Berita / Ceramah

Ibuku Pejuangku


Puja Bakti Umum
Minggu, 16 Desember 2018
Vihara Sasana Subhasita
Sharing Dhamma : Ibu Siangriani Hadiman
Tema Dhamma : Ibuku Pejuangku


Ibuku Pejuangku; semua dari kita pasti setuju bukan? Karena memang Ibu kitalah yang berjuang dengan hidupnya ketika melahirkan kita.

Peranan keluarga dalam pertumbuhan anak diantaranya adalah:
1. Dasar Pendidikan Moral
Keluarga menjadi dasar dari pendidikan moral anak; mulai dari bayi, masa kanak-kanak sampai dengan dewasa.
2. Dasar Pendidikan Sebelum Jenjang Sekolah
Keluarga merupakan tempat anak mendapatkan pendidikan awal sebelum memasuki usia sekolah. Dan Ibu memegang peranan penting dalam pendidikan awal anak. Jika anak melakukan kesalahan, biasanya sang Ibu-lah yang akan disalahkan.
3. Dasar Pendidikan Sekolah
Keluarga berperan dalam membentuk kesiapan anak untuk memasuki pendidikan di sekolah.
4. Dasar Emosional Anak
Peranan keluarga dalam hal ini orangtua (ayah & ibu) menjadi dasar yang mempengaruhi emosional anak.
Ke-empat hal tersebutlah yang membentuk karakter seorang anak.

Ketika anak memasuki usia sekolah, orangtua mempercayakan anak-anaknya ke sekolah. Peran dari sekolah antara lain:
1. Mengajarkan akademis
2. Mengajarkan bersosialisasi
3. Memberikan keterampilan berguna bagi kehidupan
4. Membantu anak didik agar berhasil mengaktualisasi diri

Perlu kita sadari sebagai orangtua bahwa terbentuknya disiplin anak dan pembentukan karakter anak bukanlah menjadi tanggung jawab sekolah.
Keterbatasan sekolah dalam pengembangan pribadi anak:
1. Waktu terbatas
Waktu anak disekolah rata-rata hanya 30%; dan sisanya 70% waktunya adalah di rumah.
2. Intensitas komunikasi
Intensitas komunikasi guru dengan anak didik juga sangat terbatas
3. Ikatan emosional
Ikatan emosional pendidik dengan anak didik juga tidak terlalu kuat
4. Jumlah anak berbanding guru
Keterbatasan tenaga pendidik yang tidak sebanding dengan jumlah anak didik
5. Kurikulum akademis yang berlaku
Pedoman kurikulum akademis yang mengharuskan anak didik untuk mengejar prestasi akademis

Dikarenakan 70% waktu anak adalah di rumah maka peran seorang Ibu sangat besar dalam memberikan kasih sayang, mengajarkan kebajikan, membentuk anak menjadi karakter yang baik dan siap untuk menjalani kehidupannya kelak.

Kegiatan Ibu sehari-hari:
- Pagi: mulai dari bangun tidur harus mempersiapkan kebutuhan suami dan anak-anak; membuatkan sarapan dan menyiapkan perlengkapan yang diperlukan
- Siang: membersihkan dan mengurus rumah
- Malam: masih juga harus mengurus suami dan anak

Tugas Ibu dikatakan mulai dari matahari terbit sampai dengan 'mata Bapak terpejam'.
Demikian banyaknya tugas dari seorang Ibu.
Untuk dapat menjadi Ibu yang baik, maka harus:
1. Memiliki fisik prima
Ibu harus kuat fisik untuk dapat mengerjakan segala urusan rumah tangga. Bagaimana jika Ibu lelah?? Perhatian suami adalah obat mujarab untuk para istri.
Seorang istri membutuhkan perhatian dan pujian dari suami. Pujian suami adalah 'Vitamin' yang menyehatkan istri.
2. Memiliki mental yang kuat
Untuk dapat memiliki mental yang kuat, istri membutuhkan suami yang menghargai dan menyokongnya dengan baik. Penghargaan suami atas usaha istri untuk menjadi istri yang baik baginya dan menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya.
3. Selalu belajar
Ibu yang baik adalah ibu yang mau belajar terus menerus mengikuti perkembangan teknologi sehingga mampu memproteksi / melindungi anak-anaknya dari dampak negatif yang tidak wajar.
Mendidik anak bukanlah dengan cara melarang anak 'jangan' melakukan ini-itu.
Hindari kata 'jangan'; karena anak justru akan melakukan yang sebaliknya.
Mendidik anak adalah dengan memberikan pengertian yang baik dan benar.

Ibu sebagai pendidik utama; dan Ayah adalah pahlawan keluarga yang berperan sebagai pemimpin, yang mencari nafkah dan juga mendidik anak bersama dengan Ibu.

Idealnya..
Kewajiban mendidik ada di pundak kedua orangtua. Bukan hanya Ibu tapi juga Ayah.
Ayah dan Ibu memiliki kapasitas dan kewajiban yang sama dalam mendidik dan membesarkan anak, sang buah hati.

Dalam KARAṆĪYA METTĀ SUTTA (Sutta tentang Cinta Kasih) dikatakan:

'Mātā yathā niyaṁ puttaṁ, Āyusā ekaputtamanurakkhe, Evampi sabbabhūtesu, Mānasambhāvaye aparimāṇaṁ'
-Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa melindungi putra tunggalnya, demikianlah terhadap semua makhluk, kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.-

'Mettañca sabbalokasmiṁ, Mānasambhāvaye aparimāṇaṁ, Uddhaṁ adho ca tiriyañca, Asambādhaṁ averaṁ asapattaṁ.'
-Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam, patut kembangkan tanpa batas dalam batin, baik ke arah atas, bawah, dan di antaranya, tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

'Tiṭṭhañcaraṁ nisinno vā, Sayāno vā yāvatassa vigatamiddho, Etaṁ satiṁ adhiṭṭheyya, Brahmametaṁ vihāraṁ idhamāhu.'
-Selagi berdiri, berjalan atau duduk,
ataupun berbaring, sebelum terlelap,
sepatutnya ia memusatkan perhatian ini, yang disebut sebagai: 'Berdiam dalam Brahma'-

Dengan memahami syair tersebut, hendaknya kita memahami sedemikian besar cinta kasih seorang Ibu. Cinta kasih tersebut hendaknya dikembangkan tanpa batas dalam batin, baik ke arah atas, bawah, dan di antaranya, tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan; yaitu melalui meditasi.

Resep istimewa: 'nang-ning-nung'
te*nang*-he*ning*-mere*nung*; dalam ketenangan dan keheningan untuk merenungkan sisa waktu yang ada.

Demikian sharing Dhamma yang disampaikan.
Mohon maaf jika ada kesalahan pendengaran dan pemahaman.
Semoga bermanfaat

Dirangkum & Diedit oleh: LijLij




Related Postview all

Dimanakah Kemelekatan itu Berada?

access_time10 Desember 2018 - 14:16:30 WIB pageview 2301 views

Ketika seorang pemburu pergi berburu kera dengan membuat jebakan kera berupa tongkat yang ditancapkan ke tanah kemudian diikatkan batok dengan lubang sebesar tangan kera. Batok kelapa ... [Selengkapnya]

Penyebab Keruntuhan dan Kehancuran

access_time05 Desember 2018 - 16:58:16 WIB pageview 1156 views

Ketika Raja Pasenadi dari Kosala bertanya kepada Sang Buddha mengenai apa arti kehidupan; untuk apa hidup dan apa yang harus kita perbuat dalam hidup?Sang Buddha menjawab Raja Pasenadi ... [Selengkapnya]

Hingga Akhir Waktu

access_time05 Desember 2018 - 16:52:27 WIB pageview 1234 views

Sharing narasumber dalam poses mencari jati diri menemukan 'agama' yang sesuai dengan keyakinan.Sejak kecil karena lingkungan sekolah mengarahkan untuk beragama 'K'.Bagi seorang anak kecil ... [Selengkapnya]

Sungguh Beruntung Terlahir sebagai Manusia

access_time26 November 2018 - 16:31:24 WIB pageview 3425 views

"Kiccho manussapatilābho, kicchaṁ maccāna jīvitaṁ" "Kicchaṁ saddhammassavanaṁ, kiccho buddhānaṁ uppādo’ti." "Sungguh sulit untuk dapat terlahir sebagai manusia, ... [Selengkapnya]

Kisah Seorang Buta

access_time22 November 2018 - 22:44:23 WIB pageview 1262 views

Kisah Seorang Butaby: YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahatera Di suatu desa kecil, hidup seorang buta yang tidak bisa melihat sama sekali meskipun samar-samar.Kemana-mana selalu ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu