Dengan melatih kesabaran akan membuat kita menjadi kuat. Kesabaran adalah sikap batin, bisa sikap jasmani yang kelihatan. Orang yang sabar bukan berarti cara bicaranya pelan-pelan; bukan juga cara jalannya pelan-pelan. Kesabaran adalah dapat bertahan dalam situasi sulit, bagaimana sikap batin kita menghadapi penyakit, menghadapi saat-saat sulit. Hidup pasti punya masalah karena tercengkeram dukkha, sabbe sankhara dukkha, kita akan selalu bertemu dengan ketidaknyamanan dan hal itu dapat dilewati pelan-pelan asal kita memiliki kesabaran. Kuncinya adalah kesabaran.

Untuk menjalani hidup ini pelan-pelan, sikap batin diperlukan untuk merespon. Orang yang bisa sabar adalah orang yang cerdas dalam mengelola emosi. Tanpa kesabaran sulit bertahan dalam kehidupan. Kehidupan adalah sebuah proses. Melewati kesulitan dengan kesabaran, berpedoman pada Hukum Kamma. Janganlah mengeluh dalam kebaikan. Kitalah yang melatih kesabaran. Kita menahan keakuan, mengalahkan keakuan, mengharapkan semua makhluk berbahagia.

2. Berkah yang tidak kalah penting dalam hidup kita adalah Kesehatan.
Jagalah kesehatan. Meskipun melakukan yang bermanfaat, kita tetapi harus tau batasnya. Keuntungan yang paling besar adalah kesehatan.

Kesabaran ada batasnya??
Ilmu kesabaran adalah sifat yang harus dimiliki. Sabar itu hasil dari latihan. Apakah belajar ada batasnya? Tidak. Memunculkan sifat kesabaran adalah latihan terus menerus, belajar sabar tidak ada batasnya. Batas kesabaran hanyalah pembenaran karena sudah tidak tahan lagi. Jadi bukan kesabaran yang ada batasnya, tetapi seberapa mampu kita bertahan. Setiap orang mempunyai daya tahan yang berbeda-beda secara fisik maupun mental. Dikatakan daya tahan yang terbatas bukan kesabaran.

Apakah salah melaksanakan tradisi turun temurun? Apakah ada pelanggaran sila dalam melaksanakan tradisi tersebut? Selama tidak ada pelanggaran Sila, tidak melanggar Buddha Dhamma, maka tidak ada salahnya melaksanakan tradisi. Seperti di ungkapan dalam RATANA SUTTA - Lindungilah mereka tanpa lengah, sebagaimana mereka menghaturkan sesajian siang dan malam.

Dalam Buddhis ada 5 macam persembahan - Pancabali:
1. Natibali : persembahan kepada sanak saudara.
2. Atithibali : persembahan kepada tamu (orang yang tanpa ikatan persaudaraan)
3. Devatabali : persembahan kepada dewa
4. Pubbapetabali : persembahan kepada leluhur
5. Rajabali : persembahan kepada raja / pemerintah (dengan bayar pajak)

Tradisi sembahyang kepada Dewa adalah Devatabali mesti kita tidak mengenal Dewa secara langsung tetapi buahnya adalah kesejahteraan. Buah dari Puja adalah kesejahteraan. Puja dilakukan karena ada pengharapan ingin mendapat kesejahteraan. Puja tidak masalah dilakukan oleh perumah tangga.

Tradisi ajaran leluhur, adat istiadat yang diturunkan turun temurun termasuk ilmu fengshui, tradisi imlek, perhitungan shio bukan dikatakan tidak sesuai Buddha Dhamma tetapi hendaknya dapat diterapkan secara bijak. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam MANGALA SUTTA - Patirupadesavaso ca bertempat tinggal ditempat yang sesuai memang sesuai dengan budaya Tionghoa yang memperhatikan fengshui.
Diperlukan pemahaman yang bijak sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dengan alam.

 

Dirangkum oleh: Lij Lij




Related Postview all

Membina Keluarga Bahagia dalam Jalan Dhamma

access_time08 Maret 2019 - 14:31:16 WIB pageview 122 views

Beranjak dari pengalaman susahnya, penderitaan dalam perkawinan maka Mom Brenda membagi cerita bagaimana jika kita tidak berada dalam Jalan Dhamma, bagaimana kita bisa bahagia. To the ... [Selengkapnya]

Magha Puja 2562 BE / 2019 - Vihara Sasana Subhasita

access_time25 Februari 2019 - 16:38:02 WIB pageview 162 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) Sabbapapassa akaranamku salassa upasampadasacittapariyodapanametam buddhana sasanam. Khanti paramam tapo titikkhanibbanam paramam ... [Selengkapnya]

Memperoleh Kekayaan Mulia

access_time18 Februari 2019 - 23:41:16 WIB pageview 161 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) -Orang bijaksana tetap hidup bahkan jika ia harus kehilangan harta bendanya, tetapi orang yang memiliki harta benda tanpa kebijaksanaan ... [Selengkapnya]

Menjadikan Imlek Lebih Bermakna Tahun Ini

access_time17 Februari 2019 - 21:58:07 WIB pageview 157 views

2 SUDUT PANDANG TAHUN BARU IMLEKI. Mitologi - cerita legenda tahun baru imlekPada jaman dahulu kala di negeri China, hiduplah sesosok makhluk bernama Nian (baca: nien). Bentuk tubuhnya ... [Selengkapnya]

Bagaimana Cara Kita Mempraktekan Dhamma dalam Kehidupan Sehari - Hari

access_time16 Februari 2019 - 23:50:51 WIB pageview 174 views

Sudahkah kita mempraktekan dhamma dlm kehidupan sehari - hari ? Ada yg menjawab gampang saya sudah bisa , berbuat baik sudah banyak Disini coba kita renungkan , kita selalu belajar dari ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu