Berita / Ceramah

Kerelaan Dasar Pencapaian


Puja Bakti Umum
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 4 September 2022
Dhammadesanā: YM. Bhikkhu Abhayanando Mahathera
Tema Dhamma: Kerelaan Dasar Pencapaian
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Dānañca dhammacariyā ca
Etammaṅgalamuttamaṁti.

Mengembangkan kerelaan dan hidup sesuai Dhamma
Itulah berkah utama.


Para upasaka-upasika yang berbahagia, pada pagi hari ini kita dapat berkumpul untuk bersama-sama melakukan puja kepada Tiratana. Kondisi ini tentu karena kekuatan keyakinan kita kepada Tiratana dan juga kekuatan kebajikan yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Meluangkan waktu untuk melakukan puja adalah sebuah kerelaan. Tanpa kerelaan mungkin kita akan beralasan untuk tidak hadir, untuk tidak melakukan puja. Adanya kerelaan maka ada harapan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan ini, seperti hal nya yang dilakukan pada pagi hari ini, para upasaka-upasika bisa hadir untuk melakukan puja, bermeditasi, mendengarkan Dhamma dan juga melakukan kebajikan-kebajikan yang lain.

Pentingnya Kerelaan

Kerelaan merupakan awal dasar untuk meraih pengharapan, menggapai apa yang menjadi cita-cita dalam kehidupan ini. Semua orang dalam kehidupan ini tentu mempunyai harapan, mempunyai cita-cita. Yang sangat diharapkan adalah bagaimana kehidupan ini mengarah kepada kehidupan yang sejahtera, kehidupan yang bahagia, kehidupan yang jauh dari ketidak-nyamanan. Tidak ada orang yang berharap hidupnya tidak nyaman, menderita, dan mendapatkan kesulitan. Tidak ada yang mengharapkan hal-hal yang tidak baik. Intinya adalah mengharapkan hal-hal yang baik kemudian berupaya untuk menghindari yang buruk. Mengharapkan hal-hal baik tentunya adalah berada dalam kenyamanan, kebahagiaan, kesejahteraan. Sedangkan menghindari hal-hal yang buruk antara lain kesulitan, penderitaan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya.

Untuk mendapatkan kebahagiaan dan kualitas kehidupan yang baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak sekonyong-konyong kita bisa menjadi baik dan mendapatkan kebahagiaan. Sebuah pencapaian ataupun harapan baik tidak serta merta datang dalam kehidupan kita dan menjadi milik kita. Butuh waktu dan butuh proses untuk meraihnya. Semangat yang menggebu-gebu tanpa diimbangi dengan keyakinan dan pengertian benar dapat menimbulkan kekecewaan.
Kita bisa kecewa sehingga timbul pemikiran bahwa sudah berbuat baik dan perbuatan baik tersebut telah dilakukan berulang-ulang tetapi mengapa tidak sesuai dengan penjelasan bahwa ketika seseorang berbuat baik akan memberikan hasil kebaikan, hasil pencapaian dan harapan yang diinginkan. Mengapa hidup masih sulit? Mengapa masih belum bahagia?
Kalau tidak ada keyakinan dan pengertian benar, yang ada hanya semangat saja maka akan membuahkan kekecewaan. Banyak orang yang mengalami hal ini; mengapa? Karena semangatnya yang luar biasa ketika baru mengenal manfaat-manfaat dari perbuatan baik; tetapi tidak diimbangi dengan keyakinan dan pengertian benar; padahal semua butuh waktu dan butuh proses.

Kebajikan Yang Berkaitan dengan Kerelaan

Dalam Dhamma, kerelaan itu adalah Dāna. Ketika kita mendengar tentang Dāna, muncul asumsi lebih kepada materi. Sering kali ada pemahaman yang keliru bahwa Dāna identik dengan materi, identik dengan uang. Secara harfiah, kata ”Dāna” itu berarti Kerelaan. Apa yang direlakan? Tentu yang direlakan adalah apa yang menjadi milik kita. Dāna bukanlah melulu tentang materi atau uang, tetapi lebih ditekankan pada kerelaan.

Kalau kita mencermati Sutta-Sutta yang diajarkan Sang Buddha, kata Dāna ini sering disinggung diawal kelompok Dhamma.
Di dalam Dasa Puñña Kiriya Vatthu (10 Dasar Perbuatan Baik), Ānupubbikathā (instruksi bertahap yang diajarkan Sang Buddha kepada pemuda Yasa), Dasa Pāramī (10 Kesempurnaan), dan Dasavidha-rājadhamma (10 Sifat Pemimpin); Dāna menjadi awal.
Mengapa Dāna selalu berada dalam urutan pertama? Mengapa Kerelaan selalu menjadi awal? Dāna atau Kerelaan adalah pintu masuk / pintu gerbang untuk praktek Dhamma yang lebih tinggi, untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih tinggi.

Dāna / Kerelaan ada yang bersifat materi dan ada pula yang bersifat non materi. Dāna yang bersifat materi tentu kita semua sudah tahu; dapat berupa dana makanan-minuman untuk menyokong Saṅgha, dana pembangunan dan operasional Vihara, dan lain sebagainya.
Lalu apa dāna yang bersifat non materi? Dāna non materi antara lain :
1. Waktu;
Hari Minggu kita hadir mengikuti puja bakti di Vihara karena memiliki kerelaan waktu. Merelakan waktu berkumpul dengan keluarga, merelakan waktu jalan-jalan, merelakan waktu bersantai dengan kolega. Kita merelakan waktu untuk hadir di Vihara untuk melakukan puja. Jika kita tidak memiliki kerelaan waktu maka tidak mungkin kita akan datang ke Vihara untuk puja bakti.
2. Tenaga;
Kerelaan tenaga untuk kerjabakti, gotong-royong, membantu mereka yang kesulitan. Semua orang memiliki fisik dan pasti memiliki tenaga. Tenaga juga dapat digunakan untuk kebajikan, untuk mengembangkan kerelaan.
3. Memberi maaf;
Memberi maaf adalah juga bentuk kerelaan. Kita tidak dapat memberikan maaf kepada orang lain karena ego. Aku yang dilukai, aku yang disakiti, kau membuat aku tidak nyaman; itulah ego. Melepas / merelakan ego ini tidaklah mudah. Maka itulah memberi maaf juga merupakan kerelaan.


Penghalang Dāna / Kerelaan

Sering dikatakan bahwa Dāna adalah bentuk kebajikan yang paling mudah dilakukan. Tetapi pada prakteknya tidak semudah itu, mengapa? Karena ada penghalang yaitu Macchariya (Kekikiran).
Macchariya (Kekikiran) adalah sifat kikir / sulit untuk berbagi karena kemelekatan yang menganggap bahwa materi ini milik saya, saya yang telah bersusah payah, saya yang telah berjuang untuk mendapatkannya. Kekikiran terjadi karena rasa memiliki yang sangat tinggi. Sikap memiliki yang sangat kuat ini harus dikikis dengan cara mengalahkan kekikiran dengan kerelaan. Kita mengembangkan kerelaan untuk mengikis kekikiran secara bertahap sedikit demi sedikit. Untuk dapat memiliki kerelaan yang tinggi melalui sebuah proses bertahap mulai dari yang kecil dan dilakukan berulang-ulang sehingga timbul kenyamanan untuk memberikan yang lebih dari sebelumnya. Dengan demikian Macchariya (Kekikiran) akan terkikis.

Ketika kita dapat mempraktekkan Kerelaan baik yang bersifat materi maupun yang non materi maka kita akan senantiasa melakukannya dengan mudah tanpa diajak, tanpa didorong, dan tanpa dipaksa. Orang yang terbiasa mempraktekkan Kerelaan, ketika ada peluang maka orang tersebut secara spontan akan langsung melakukannya.

Sebaliknya jika yang kuat adalah sifat kikirnya maka akan sangat sulit sekali untuk berbagi waktunya, tenaganya, pemikirannya, apalagi materinya. Terkadang orang yang kikir jangankan untuk orang lain, bahkan untuk dirinya sendiri pun diperhitungkan. Sifat kikir itu sesungguhnya sangat berbahaya. Bukan menjadi bahagia tetapi sebaliknya justru menderita.

Kerelaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan, untuk mewujudkan impian. Kerelaan merupakan dasar untuk mendapatkan harapan dalam kehidupan ini. Kerelaan merupakan pintu masuk untuk praktek Dhamma yang lebih tinggi. Oleh karena itu di dalam Maṅgala Sutta disyairkan Dānañca dilanjutkan dengan dhammacariyā ca yaitu Mengembangkan Kerelaan dilanjutkan dengan Praktek Dhamma. Praktek Dhamma ini mengacu kepada Sīla dan Bhavana. Untuk dapat praktek Sīla dan Bhavana diperlukan Dāna (Kerelaan). Bhavana (pengembangan batin) akan sulit dilakukan jika tanpa adanya kerelaan, tanpa adanya kebajikan sebagai dasarnya.

Beberapa orang mungkin berpandangan bahwa jalan menuju pencerahan adalah dengan meditasi setiap hari dengan jangka waktu yang lama per-sesi. Kembali kepada perjalanan Sang Buddha, ketika Beliau menjadi Bodhisatta kemudian mencapai ke-Buddha-an; apa yang telah dikembangkan? Dasa Pāramīta diantaranya adalah Dāna. Kalau tidak ada ”Pāramī” yang menjadi dasar maka akan sulit untuk mencapai ke-Buddha-an. Tanpa kerelaan maka sulit untuk praktek yang lebih tinggi.

Meditasi Samatha Bhavana dan Vipassana Bhavana mengarahkan kita kepada ketenangan dan kebijaksanaan. Tetapi juga harus dilengkapi dengan kebajikan-kebajikan lainnya yaitu Dāna dan Sīla. Jadi kita hendaknya belajar Dhamma secara utuh, tidak sepenggal-sepenggal sehingga menimbulkan pandangan-pandangan yang keliru terhadap Dhamma.

Kaitan kerelaan dengan pencapaian, disebutkan dalam Nindhikaṇda Sutta bahwa kekayaan-kekayaan maupun pencapaian-pencapaian di dalam kehidupan ini; semua karena kebajikan, diantaranya adalah kerelaan. Kerelaan menjadi dasar. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempraktekkan kerelaan setiap ada peluang. Kerelaan juga harus didasari dengan ke-ikhlas-an dan ketulusan. Jika tidak ikhlas-tidak tulus biasanya mudah kecewa; jika sudah kecewa biasanya berhenti untuk mengembangkan kerelaan. Banyak orang menjadi kecewa karena tidak ikhlas-tidak tulus. Mengapa tidak ikhlas-tidak tulus?? Karena selalu memikirkan ‘bonus’ nya; rejeki, umur panjang, kesehatan, dikenal, dipuji, dan lain sebagainya. Jika berbuat baik dengan memikirkan bonus-nya maka akan kecewa; tetapi jika kembali kepada tujuan utama bahwa semua perbuatan baik termasuk kerelaan itu adalah dasar untuk pembebasan. Membebaskan diri kita dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Membebaskan kita dari sifat kikir. Mengapa masih ada sifat kikir? Karena masih ada Lobha (keserakahan) maka muncul kekikiran, kemelekatan, iri hati, dan sebagainya. Itulah tujuan utama kita.

Adalah wajar kita memiliki harapan agar setelah berbuat kebajikan, rejeki kita menjadi lancar. Tetapi harus kita ingat bahwa kehidupan ini berjalan tidak seperti yang kita inginkan. Kita harus ingat bahwa kehidupan kita bukan hanya kehidupan kali ini saja, tetapi juga banyak kehidupan-kehidupan yang lampau. Oleh karena itu jika dalam kehidupan saat ini kita mendapatkan ketidaknyamanan, mengalami hal-hal yang menyulitkan bukan berarti perbuatan baik kita / kerelaan yang telah kita lakukan tidak ada manfaatnya. Semua perbuatan baik termasuk kerelaan kita pasti akan memberikan manfaat, hanya saja tidak langsung berbuah saat ini juga; mungkin terkadang kita masih harus “bayar hutang” atas masa lalu kita. Inilah pentingnya pemahaman Dhamma sehingga tidak timbul kekecewaan. Ketika mengembangkan kerelaan harus diikuti dengan ketulusan dan pengertian benar agar kita tidak kecewa, agar kita tidak berhenti untuk berbuat baik, agar kita dapat terus melanjutkan pengembangan kerelaan. Kerelaan terlihat sangat mendasar namun sebenarnya dibutuhkan pendampingan berupa ketulusan.

Semoga kita terus termotivasi untuk mengembangkan kerelaan karena kerelaan itu sangat penting dalam kehidupan ini. Kerelaan adalah pintu masuk, pintu gerbang untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih tinggi. Kembangkan kerelaan disertai dengan keyakinan, ketulusan, dan pengertian yang benar.

Semoga pesan Dhamma ini dapat menjadi motivasi, menjadi perenungan bagi kita semua sehingga kita semua dapat terus maju dalam pengembangan Dāna (kerelaan).

Semoga Tiratana melindungi.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Mengatasi Kebencian

access_time02 September 2022 - 12:05:57 WIB pageview 569 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Na hi verena verāni,sammantīdha kudācanaṃ;Averena ca sammanti,esa dhammo sanantano. Sesungguhnya dengan kebencian,kebencian tidak ... [Selengkapnya]

Menyelesaikan Masalah Melalui Dhamma

access_time24 Agustus 2022 - 22:02:46 WIB pageview 662 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Berbicara tentang kehidupan, semua dari kita pasti punya masalah. Siapa yang tidak punya masalah di dunia ini? Selama dilahirkan pasti ... [Selengkapnya]

Tisarana

access_time19 Agustus 2022 - 08:46:00 WIB pageview 561 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Puññañ ce puriso kayirākayirāth’enaṁ punappunaṁtamhi chandaṁ kayirāthasukho puññassa ... [Selengkapnya]

Kebencian dan Solusinya

access_time01 Desember 2020 - 13:09:15 WIB pageview 7116 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁti.Mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, Itulah Berkah Utama. Pada kesempatan ... [Selengkapnya]

Perayaan Sangha Dana di Bulan Kathina 2564 BE / 2020

access_time09 Oktober 2020 - 00:56:25 WIB pageview 7058 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Dānañca dhammacariyā ca etammaṅgalamuttamaṁti. Perayaan Saṅgha dāna di tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu