Berita / Ceramah

Kembangkan Pengetahuan dan Keterampilan Berselancar di Kehidupan


Puja Bakti Umum
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 11 September 2022
Dhammadesanā: Rm. Viriya Unggul
Tema Dhamma: Kembangkan Pengetahuan dan Keterampilan Berselancar di Kehidupan
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

“Attadīpā, viharatha attasaraṇā anaññasaraṇā,
dhammadīpā dhammasaraṇā anaññasaraṇā.”

Jadilah pulau bagi dirimu sendiri, jadilah pelindung bagi dirimu sendiri, jangan ada perlindungan lainnya.
Jadikan Dhamma sebagai pulau bagi dirimu, jadikan Dhamma sebagai pelindungmu, jangan ada perlindungan lain.

– Dīgha Nikāya 26 ; Cakkavatti-Sīhanāda Sutta – Singa Tentang Pemutaran Roda –


Kehidupan ini terisi dengan berbagai perubahan yang tidak terduga, mulai dari yang dapat kita bayangkan sampai yang tidak terbayangkan. Dari yang masih muda sampai yang sudah tua, sama-sama ‘mengambil mata kuliah yang sama’ untuk menjalani kehidupan. Walau tanpa berbekal pengalaman, kita melewati usia belia hingga dewasa sampai memasuki usia senja; memaksa kita untuk selalu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan kita agar dapat menghadapi segala macam peristiwa yang terjadi. Untuk dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, mau tidak mau kita harus belajar agar menjadi tahu dan kemudian dapat mempraktekkan pengetahuan tersebut demi kehidupan yang maksimal.

Namun satu hal keliru yang sering tertanam dalam diri kita bahwa kesuksesan kita adalah apabila kita sudah lebih hebat dari yang di ‘sebelah’. Alhasil kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain. Ketika kita merasa ‘tinggi’ dibanding orang lain; maka yang muncul adalah kesombongan. Sebaliknya ketika kita merasa ‘rendah’ maka yang muncul adalah rasa rendah diri / minder. Bahkan ketika kita merasa ‘sama’ dengan orang lain, juga muncul rasa tidak puas. Pada keadaan sombong, minder, ataupun tidak puas; dapatkah kita merasa bahagia??
Pada saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain; atau bahkan membandingkan diri kita dengan diri kita sendiri (di kala masih muda) maka yang muncul justru penderitaan.

Oleh karena itulah kita perlu mendalami untuk mengenal diri kita sendiri dan kemudian mengenal orang-orang disekitar kita.

Kehidupan kita ibarat lautan yang penuh dengan gelombang. Ombak besar dan ombak kecil datang silih berganti. Siapkah kita mengarungi ombak-ombak kehidupan layaknya peselancar yang bersahabat dengan ombak-ombak lautan yang sedemikian derasnya? Mengapa para peselancar tidak takut terhadap ombak besar yang datang malah sebaliknya justru sangat menikmati terjangan ombak tersebut? Jawabnya adalah karena mereka terlatih. Mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan serta terlatih untuk menghadapi ganasnya ombak. Demikian halnya dengan kehidupan kita, jika kita memiliki pengetahuan dan keterampilan serta terlatih dengan baik maka kita tidak akan gentar menghadapi ombang-ambing kehidupan.

Kita tidak dapat mengendalikan angin, tetapi kita dapat mengarahkan layar. Kita tidak dapat menghentikan waktu tetapi untuk beberapa alasan, waktu selalu menghentikan kita. Waktu terus bergerak tidak bisa dihentikan.

Sejak kecil kita belajar mengenali diri sendiri; mulai dari yang paling sederhana yaitu mengenal nama sendiri, kemudian mengenali keluarga kita. Di kehidupan ini kita tidak dapat memilih di keluarga mana kita dilahirkan tetapi saat ini kita dapat memilih di keluarga mana kita akan dilahirkan kelak. Dengan berbuat baik yang penuh kasih sayang dan cinta kasih maka akan mengkondisikan kita terlahir di keluarga yang bahagia pada kehidupan berikutnya. Jangan pernah menyalahkan kondisi kita saat ini; berikan respon yang positif apapun kondisinya. Jaga pikiran, jaga ucapan, dan jaga perbuatan. Kita harus tahu bagaimana bersikap sesuai dengan tingkatan usia yang kita capai.

Buddha Dhamma mengajarkan bahwa makhluk adalah paduan dari Pancakhandha (5 Agregat / 5 gugus kehidupan). Bahwa manusia terbentuk dari perpaduan Nāma (Batin) dan Rūpa (Jasmani).

PANCAKHANDHA / 5 GUGUS KEHIDUPAN
Nāma (Batin) terdiri dari :
1. Vedanā (Perasaan) – pengalaman sensasi menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral.
2. Saññā (Persepsi) – proses mengenali dan menandai; contoh: mengenali bentuk, warna, suara.
3. Saṅkhāra (Bentuk-bentuk Pikiran) – proses pembentukan, hal yang tersusun, kehendak, aktivitas karma, motif.
4. Viññāṇa (Kesadaran) – penyadaran, pemilahan, daya hidup, batin.

Rūpa (Jasmani) – wujud, tubuh, materi; terdiri dari 4 unsur dasar yaitu:
1. Pathavī - unsur eksistensi (tanah / padat)
2. Āpo - unsur kohesi (air / cair)
3. Tejo - unsur panas (api / temperatur)
4. Vāyo - unsur gerak (udara / tekanan)

Setiap orang memiliki pancakhandha yang berbeda-beda. Jangankan memahami orang lain, terkadang untuk memahami diri sendiri pun kita kesulitan. Oleh karena itu daripada mengurusi orang lain, alangkah baiknya jika kita mengurusi diri kita sendiri yaitu dengan cara mengenali diri kita sendiri dengan baik. Fokus kepada Pancakhandha kita sendiri dengan cara mengendalikan indria-indria yang kita miliki. Dukkha jasmani dan pikiran dapat timbul ketika kita tidak dapat mengendalikan indria penglihatan, indria penciuman, indria pengecapan, indria pendengaran, indria sentuhan, dan pikiran kita. Berhati-hatilah dengan indria kita sendiri. Dengan pengedalian diri maka penderitaan akan dapat dihentikan.

Di dalam Satta Sappurisadhamma (7 hal yang dimiliki oleh orang bijaksana) Sang Buddha mengajarkan cara agar berhasil dalam kehidupan dengan melaksanakan yang pantas dan menhindari yang tidak pantas; antara lain sebagai berikut:

MENGENALI DIRI SENDIRI
Attaññuta : mampu mengontrol diri sesuai dengan Dhamma.
Mengetahui diri sendiri, seperti: ‘Saya berasal dari keluarga demikian, kedudukan pangkat, dan saya memiliki kekayaan demikian, pengikut, pengetahuan dan kesucian dhamma’. Kemudian ia menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya di dalam kehidupan.
- Mengetahui kualitas diri sendiri; kualitas fisik dan batin.
- Tahu asal keluarga, kedudukan, kekayaan, pengikut, pengetahuan.
- Tingkat keyakinan, moralitas, kedermawanan, kualitas batin, tingkat kebijaksanaan.
- Melihat kekurangan, memperbaiki diri.
Mattaññuta : hidup sesuai dengan kebutuhan.
Mengetahui bagaimana cara untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, dan hanya berbuat dengan cara yang pantas dan benar. Mengetahui seberapa banyak yang diperlukan dan hanya mengambil secukupnya.
- Mengetahui kebutuhan yang wajar, mengambil secukupnya.
- Tidak kekurangan maupun berlebihan.
- Mengetahui cara memenuhi kebutuhan dengan benar dan pantas.
Kalaññuta : mengatur waktu dengan bijaksana.
Mengetahui saat yang tepat untuk berbuat dan melakukan sesuatu yang pantas dilakukan.
- Mengetahui saat tepat dan pantas untuk melakukan sesuatu.
- Memiliki disiplin – management waktu yang baik.

MENGENALI ORANG LAIN & LINGKUNGAN
Parisaññuta : memahami realitas lingkungan.
Mengetahui golongan-golongan orang dan perbuatan-perbuatan apa yang harus dilakukan di dalam lingkungan demikian. Misalnya, apabila pergi ke sekelompok orang tertentu, perbuatan dan ucapan yang harus dilakukan adalah sedemikian.
- Dapat mengenali dan memahami dengan kelompok dan golongan orang yang ditemui.
- Dapat memilih perkataan dan perilaku yang pantas terhadap masing-masing kelompok / golongan.
Puggalaparopaññuta : memahami Dhamma untuk memunculkan kebijaksanaan.
Mengetahui bagaimana harus membedakan orang-orang. Misalnya: ‘Ini adalah seorang baik yang harus dijadikan sahabat’, atau ‘Ini adalah seorang buruk dan tidak seharusnya dijadikan sahabat’.
- Dapat mengenali dan memahami ketika berhadapan dengan berbagai individu di dalam lingkungannya.
- Dapat memilih dan memilah mana yang bisa dijadikan sahabat atau tidak.
- Dapat menarik manfaat untuk belajar dan mengembangkan diri dalam Dhamma atau tidak.
- Senang bertemu dengan suciawan, mendengarkan, menyimpan, menyelidiki, praktek, mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, berbagi (manfaat untuk orang lain).
- Para Bhikkhu mengembaralah demi kebaikan, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

MENGENALI DHAMMA
Dhammaññuta : memaklumi Dhamma / Kebenaran yang muncul.
Mengetahui sebab-sebab seperti: ‘Ini sebab dari sukha’ atau ‘Ini sebab dari dukkha’.
- Mempelajari dan mengetahui bagian-bagian Dhamma: Sutta, Vinaya dan Abhidhamma.
Atthaññuta : memiliki pengertian yang benar akan Dhamma.
Memiliki pengertian benar bahwa segala sesuatu yang muncul pasti ada sebab; dan kemunculan itu kelak akan tenggelam (tidak kekal). Mengerti akibat-akibat, seperti ‘Sukha adalah akibat dari sebab ini’, atau ‘Dukkha adalah akibat dari sebab ini’.
- Memahami arti dan makna dari Dhamma yang dipelajari.
- Memahami manfaat mempelajari Dhamma bagi kehidupan.
- Mempelajari Dhamma bukan hanya untuk menjadi bahan perdebatan.

Aṅguttara Nikāya 3 : 40. Ādhipateyya Sutta mengatakan bahwa ada 3 otoritas yang mempengaruhi kehidupan yaitu :
1. Attādhipateyya – Diri sendiri sebagai otoritas.
Keputusan hidup mengikuti keputusan pikiran dan prinsip sendiri.
2. Lokādhipateyya – Dunia sebagai otoritas.
Mengikuti pendapat orang lain dibandingkan pendirian sendiri demi menghindari kritik ataupun untuk mendapatkan pujian.
3. Dhammādhipateyya – Dhamma sebagai otoritas.
Melakukan kebajikan demi kebajikan; serta mengikuti pengetahuan Dhamma dan Kebenaran.


Anicca – tidak kekal / berubah; bahwa segala yang terbentuk pasti akan terurai; kemunculan diiringi keberlangsungan kemudian lenyap.

Dukkha – hidup ini penderitaan karena penuh dengan ketidakpuasan; bukan hanya saat sedang kesusahan kita menderita tetapi bahkan pada saat sedang bahagia pun (misalnya sedang mendapat keuntungan) kita masih merasa tidak puas.

Anatta – tanpa aku; bahwa kita hanya kumpulan pancakhandha tanpa ada inti yang dapat disebut sebagai aku, hanya kumpulan 5 agregrat (materi, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran dan kesadaran).

Dengan mempelajari dan mempraktekkan Buddha Dhamma hendaknya menjadikan kita teguh dan kokoh dalam menghadapi pukulan dan badai kehidupan yang menghantam baik yang berasal dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri.

Semoga Dhamma yang telah disampaikan bermanfaat bagi kita semua.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Kerelaan Dasar Pencapaian

access_time09 September 2022 - 15:28:33 WIB pageview 574 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Dānañca dhammacariyā caEtammaṅgalamuttamaṁti. Mengembangkan kerelaan dan hidup sesuai DhammaItulah berkah utama. Para ... [Selengkapnya]

Mengatasi Kebencian

access_time02 September 2022 - 12:05:57 WIB pageview 569 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Na hi verena verāni,sammantīdha kudācanaṃ;Averena ca sammanti,esa dhammo sanantano. Sesungguhnya dengan kebencian,kebencian tidak ... [Selengkapnya]

Menyelesaikan Masalah Melalui Dhamma

access_time24 Agustus 2022 - 22:02:46 WIB pageview 662 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Berbicara tentang kehidupan, semua dari kita pasti punya masalah. Siapa yang tidak punya masalah di dunia ini? Selama dilahirkan pasti ... [Selengkapnya]

Tisarana

access_time19 Agustus 2022 - 08:46:00 WIB pageview 561 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Puññañ ce puriso kayirākayirāth’enaṁ punappunaṁtamhi chandaṁ kayirāthasukho puññassa ... [Selengkapnya]

Kebencian dan Solusinya

access_time01 Desember 2020 - 13:09:15 WIB pageview 7118 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁti.Mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, Itulah Berkah Utama. Pada kesempatan ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu