Berita / Ceramah

Kebencian dan Solusinya


Puja Bakti Umum
Vihara Sasana Subhasita
Minggu, 29 November 2020
Dhammadesanā: YM. Bhikkhu Hemadhammo Thera
Tema Dhamma: Kebencian dan Solusinya
Penulis & Editor: Lij Lij


Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Kālena dhammassavanaṁ Etammaṅgalamuttamaṁti.
Mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, Itulah Berkah Utama.


Pada kesempatan ini bersama-sama menggunakan kesempatan - peluang untuk berbuat baik, dengan hadir di Vihāra melakukan puja bakti sebagai salah satu cara untuk mengembangkan batin kita ke arah yang lebih baik sekaligus untuk menambah kebajikan kita. Karena saat puja bakti inilah kita mengisi hal-hal baik melalui ucapan kita, melalui pikiran kita dan juga melalui perbuatan kita. Dari 'tiga pintu’ yang kita miliki, semua diarahkan ke arah yang baik. Pada saat puja bakti ini kita mengarahkan ‘pintu-pintu’ yang kita miliki ke arah yang baik.

Melengkapi kebajikan yang kita lakukan dalam puja bakti dengan mendengarkan Dhamma. Dikatakan mendengarkan Dhamma adalah suatu berkah, satu kondisi yang mengarah kepada kebahagiaan; karena pada saat kita mendengarkan Dhamma maka kita akan mengetahui hal-hal yang belum pernah kita ketahui sehingga menambah pengetahuan Dhamma. Saat kita mendengarkan Dhamma, kita membuka wawasan kita melalui pendengaran sehingga wawasan kita – pengertian kita tentang Dhamma semakin bertambah.
Kalau memang sudah pernah mendengar Dhamma yang disampaikan tentu dengan mendengarkannya kembali membuat ingatan kita menjadi lebih jelas. Kadang kala kita ini banyak lupanya sehingga kalau mendengar ulang maka kita akan teringat kembali dan menjadi lebih jelas. Dengan semakin jelas mendengar ulang Dhamma yang sudah pernah di dengar membuat kita menjadi tidak ragu-ragu lagi terhadap Dhamma itu sendiri, kita akan semakin yakin karena kita sudah sering mendengar hal yang sama. Dengan tidak adanya keragu-raguan membuat pengertian kita menjadi jelas, pengertian kita menjadi lurus. Dan bila kita dapat menyimak Dhamma dengan baik, dengan penuh perhatian maka akan memunculkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang diperoleh dari mendengar Dhamma, tidak memerlukan waktu yang lama menunggu kebahagiaan datang. Jika kita menyimak dengan baik maka setelah selesai mendengarkan Dhamma maka kita akan bahagia.

Inilah manfaat yang diperoleh dari menyimak - mendengarkan Dhamma. Penting sekali bagi kita untuk belajar Dhamma. Teori-teori Dhamma perlu kita pelajari baik dari mendengarkan uraian Dhamma secara langsung maupun melalui buku-buku Dhamma karena Dhamma yang kita pelajari – Pariyatti ini adalah sebagai pedoman untuk kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga hidup kita selalu sesuai dengan Dhamma, tidak melenceng dari Dhamma.

Dalam kesempatan pagi hari ini akan membahas mengenai solusi kebencian atau kebencian dan solusinya. Bagaimana kita menyelesaikan kebencian-kebencian yang ada terutama di dalam batin kita.

Kebencian atau dalam Bahasa Pali disebut Dosa adalah salah satu dari tiga akar keburukan – salah satu dari tiga akar kejahatan yang ada di dalam batin semua makhluk yang belum mencapai kesucian. Dosa atau kebencian ini adalah satu hal yang merusak, satu hal yang menghancurkan; dosa adalah sumber dari masalah; baik itu masalah yang kecil maupun masalah yang besar. Kebencian ini memiliki pasukan berupa: kemarahan, dendam, iri hati, rasa ingin menyakiti - ingin membuat orang lain menderita / sengsara.

Apabila seseorang sedang dikuasai oleh kebencian, kemarahan, irihati, dendam, rasa ingin menyakiti maka akan menimbulkan baik itu masalah kecil maupun masalah besar.
Masalah kecil misalnya dalam lingkungan keluarga; ketika salah satu anggota keluarga dikuasai oleh kebencian dan pasukannya maka keluarga tersebut tidak akan damai, terjadi percekcokan maupun keributan-keributan.
Demikian halnya masalah besar seperti terjadinya perang antara satu negara dengan negara lain juga biasanya dipicu oleh kebencian, dendam maupun irihati.

Inilah maka dikatakan bahwa kebencian menyebabkan masalah; baik masalah kecil maupun masalah besar. Sangatlah berbahaya jika kebencian ini dibiarkan. Ketika dunia dikuasai oleh kebencian, dendam, irihati, kemarahan, cemburu, ketidaksukaan maka tentu akan menderita. Kita semua tentu sudah atau bahkan sering mengalami penderitaan tersebut.

Cobalah kita amati batin kita masing-masing. Ketika sedang dikuasai kebencian, kemarahan, dendam, irihati; apa yang kita rasakan di dalam batin kita? Panas atau sejuk? Terasa panas membakar bukan? Panas di batin membakar, menyerang diri sendiri, terasa menyiksa dan menyesakkan. Kebencian membawa pada penderitaan.
Lebih jauh lagi, apabila seseorang dikuasai oleh kebencian terus menerus, dendam terus menerus sampai pada saatnya orang tersebut meninggal maka dia akan jatuh ke dalam neraka.

Di dalam Itivuttaka dijelaskan bahwa sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan terlahir di alam neraka karena kekuatan dari dosa – kebencian. Jadi kebencian cs sangatlah berbahaya. Akibat yang dihasilkan dari kebencian cs ini luar biasa, penderitaan di dalam kehidupan ini juga penderitaan di kehidupan berikutnya.


BOBOT KEBENCIAN
Mutu atau bobot dari kebencian dapat dibedakan menjadi 3:
1. Rendah
Orang yang memiliki kebencian dengan bobot yang rendah diibaratkan seperti orang yang menggaris di atas air. Jadi air yang digaris ini hanya sebentar beriak kemudian menyatu lagi; artinya kebencian / kemarahan yang dialami hanya sesaat saja segera mereda (dalam hitungan menit).
2. Menengah
Diibaratkan seperti orang yang menggaris di atas pasir. Jika kita menggaris di atas pasir maka akan bertahan agak lama; sekitar beberapa jam sampai beberapa hari. Kualitas kebencian / kemarahan seseorang bertahan tidak terlalu lama mungkin 1-2 jam atau paling lama 1 hari.
3. Berat
Seumpama orang mengukir diatas batu; akan bertahan sangat lama, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Adalah kualitas kebenciannya sangat berat, bertahan luar biasa bahkan sampai meninggal. Inilah yang sangat-sangat berbahaya yang mengakibatkan orang yang membenci luar biasa tersebut terlahir di alam rendah yaitu alam neraka.


PENYEBAB KEBENCIAN
Abhidhamma mendefinisikan bahwa kemunculan Kebencian (Dosa) selalu disertai oleh perasaan tidak senang terhadap objek apapun yang ditangkap oleh salah satu dari enam indria – mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan batin.

Penyebab dari kebencian adalah tidak adanya SATI – tidak ada perhatian penuh saat indera-indera kontak dengan objek yang menimbulkan perasaan. Saat indera-indera kita kontak dengan sesuatu atau dengan objek yang tidak menyenangkan sehingga menimbulkan perasaan.
Kalau di dalam perasaan ini tidak ada perhatian penuh maka inilah yang dapat menyebabkan terjadinya kemarahan, kebencian, ketidaksukaan. Jadi karena indera-indera kita ini yang kontak dengan objek yang tidak menyenangkan tanpa ada perhatian penuh sehingga menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan yang kemudian berkembang menjadi kebencian, kemarahan, ketidaksukaan.

Dari indera mata kita kontak dengan objek yang tidak menyenangkan, sesuatu yang kita lihat yang tidak menyenangkan sehingga menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan pula; dan menjadi pemicu kemunculan kemarahan dan kebencian.
Contoh: seorang ibu yang melihat anaknya bermain mengotori rumah; karena kontak mata ibu melihat objek yang tidak menyenangkan maka timbul perasaan tidak suka sehingga menimbulkan kemarahan karena melihat ‘yang berantakan’ tersebut. Karena tidak ada perhatian – tidak ada sati disana terjadilah luapan kemarahan melalui ucapan berupa omelan-omelan.

Begitu juga dengan indera telinga ketika kontak dengan suara-suara yang tidak menyenangkan akan menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan pula. Ketika selentingan negatif kontak dengan indera telinga, menimbulkan kemarahan, ketidaksukaan.
Indera lainnya; indera hidung kontak dengan objek berupa bau-bauan yang tidak menyenangkan; juga dapat menimbulkan kebencian, kemarahan, ketidaksukaan. Saat berjalan melintasi tempat pembuangan sampah ketika indera hidung kontak dengan bau tidak sedap timbul ketidaksukaan, kemarahan karena disana tidak ada perhatian penuh.
Indera lidah kontak dengan rasa yang tidak menyenangkan / tidak enak; juga dapat menimbulkan kemarahan, kebencian, ketidaksukaan.
Demikian pula dengan indera tubuh ketika menyentuh hal-hal yang tidak menyenangkan.

Jadi sesungguhnya sumber dari kebencian, kemarahan, ketidaksukaan adalah karena tidak ada perhatian penuh ketika indera-indera ini kontak dengan objek terutama objek yang tidak menyenangkan. Inilah hal yang menyebabkan kebencian atau kemarahan itu terjadi.


SOLUSI KEBENCIAN
Lalu apa solusi dari kebencian ini? Bagaimana cara mengatasi kebencian?
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebencian ini antara lain :
1. Memiliki SATI – Perhatian Penuh
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa penyebab dari kebencian adalah karena tidak adanya perhatian penuh maka oleh karenanya kita harus meningkatkan Sati kita sehingga saat indera-indera kita kontak dengan objek-objek yang tidak menyenangkan, objek-objek yang tidak indah, yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dapat segera diketahui; terdeteksi cepat dengan adanya perhatian penuh sehingga kebijaksanaan akan berkembang mengamati bahwa yang tidak menyenangkan tersebut hanyalah objek di luar diri kita yang tidak sepantasnya membuat kita marah. Dengan perhatian penuh, perhatian yang dipenuhi dengan kebijaksanaan maka kemarahan tidak akan terjadi. Inilah mengapa perlu dikembangkan Sati yaitu agar kebencian ataupun kemarahan tidak berkembang.

2. Dengan mengembangkan METTĀ – Cinta Kasih
Seperti yang sering kita dengar bahwa kebencian tidak akan berakhir jika dibalas dengan kebencian; kebencian hanya akan berakhir jika dibalas dengan tidak membenci. Tidak membenci ini adalah Mettā – cinta kasih. Bila seseorang diliputi dengan mettā, batinnya diliputi dengan cinta kasih maka tentu dia tidak akan memiliki kebencian, tentu tidak ada kemarahan, tentu tidak ada dendam, tentu tidak ada rasa ingin menyakiti. Jadi cinta kasih ini perlu ditumbuhkan di dalam batin kita agar kebencian – kemarahan lenyap dari batin kita. Bagaimana kita mengembangkan cinta kasih?
Cara mengembangkan Mettā – cinta kasih seperti yang ada paritta Brahmavihāra-pharaṇa bagian Mettā:

Ahaṁ sukhito homi. Niddukkho homi. Avero homi. Abyāpajjho homi. Anīgho homi. Sukhī attānaṁ pariharāmi.

Semoga aku berbahagia. Bebas dari derita. Bebas dari mendengki dan didengki. Bebas dari menyakiti dan disakiti. Bebas dari derita jasmani dan batin. Semoga aku dapat menjalankan hidup dengan bahagia.

Mengembangkan cinta kasih bukan hanya dengan mengucapkan “semoga semua makhluk berbahagia” berulang-ulang; mengembangkan cinta kasih itu harus dimunculkan dari dalam batin kita terlebih dahulu. Munculkan cinta kasih di dalam batin kita terlebih dahulu, barulah kemudian dapat dikembangkan dengan mengharapkan semua makhluk berbahagia.
Maka untuk memunculkan cinta kasih ini, adalah seperti syair dalam Brahmavihāra-pharaṇa; kembangkan cinta kasih untuk diri sendiri terlebih dahulu. Sambil mengulang-ngulang syair “Semoga aku berbahagia. Bebas dari derita. Bebas dari mendengki dan didengki. Bebas dari menyakiti dan disakiti. Bebas dari derita jasmani dan batin. Semoga aku dapat menjalankan hidup dengan bahagia.”

Itulah yang pertama-tama harus dimantapkan di dalam batin. Sambil mengulang syair tersebut kemudian diarahkan ke dalam batin. Bagaimana rasanya orang bahagia itu? Bahagia disini adalah bebas dari derita maka harus menghilangkan kebencian yaitu mendengki – menyakiti. Jadi kita rasakan kalau batin kita bebas dari mendengki, bebas dari menyakiti itu bagaimana rasanya? Dirasakan… benar-benar tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian. Itulah yang perlu kita ulang-ulang sambil mengarahkan ke dalam batin dan merasakan batin yang terasa bebas dari mendengki, batin yang terbebas dari menyakiti. Disitulah ketika telah hilang rasa mendengki, rasa menyakiti sebagai kata lain dari kebencian; dengan tidak adanya itu maka itulah kebahagiaan, bentuk cinta kasih kita kepada diri sendiri. Setelah hal itu muncul dalam batin kita, barulah kita pancarkan untuk semua makhluk.
Seperti itulah bagaimana cara mengembangkan Mettā – jadi bukan hanya sekedar pengulangan-pengulangan kalimat ‘semoga semua makhluk berbahagia’ sementara pikiran masih ruwet penuh dendam, masih mengingat orang-orang yang menyakiti. Jadi Mettā itu harus diarahkan ke diri sendiri terlebih dahulu, hilangkan dulu kebencian di dalam batin, rasa dengki, rasa menyakiti harus dihilangkan barulah dapat mengembangkan Mettā kepada semua makhluk.

3. Mengembangkan KHANTĪ – Kesabaran
Sabar adalah mampu menahan, menekan, menerima suatu keberadaan dengan penuh pengertian. Jadi orang yang sabar adalah orang yang mampu menahan, mampu menekan, mampu menerima suatu keadaan - keberadaan dengan penuh pengertian. Misalkan yang dicontohkan sebelumnya ketika seorang Ibu melihat anaknya mengotori rumah, jika ada kesabaran disana maka ibu tersebut tidak akan ‘mengomel’ karena sabar itu mampu menahan, mampu menekan, mampu menerima keberadaan; ada pengertian “namanya juga anak-anak, wajar karena masih kecil masih susah untuk dikasih tau” itulah pengertian. Mampu menerima kenyataan dengan pengertian, ada pemahaman disana.

4. Merenungkan Dhamma yang pernah di pelajari
Ketika ada orang yang menyakiti kita, membuat kita menderita tidak sepatutnya kita membalas tetapi munculkan perenungan Dhamma tentang Hukum Kamma bahwa ‘dia sedang menanam, menanam bibit keburukan akan berbuah penderitaan; jika saya membalasnya maka saya dan dia tidak ada bedanya, sama-sama menanam keburukan, sama-sama akan menderita’. Renungkanlah tentang Hukum Kamma sehingga kebencian – kemarahan akan mereda.

5. Mengalihkan perhatian dari hal buruk kepada hal yang baik
Saat berhadapan dengan orang yang membuat kita marah, munculkan ingatan kebajikan dari orang tersebut sehingga dapat meredam kemarahan kita. Jangan lihat keburukannya tetapi carilah kebaikannya sehingga akan membantu meredam kebencian dan kemarahan. Sebaliknya jika kita terus mengingat keburukan-keburukannya maka akan seperti menyiram bensin pada api yang sedang menyala; kemarahan dan kebencian akan semakin meluap-luap.

Inilah cara-cara yang dapat dipakai untuk mengatasi kebencian; dengan meningkatkan Sati, dengan mengembangkan Mettā, dengan adanya kesabaran, dengan mengingat Ajaran-ajaran Sang Buddha salah satunya tentang Hukum Kamma, dan mengalihkan perhatian dari hal-hal buruk ke hal-hal yang baik; sebagai solusi mengatasi kebencian atau kemarahan. Hendaknya kita berusaha untuk mengembangkan kelima hal ini sehingga kita tidak lagi dikuasai oleh kebencian, kemarahan, dendam karena kebencian cs ini sangatlah berbahaya yang tidak hanya membuat kita menderita di dalam kehidupan ini tetapi juga akan mengantarkan kita ke alam sengsara di kehidupan berikutnya.

Berusahalah untuk mengikis dan melenyapkan kebencian cs di dalam batin sehingga akan tercipta kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan.
Semoga apa yang telah disampaikan ini dapat membuat kita semangat untuk terus berlatih menjadi orang yang terbebas dari kebencian dan kemarahan.

Demikian pengulangan Dhamma yang telah disampaikan.
Semoga kita semua mendapatkan manfaat tertinggi dari pengulangan Dhamma ini.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Sādhu, sādhu, sādhu.




Related Postview all

Perayaan Sangha Dana di Bulan Kathina 2564 BE / 2020

access_time09 Oktober 2020 - 00:56:25 WIB pageview 532 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Dānañca dhammacariyā ca etammaṅgalamuttamaṁti. Perayaan Saṅgha dāna di tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun ... [Selengkapnya]

Lima Kekuatan Dalam Kebajikan di Masa Covid-19

access_time07 September 2020 - 01:12:26 WIB pageview 408 views

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah hari libur nasional di Indonesia untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setiap tahun pada ... [Selengkapnya]

6 Kualitas Yang Mengarah pada Ketidak-munduran

access_time03 September 2020 - 00:16:28 WIB pageview 479 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)   “Suvijāno bhavaṃ hoti, suvijāno parābhavo; Dhammakāmo bhavaṃ hoti, dhammadessī ... [Selengkapnya]

PATTIDĀNA 2020 - Vihara Sasana Subhasita

access_time25 Agustus 2020 - 00:02:55 WIB pageview 473 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (3x) Idaṁ vo ñātinaṁ hotuSukhitā hontu ... [Selengkapnya]

Petunjuk Jalan Hidup Sebagai Manusia

access_time06 Juli 2020 - 00:26:45 WIB pageview 558 views

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x) Sebagaimana kita semua ketahui adalah sungguh beruntung kita terlahir sebagai manusia, jadi manusia yang baik, sering ke vihara, sering ... [Selengkapnya]

menu SASANA SUBHASITA
menu